Aksi unjuk rasa ribuan demonstran di Causeway Bay, Hong Kong, Juni 2019. (Foto: AFP)
Aksi unjuk rasa ribuan demonstran di Causeway Bay, Hong Kong, Juni 2019. (Foto: AFP)

Ribuan Pedemo Hong Kong Tuntut Peningkatan Otonomi

Internasional hong kong
Willy Haryono • 02 November 2019 17:49
Hong Kong: Aksi protes terbaru berlangsung di Hong Kong, Sabtu 2 November 2019, di tengah kekhawatiran Tiongkok akan memperketat cengkeramannya di wilayah semi-otonom tersebut.
 
Lebih dari 3.000 orang dikabarkan berkumpul di Victoria Park, tempat yang biasa digunakan para pengunjuk rasa untuk beraksi. Aksi protes kali ini telah memasuki pekan ke-22.
 
Polisi melepaskan gas air mata ke arah kerumunan massa, dan juga menyemprotkan meriam air. Unjuk rasa terbaru ini disebut-sebut ilegal karena tidak mengantongi izin resmi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Seluruh pemerintah saat ini dikuasai pemerintah pusat (Tiongkok), jadi kami harus turun ke jalan untuk melindungi kebebasan yang berhak kami dapatkan," kata seorang pedemo berusia 17 tahun kepada kantor berita AFP.
 
Jumat 1 November, Tiongkok menegaskan pihaknya tidak akan memberikan toleransi terhadap siapapun yang menentang sistem pemerintahan Hong Kong. Beijing juga mengajukan wacana untuk meningkatkan edukasi patriot di Hong Kong.
 
Sejumlah demonstran menduduki beberapa ruas jalan di wilayah pusat perbelanjaan di Causeway Bay. Polisi antihuru-hara bersiaga di sana, dan melakukan sosialisasi bahwa aksi protes kali ini berstatus ilegal.
 
Dalam aksi protes ini, banyak pengunjuk rasa yang mengabaikan larangan penggunaan masker. Banyak juga dari mereka yang mengenakan masker gas.
 
Aktivis pro-demokrasi Joshua Wong telah menyerukan kepada 100 ribu orang untuk turun ke jalanan hari ini. "Menggunakan kebebasan untuk berkumpul sudah semakin sulit karena polisi di HK telah memperkuat cengkeraman mereka dalam beberapa bulan terakhir," tulis Wong di Twitter.
 
Wong menyebut aksi protes terbaru sebagai "seruan darurat" untuk meningkatkan otonomi di Hong Kong. Selain menggunakan masker, banyak juga pedemo yang membawa bendera Britania Raya dan kolonial Inggris. Hong Kong diserahkan dari Inggris kepada Tiongkok pada 1997.
 
Gelombang protes di Hong Kong berawal pada Juni lalu, yang dipicu Rancangan Undang-Undang Ekstradisi. Meski RUU kontroversial itu telah resmi ditarik, aksi protes tetap berlanjut menjadi perjuangan menegakkan demokrasi.
 
Bulan depan, Hong Kong berencana menggelar pemilihan umum dewan distrik. Wong dilarang ikut serta dalam pemilu tersebut.

 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif