Presiden Taiwan Tsai Ing-wen. (Foto: AFP)
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen. (Foto: AFP)

Taiwan Bela Transaksi Senjata AS Meski Diancam Tiongkok

Internasional taiwan
Willy Haryono • 13 Juli 2019 19:06
Taipei: Taiwan membela rencana pembelian senjata senilai USD2,2 miliar atau setara Rp31 triliun dari Amerika Serikat meski ada ancaman dari Tiongkok. Beijing telah melayangkan ancaman bahwa akan menjatuhkan sanksi ekonomi kepada perusahaan Amerika di balik transaksi tersebut.
 
Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan senjata AS akan memperkuat pertahanan diri dari ancaman militer Tiongkok yang semakin meningkat.
 
"Pasukan nasional kami akan terus memperkuat diri, memastikan keamanan nasional serta melindungi tanah air dan memastikan buah dari kebebasan dan demokrasi tidak akan diserang," sebut Kemenhan Taiwan, dikutip dari laman Stripes, Sabtu 13 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jumat malam kemarin, Tiongkok mengancam menjatuhkan sanksi kepada setiap perusahaan AS yang terlibat penjualan senjata dengan Taiwan. Negeri Tirai Bambu menilai transaksi senjata itu "merusak kedaulatan dan keamanan nasional Tiongkok."
 
Meski terpisah menjadi dua wilayah dalam perang sipil 1949, Tiongkok masih menganggap Taiwan sebagai bagian tak terpisahkan.
 
AS tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Taiwan. Namun aturan di AS mewajibkan untuk memastikan Taiwan dapat melindungi diri mereka sendiri.
 
Baca:AS Sebut Penjualan Senjata ke Taiwan Demi Perdamaian
 
Senjata senilai Rp31 triliun yang akan dijual AS ke Taiwan meliputi 108 tank baja jenis Abrams dan 250 misil darat-ke-udara tipe Stinger.
 
Berbicara di New York pada Jumat 12 Juli, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengatakan bahwa pemerintahannya memperkuat pertahanan nasional demi melindungi demokrasi.
 
Tiongkok menentang kunjungan Tsai ke AS. Taiwan menyebut kunjungan itu sebagai "transit" dalam perjalanan Tsai menuju Haiti dan tiga negara Karibia lainnya.
 
"Kami mendesak AS patuh pada prinsip Satu Tiongkok dan tidak mengizinkan kunjungan Tsai Ing-wen," tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Geng Shuang di Beijing.
 
Tsai mengkritik pernyataan Tiongkok mengenai kunjungannya ke AS. Ia mengatakan bahwa Taiwan "tidak membutuhkan pernyataan tak bertanggung jawab dari negara tetangga." Ia menambahkan, pemerintahannya menolak segala bentuk tekanan dari Tiongkok untuk menyatukan Taiwan, dan juga menolak sistem "Satu Negara, Dua Sistem" seperti yang diterapkan di Hong Kong.
 
"Pengalaman Hong Kong di bawah Satu Negara Dua Sistem telah memperlihatkan pada dunia bahwa kepemimpinan otoriter dan demokrasi tidak dapat berfungsi secara berdampingan," ungkap Tsai.

 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif