Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjelaskan program kerja di periode kedua pemerintahan Joko Widodo. Foto: Medcom.id/Fajar Nugraha
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjelaskan program kerja di periode kedua pemerintahan Joko Widodo. Foto: Medcom.id/Fajar Nugraha

Arah Baru Diplomasi Indonesia di Tangan Retno Marsudi

Internasional kemenlu menlu retno lp marsudi
Marcheilla Ariesta, Abdul Kohar • 15 November 2019 13:37
Jakarta: Politik luar negeri Indonesia berada di tangan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang kembali dipilih oleh Presiden Joko Widodo di periode kedua pemerintahannya.
 
Apakah ada perubahan besar dalam kebijakan luar negeri Indonesia dalam periode kedua ini. Medcom.id berkesempatan berbicara langsung dengan Menlu Retno Marsudi pada, Rabu, 13 November 2019.
 
Berbagai visi dan misi untuk periode kedua dipaparkan oleh Menlu Retno. Berikut wawancaranya:

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Anda dipercaya kembali oleh Pak Jokowi tentunya ada alasan menerima kembali pekerjaan ini. Apa alasan paling prinsip?
 
Ingin berkontribusi karena saya melihat ini amanah, ini tanggung jawab dan melalui pekerjaan yang memang sudah menjadi pekerjaan saya. Karena saya karier diplomat sudah bekerja dengan Kementerian Luar Negeri sejak 33 tahun yang lalu. Jadi kita bisa memberikan sesuatu kepada bangsa dan dunia kebetulan karena faktor luar negeri yaitu enggak cuma dalam lingkup satu negara tapi bisa sekaligus gede.
 
Ada tidak yang membuat Anda sangat gemas dengan ada hal yang belum diselesaikan di periode pertama dan ditantang Presiden Jokowi untuk menyelesaikan tantangan lain?
 
Kalau hal-hal yang menjadikan bisa selesai ada di tangan kita itu mudah, tetapi banyak sekali hal yang diluar our control. kalau kita bicara mengenai perdamaian di Afghanistan. Indonesia ikut berkontribusi dalam membuat perdamaian di Afghanistan itu diminta oleh Presiden Afghanistan maupun Presiden Jokowi mereka memberikan arahan supaya saya tindaklanjuti dan kita inginnya cepat selesai karena mereka sudah berkonflik lebih dari 40 tahun.
 
Elemen yang mempengaruhi kesuksesan itu kan banyak sekali dan complicated serta sensitif dan sebagian besar dari variabel itu ada di luar kontrol kita.
 
Afghanistan sepertinya sangat mempercayai Indonesia sebagai pihak yang membuat narasi atau memoderatori konflik di sana, sejauh ini langkah awal yang sudah mendekati kira-kira menuju pintu perdamaian apa?
 
Jadi begini Kalau kita mau berkontribusi atau mungkin kalimat enaknya bermain kita harus tahu lapangan di mana kita bermain. Katakanlah kalau di lapangan itu pemainnya udah banyak sekali dan pemainnya gajah-gajah kita nggak usah masuk karena nggak akan kelihatan.
 
Kita lihat lapangan yang sangat menentukan, lapangan utama akan berhasil atau tidak yang disitu kita punya kredensial. Kita akan dilihat.
 
Kalau kita bicara main track negosiasi ada beberapa hal besar. Pembicaraan antara Amerika dengan Taliban itu yang akan mengatur penarikan mundur dan sebagainya tapi itu dibahas sama mereka. Terus kemudian nantinya setelah ini selesai akan ada Inter Afghan Dialogue antara negara Afghanistan baik dari sisi pemerintah, stakeholders lain, Taliban dan sebagainya. Nah yang ingin bermain di situ juga banyak banget.
 
Kita berkontribusi (tetapi) saya belum mau masuk ke Jalan besarnya. Saya membangun building blocks tetapi Jalan besar tersebut lalu lintasnya akan sangat terbantu kalau building blocksnya ini ada main track (jalur utama) nya. Misalnya pertemuan mengenai pertemuan trilateral ulama pada 2018. Terus kita juga di setiap pertemuan mengenai Afghanistan, inisiatif Indonesia selalu disebut baik oleh pihak Afghanistan maupun pihak lain dan mereka melihat pesan yang dikeluarkan saat itu adalah stop violence (menghentikan kekerasan).
 
Nah sekarang ini kita sedang dalam proses mempersiapkan dua building blocks. Satu adalah mengenai masalah perempuan satu lagi adalah mengenai ulama juga, tetapi pesan nantinya adalah pertemuan ulama ini akan mendukung proses negosiasi jadi dia ikut menyangga gitulah.
 
Plus kita tahu mengenai masalah pemberdayaan itu terus kita lakukan. Kita bicara dengan Afghanistan untuk perkuatan sumber daya manusianya, kamu perlu apa mereka bilang saya perlu orang yang dididik di bidang energi dan mining (tambang). Waktu itu di terminal pertama saya bertanya ke ‘(mantan Menteri ESDM) Pak Jonan, Mas bisa enggak jadi jawabnya Oh bisa mbak yu’. Kemudian kita datangkan 100 orang Afghanistan yang bekerja di bidang tambang dan energi yang dididik di Indonesia 12 diantaranya perempuan. Jadi selain kita mendidik expertise-nya (kemampuan) sekaligus empowerment of women (penguatan perempuan) nya jalan.
 
Kemudian kita juga mendidik beberapa anak SMA dibawa ke sini untuk melihat ‘ini loh Indonesia kita mayoritas muslim tetapi kita hidup di dalam negara yang multikultural, multi agama dan beginilah cara kita hidup’.
 
Jadi waktu mengenai perempuan, ketika saya mau membuat pertemuan tentang perempuan, para menteri luar negeri langsung telepon ‘Bu Retno aku joint dong karena itu penting sekali, karena kita mau tahu apa yang dialami para perempuan Afghanistan itu, khususnya apabila terjadi perdamaian.
 
Kemarin ada yang kekhawatiran ketika pasukan AS ditarik dan pengaruh Taliban terhadap perempuan di sana bagaimana?
 
Kita juga bicara dengan Taliban. Selain itu kita melakukan komunikasi dengan semua pihak terkait baik terkait pihak diluar maksudnya dengan Amerika, dengan special envoy (utusan khusus) Uni Eropa, Jerman, Norwegia yang banyak ikut.
 
Jadi dengan semua negara yang memiliki keterkaitan dengan isu itu kita berbicara, plus para pihak di dalam kita bicara dengan Taliban, pemerintah, ulama, kita bicara sehingga ada kepercayaan. Kepercayaan ini penting sekali dan saya juga bicara dengan Taliban mengenai masalah inisiatif-inisiatif ini saya bicarakan dengan mereka.
 
Respons Taliban?
 
Mereka tidak menolak. Jadi banyak yang di luar kontrol, ya apa boleh buat.
 

Arah Baru Diplomasi Indonesia di Tangan Retno Marsudi
 

Pak Jokowi sedang giat-giatnya membuat Indonesia bermain di diplomasi ekonomi. Pada titik itu banyak yang kritik keikutsertaan Indonesia, termasuk meragukan kemampuan Indonesia. Apakah seperti itu?

 
Saya kira beberapa hari yang lalu yang disampaikan presiden secara terbuka dalam artian begini, kalau mau pertumbuhan ekonomi kita lebih tinggi dari 5 persen dan sustainable serta stabil sehingga dengan pertumbuhan yang lebih tinggi, itu harapannya adalah keadilan semua orang atau lebih banyak orang yang menikmati pembangunan itu inklusif itu bisa merasakan.
 
Karena itu yang perlu dilakukan adalah ekspor yang lebih tinggi dan investasi yang lebih banyak.
 
Kalau promosi itu kan ada di hilir nah presiden banyak sekali melihat di hulunya. Tadi pagi presiden mengatakan exportcompetitiveness kita berpacu dengan banyak negara, kita hidup di dunia ini enggak cuma Indonesia. Sehingga kalau cuma Indonesia kita memproduksi barang sejelek apapun yang akan dibeli karena cuma kita doang tidak ada negara lain.
 
Sekarang orang memproduksi barang itu kalau bisa bagus harganya lebih murah itu yang menentukan competitiveness. berarti kita harus kompetitif. Misalnya dari segi harganya nya kalau ada hambatan tarif Kita maju diplomatnya maju, perundingannya yang maju untuk bernegosiasi.
 
Misalnya kita sudah promosi investasi, investornya datang ke sini itu yang dicontohkan Presiden sampai di sini ribet mulai birokrasi nya ribet. Makanya Presiden bilang sederhanakan semuanya, di negara manapun juga melakukan hal yang sama saya kira apa yang disampaikan presiden untuk berbenah makanya beliau mengatakan, lebih banyak pr-nya sebenarnya.
 
Apa yang kita promosikan di luar negeri sudah berjalan buktinya peminat sudah banyak dan kita sudah sampai di depan pintu ternyata jalan yang masih berliku.
 
Jadi Iya tadi ada pertemuan dengan kepala daerah untuk membahas bersama Bagaimana kita bisa maju bersama antara lain memang harus semuanya di simplifikasi kan dan kita melihat ada beberapa prioritas. Presiden sudah sampaikan Ayo coba akses kita ke pasar non tradisional diperbesar. Sudah dari sejak 2 atau 3 tahun yang lalu kita maju ke Afrika di backup oleh swasta, BUMN dan semuanya responsnya bagus.
 
Di hulu kita bilang kenal tarif tinggi untuk kelapa sawit. Kita bicara negara mana, kemudian berdialog. Jadi sinkronisasi dan itu harus diperkuat sinergi koordinasi di dalam (negeri dan luar. Semua harus diperkuat dan itu nggak bisa ditawar.
 
Dunia saat ini sedang bergerak ke arah deglobalisasi jadi masing-masing negara sudah memproteksi negaranya. Jadi kesepakatan-kesepakatan bersama juga banyak yang akhirnya mundur dari kesepakatan. Bagaimana Indonesia memandang itu? Misalnya peran kita di RCEP, Apakah pola seperti ini masih jalan terus?
 
Multilateralisme baik di dalam konsep politik maupun di dalam konsep ekonomi karena di dalam multilateralisme itu ada norma yang standar, yang harus dihormati. Di multilateralisme itu semua negara dihormati sama besar kecil dia sama. Karena kalau multilateralisme itu dihilangkan semuanya jadi tidak ada norma yang harus dihormati akhirnya yang akan terjadi main otot. Yang memiliki otot gede dia akan bisa mengimpulse akhirnya negara-negara kecil dan berkembang akan merugi.
 
Tapi kita sadar bahwa ada juga track yang bilateral yang perlu kita perkuat. Kita mengatakan multilateralisme tetapi kita tidak meninggalkan bilateral juga loh karena perundingan yang dilakukan secara bilateral juga banyak.
 
Tetapi kalau RCEP, kita sekali bicara itu jumlah penduduknya. Tiongkok aja sudah 1,6 miliar, India 1,3 miliar. Itu berarti sudah 3 miliar jiwa. ASEAN sudah 600 juta jiwa lebih belum lagi Australia, Jepang, Korea Selatan.
 
Kita pastikan adalah di setiap negosiasi kepada kepentingan nasional kita nggak boleh turun itu kuncinya. Saya sering sampaikan kiblat kita berdiplomasi itu selalu kepentingan nasional kita, tapi at the sentences negosiasi itu ada take and give, tapi nggak semua kita take ya, kalau give semua berarti negosiatornya nggak pandai. Kita akan ketemu titik temu yang tidak mengorbankan kepentingan nasional tetapi kita akan berkontribusi dalam konteks perdamaian-perdamaian Tapi kalau dalam konteks kesejahteraannya kesejahteraan.
 
Perang dagang belum ada tanda-tanda akan berakhir kemarin sempat disebutkan akan berakhir tapi disangkal Amerika perang tarif masih terjadi di mana-mana. Bagaimana Indonesia bisa mengambil keuntungan meskipun ini Tentu saja tidak disukai oleh negara yang sedang berperang Amerika terutama Bagaimana kita bisa menarik itu dalam posisi yang sekarang semakin Dahsyat ini?
 
Identifikasi ya jadi sejak isu itu muncul teman-teman di Washington DC di Beijing sudah mulai bergerak untuk membuat suatu assasment kira-kira apa yang dapat kita gunakan dalam situasi seperti ini. Tentunya situasi ini adalah situasi yang sebenarnya tidak akan menguntungkan siapapun baik yang berperang maupun yang ada di luar Kalau situasi terus berlanjut tidak ada solusi dan dunia ini kan rantai pasok semua saling berkaitan kalau misalnya satu barang yang diproduksi oleh Tiongkok yang diekspor ke Amerika dan tidak seluruh produk itu dibuat oleh Tiongkok.
 
Ada yang dibuat di Indonesia, Thailand dan kemudian dibuat di sana kalau barang ini tidak bisa diekspor atau bisa diekspor dengan tarif yang tidak kompetitif karena targetnya tinggi kan mereka jadi tidak bisa menjual sebanyak yang sebelumnya karena pada turun semua.
 
Sehingga agar barang dagang ini dapat segera diselesaikan. Alasan ekonomi lain adalah tumpang tindih yaitu dengan rivalitas politik, kalau sudah tumpang tindih dengan rivalitas ekonomi, tabrakan politik nggak menguntungkan sama sekali.
 
Kalau melihat situasi seperti ini pandangan bermain kapan bisa segera menemukan akhirnya?
 
Saya kira antara Amerika dengan Tiongkok mereka berusaha keras buktinya mereka mengirim tim walaupun belum berhasil, itu another story. Tapi buktinya mereka mengirim komunikasi terus bertemu berarti upaya mereka untuk menyelesaikan cukup besar dan saya yakin akan tetap besar, saya yakin kok mereka tidak akan mau perang dagang ini merusak semuanya dan pastinya mereka juga akan ikut terkena.
 
Kalau sawit Ibu sempat bicara singgung sedikit. Masyarakat Indonesia kan sudah menanti-nanti. Kalau negosiasi sampai sekarang Tahap terakhir seperti apa?
 
Kalau dalam konteks Uni Eropa itu kan directive-nya sudah ada itu. Kita sampaikan bahwa diskriminatif. Sekarang kita sedang menegosiasikan Indonesia-Uni Eropa CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement).
 
Sekarang urusan sawit itu harus ada, karena sawit itu salah satu komoditas utama kita, uang kita, pundi-pundi kita. Banyak yang dihasilkan dari perdagangan kita mengenai sawit jadi kita harus memastikan bahwa sawit itu (masuk dalam negosiasi CEPA itu).
 
Tapi in the mean time kita tidak hanya menuju satu pasar di Uni Eropa karena kalau dilihat menari presentasi total ekspor sawit kita keluar Uni Eropa itu maksimal 20 persen, masih ada 80 persen lain. 80 persen itu di situ ada pasar Tiongkok, India, Pakistan, Bangladesh dan macam-macam Nah itu kita coba secure (amankan). Plus presiden mengagendakan program B20, B30 dan sebagainya kalau itu bisa jalan tidak masalah kita jangan lupa bahwa kita punya aset. Salah satu aset kita pasar domestik yang besar. Tapi kita harus alert (waspada) jangan kebesaran ini hanya dijadikan pasar untuk orang lain.
 
Justru kebesaran ini kita pakai untuk leverage (pengaruh) kita sehingga setiap negosiasi yang membawa leverage ini sampai pada titik itu tidak semua negara memiliki leverage jumlah penduduk yang besar dengan kekuatan ekonomi yang stabil politik stabil kemudian orang yang berpenghasilan menengah juga lumayan dan sebagainya menggunakan leverage itu.
 
Ada yang menyatakan bahwa kita sudah jadi pasar dari bangsa lain tapi apakah sudah seperti itu?
 
Kita berusaha untuk tidak sekali lagi itu akan jadi berkaitan bukan tergantung tapi berkaitan dengan Seberapa jauh competitiveness in kita miliki. Saya ya di pertemuan sebelumnya presiden juga mengingatkan misalnya mengenai produk yang diperjualbelikan di online beliau itu sangat sensitif terhadap itu dan terus diingatkan tetapi misalnya begini kalau misalnya pacul harus diimpor pertanyaannya kenapa pacul harus diimpor dan itu harus diurai dan menurut saya kita tidak harus denial (menyangkal).
 
Semakin kita denial yang semakin lama kita tidak akan sadar dan tercepat berlari karena kalau kita denial itu maka kita akan berhenti sementara yang lain itu lari kencang jadi psychological barrier (halangan psikologis) bahwa nggak semuanya baik itu harus didapat. Harus berkompetisi mari kita harus berkompetisi.
 
Kita punya persoalan banyak salah satunya perlindungan WNI di luar negeri. Kemarin sempat ada pernyataan ingin apabila ada warga yang ingin keluar secara ilegal ke Suriah kemudian balik ke Indonesia, sejauh ini tanggapan Anda seperti apa?
 
Kita nggak cuma Kemlu saja, bekerjasama yang koordinasi tentunya Menkopolhukam. Intinya adalah kita sedang mencari informasi yang valid mengenai mereka (WNI di Suriah) itu siapa. Dalam arti tentunya harus dipastikan bahwa mereka warga negara mana karena udah carut-marut tidak karuan banyak yang pergi kemudian sudah tidak pegang paspor. Kemudian memegang paspor kewarganegaraan lain begitu di sana kisruh bingung itu semua harus dipastikan.
 
Minggu lalu Pak Suhardi (Kepala BNPT) bicara dengan saya ya dan informasi yang lebih detail sedang kita upayakan supaya dari situ kemudian ditentukan sikap.
 
Kematian pemimpin ISIS paling tidak sekarang ISIS di daerah sana sedang bermigrasi dan ini sudah fenomena beberapa tahun terakhir dan buktinya di kawasan Asia ini belum sepenuhnya secure. Di kita ternyata tetap harus waspada karena misalnya seperti tadi pagi kita saksikan masih ada di Medan bom bunuh diri model seperti apa sih yang harus kita lakukan untuk ini?
 
Jadi banyak sekali ya yang jelas ISIS yang mereka pergi yang mereka jadi fighter itu sebaiknya jelas kelihatan mereka bergerak dari satu tempat menuju ke Suriah dilatih. Itu kelihatan tetapi jangan lupa banyak kasus tanpa dia pernah menganalisis tanpa pernah bepergian ke Suriah dia menjadi radikal.
 
Jadi radikalisasi itu dilakukan secara online mereka lone wolf istilahnya mungkin yang di Medan itu juga lone wolf. Nah itu yang perlu kita pikir bagaimana prevent (mencegah) banyaknya orang yang terpapar radikalisme gerak ke Suriah dan sebagainya.
 
Tetapi kan cara-cara yang dilakukan tidak mungkin bertentangan dengan prinsip demokrasi misalnya kebebasan seperti cara yang dianggap tidak populer misalnya batasi penggunaan internet dan lain-lain apakah seperti ini memungkinkan untuk kita lakukan?
 
Harus ada menurut saya pertimbangannya. Saya rasa demokrasi sudah menjadi DNA Indonesia dan kita tidak mungkin mundur menjadi negara atau bangsa yang tidak demokrasi, tetapi pasti akan ada jalan tengah bagaimana kita mengimbangkan bagaimana antara demokrasi dan security (keamanan).
 
Seperti yang tadi saya sebutkan jangan lupa, ISIS is one thing tetapi lone wolf yang terpapar itu hanya karena internet jangan lupa itu kan belum suatu ilmu baru, strategi baru. Kalau pergi kan ini bisa dicegah ke luar atau mungkin untuk beberapa negara sudah dicegah tidak boleh masuk paspornya dicabut sudah kelihatan langkahnya.
 
Jadi tetap harus dicari pola-pola baru untuk mengatasi persoalan tantangan ini?
 
Iya karena polanya baru jenis ancaman metode yang baru kita harus lebih pintar.
 
Pada periode pertama, Anda sudah mengantarkan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB dan kemarin Dewan HAM PBB. Nah ini menjadi unik karena kita sempat disorot mengenai Papua tapi toh masyarakat internasional masih percaya bahwa Indonesia layak untuk menjadi anggota Dewan HAM PBB menurut Anda apa strategi yang akan dilakukan?
 
Saat kita mencalonkan itu kan negara lain orang tidak melihat di satu titik saja. Pasti mereka melihat rekam jejak selama ini seperti apa, jadi bukan hanya peristiwa terakhir. Katakanlah yang dikatakan di Papua bisa terjadi dimanapun mereka melihat track record kita Mereka melihat bagaimana Indonesia untuk memajukan HAM.
 
Semua orang tahu bahwa tidak ada satupun negara yang perfect (sempurna) dalam hal HAM dan semua orang tahu kita berusaha untuk terus memperbaiki perlindungan promosi hak asasi manusia. Bahkan di ASEAN misalnya publik internasional juga mencatat bahwa Indonesia adalah termasuk negara yang paling aktif untuk menyuarakan mengenai hak asasi manusia.
 
Terus yang kedua kita ingin saat bicara HAM, bukan HAM yang menakutkan ‘dalam artian kamu harus ini nanti kamu dihukum ini di UN’. Ada kerja sama dan Indonesia ikut dengan Uni Eropa itu adalah good story on Human Rights jadi hak asasi diambil dari segi positif. Sehingga setiap orang dalam berbagi pengalamannya itu tidak ketakutan tidak ada condemnation atau apa.
 
Kita atasi pelanggarannya tetapi ada cerita juga yang bagus mengenai masalah human rights. Jadi waktu September kemarin kita bicara mengenai masalah perempuan di Indonesia bagaimana perempuan di Indonesia maju hak-haknya dijamin. Tapi kita bisa tersenyum jadi kita ingin agar kerja sama diperbesar belum lagi kita ingin membantu negara-negara yang perlu dibantu pengembangan human rights. Misalnya ada katakanlah negara yang masih kurang sementara negara lain sudah pakai telunjuk. Indonesia (datang beri semangat) ‘kamu bisa maju loh, ayo kamu mau dibantu apa mari Indonesia bantu’. Nah spirit untuk memajukan human rights itu yang ingin kita usung sama dengan Bali Democracy Forum.
 
Prinsip demokrasi itu tidak semua negara diadaptasi dengan tersenyum. Ada yang saat bicara demokrasi sudah ketakutan, kalau demokrasi kita tersenyum karena tidak ada masalah. Tetapi dengan negara yang saat disebut demokrasi ketakutan dan sangat defensif kita bicaranya gini ayo kita kumpul kita bahas demokrasi. ‘Kamu cerita aja terus, kalau kamu punya keinginan untuk meningkatkan demokrasi apa yang bisa aku bantu ya datang mereka’. Jadi orang memiliki pengalaman demokrasi bermacam-macam tantangannya macam-macam, at the end (pada akhirnya) mereka mengatakan ada yang minta bantuan dalam persiapan pemilu. KPU kita cukup laku diundang sana-sini. Ayo kita bantu. Approach(pendekatan) seperti itu yang kita ambil.
 
Peran bridge builder(yang menjembatani) kita sebagai terbuka di ASEAN. Sekjen PBB secara terbuka mengatakan, sangat mengapresiasi peran Indonesia sebagai bridge builder selama Indonesia menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Kalimat ini kemudian juga masuk di publikasi kantornya PBB mengeluarkan berita dan itu dikeluarkan di situ jadi kita mengajak dunia ini untuk bersama-sama melihat wajah Indonesia bukan wajah menakutkan tetapi bersahabat.
 
Saat ini Anda suka tegas tapi juga suka rileks nah salah satu yang bikin rileks adalah musik. Tapi bandnya kan sudah bubar bagaimana itu?
 
Rileks nya masih. Kita masih suka komunikasi saya kan suka olahraga.
 
Jadi beralih ke olahraga?
 
Nggak beralih, karena dari dulu saya masih punya banyak sekali penyaluran olahraga. Saya berenang, saya naik sepeda saya lari, naik gunung dan macam-macam. Saya bermusik di rumah juga bermusik suami saya main bass menantu saya main piano, ada anak saya yang main gitar. Jadi kalau kumpul berenam yaudah kita nyanyi aja berenam. Sudah cukup senang.
 

https://www.youtube.com/watch?v=gaLKMYsf7lQ&t=1990s
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif