Cerita Jurnalis Metro TV Bangga Indonesia Bangun RS di Gaza

Marcheilla Ariesta 04 Mei 2018 13:44 WIB
jalur gaza
Cerita Jurnalis Metro TV Bangga Indonesia Bangun RS di Gaza
Desi Fitriani, wartawan senior Metro TV. (Foto: Dok. Pribadi).
Jakarta: Matanya memancarkan kebanggaan ketika menceritakan pengalamannya meliput pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Desi Fitriani, wartawan senior Metro TV mengungkapkan bagaimana pengalamannya saat pergi ke Jalur Gaza.

Dia menceritakan bagaimana susahnya masuk Jalur Gaza, yang perbatasannya dikuasai Israel. Pada Juli 2010, Desi bersama dengan Tim Komite Darurat Penanganan Medis (MER-C) melakukan kunjungan ke Gaza untuk pertama kalinya.

"Awalnya sempat bingung saat disuruh liputan pembangunan Rumah Sakit Indonesia. Sempat mikir ini serius Indonesia mau bangun rumah sakit? Apa boleh? Tapi sebagai wartawan ya kita jalani saja. Dan sampai di sana, saya takjub," ucap Desi kepada Medcom.id, di kantor Metro TV, Kedoya, Jakarta Barat, Jumat 4 April 2018.


Dia menuturkan langsung sujud saat menginjakkan kaki pertama kalinya di Gaza, padahal situasi di sana sangat tidak kondusif kala itu. Pesawat tanpa awak milik Israel mondar-mandir di atas perbatasan Gaza.

"Bangunan belum ada, tapi tanah sudah. Ada tulisan dalam Rumah Sakit Indonesia," ujarnya.

Baca: MER-C Apresiasi Media yang Terus Gaungkan Perjuangan Palestina

Dia mengatakan tanah seluas 16.261 meter persegi tersebut merupakan tanah wakaf dari Pemerintah Palestina di Gaza. Dia mengaku Pemerintah Palestina sangat mendukung pembangunan RS Indonesia tersebut.

Dari yang awalnya ragu, Desi yakin RS Indonesia akan dibangun di Tanah Palestina. Menurut dia, hal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri di hatinya.

Lebih dari setahun berselang, Desi kembali ke Gaza pada November 2011. Perempuan yang terkenal sebagai wartawan konflik ini kembali mengalami masalah untuk masuk ke Gaza.

Dari 10 orang jumlah rombongan, hanya lima yang boleh masuk. Desi dan timnya, serta wartawan lain dan seorang anggota MER-C masuk dalam kelompok yang ditolak.

Sempat kembali ke kota terdekat, Desi dan tim dibantu seorang warga lokal untuk bisa masuk kembali ke Gaza keesokan harinya. Setelah berhasil masuk kembali ke Gaza, Desi bersama rombongan ke Rumah Sakit Indonesia.

Baca: RS Indonesia Rawat Sepertiga Korban di Perbatasan Gaza-Israel

"Saya terharu sekali, walaupun bangunan belum jadi namun saya sangat terharu. Bagaimana tidak? Tiang-tiang pancang rumah sakit berdiri tegak. Di atas tiap tiang tertancap Bendera Merah Putih Indonesia," ungkapnya.

Dia juga sempat meliput terowongan Gaza tempat peralatan medis untuk Rumah Sakit Indonesia dibawa. Peralatan canggih itu berasal dari dana yang disumbangkan warga Indonesia melalui MER-C.

"Saya bangga sama warga Indonesia karena bantuan mereka berarti sekali buat orang lain, salah satunya warga di Palestina," tukasnya.

Desi tak bisa menyembunyikan rasa bangga dan harunya saat menceritakan pengalaman dia. Meski demikian, Desi mengakui Rumah Sakit Indonesia ini memang sangat diperlukan para warga.

Pasalnya, menurut Desi, RS Assyifa yang merupakan rumah sakit utama di Gaza sudah tak cukup menampung para korban gempuran Palestina. "Mereka sangat antusias saat mau dibangun Rumah Sakit Indonesia. Mereka turut membantu dalam pembangunannya," imbuh dia.

Kini, MER-C dan Media Group bekerja sama untuk mengumpulkan dana dari masyarakat Indonesia. Pembangunan lantai ketiga dan empat bangunan tersebut akan segera dilakukan.

Donasi untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia tahap kedua di Gaza, Palestina, bisa melalui rekening atas nama Yayasan Media Group:
Bank Syariah Mandiri 733.332.2212, 
BCA 309.700.8003, 
Bank Mandiri 117.0000.77.99.00 




(FJR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id