Menlu Retno: KTT Korea Landasan Kuat Perdamaian Semenanjung
Suasana pertemuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in (Foto: EPA).
Jakarta: Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno L.P Marsudi melontarkan pernyataan mengenai hasil pertemuan antar kedua negara Korea, yang berujung pada Deklarasi Panmunjom.
 
(Baca: Deklarasi Panmunjom Ditandatangani, Korsel-Korut Sepakat Denuklirisasi).
 
Menlu Retno menyatakan bahwa Indonesia telah mengikuti dengan seksama jalannya KTT Antar-Korea pada hari ini di perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara.
 
"Indonesia menyambut baik hasil-hasil KTT Antar-Korea ini dan berharap dapat menjadi landasan kuat bagi perdamaian yang langgeng di Semenanjung Korea dan kesejahteraan bagi rakyat di kedua negara," ujar Menlu Retno, melalui akun Twitter resmi @Menlu_RI, yang dikutip Medcom.id, Jumat 27 April 2018.
 
"Indonesia juga berharap KTT Antar-Korea akan menjadi awal dari terwujudnya kawasan bebas senjata nuklir di Semenanjung Korea," imbuhnya.
 
Sebelumnya pemimpin dunia lain turut mengapresiasi pertemuan langka ini. Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menyebut pertemuan tersebut sebagai langkah yang positif menuju resolusi yang komprehensif terkait isu Korut.
 
(Baca: PM Jepang Puji Hasil KTT Korea, Desak Tindakan Nyata).
 
Tetapi Abe mengharapkan Korut bisa ambil langkah konkret terkait pertemuan ini, terutama mengenai denuklirisasi.
 
Presiden AS Donald Trump juga menyuarakan hal yang sama. Trump mengatakan, pertemuan ini adalah pertemuan terbaik yang pernah terjadi.
 
"Setelah tahun-tahun peluncuran rudal dan uji coba nuklir, sebuah pertemuan bersejarah antara Korut dan Korsel berlangsung. Hal-hal yang baik sedang terjadi!," tuturnya.
 
Selain itu, Trump juga memuji Tiongkok yang dianggap memberikan bantuan kepada Korut melalui diplomasinya, setelah Kim Jong-un melakukan uji coba nuklir dan rudal.
 
(Baca: Trump Puji Hasil Pertemuan Korsel-Korut).
 
Kepala NATO Jens Stoltenberg menyebutkan pertemuan itu sebagai peristiwa bersejarah, tetapi mengingatkan bahwa tantangan masih menghadang di depan.
 
Rusia juga buka suara dengan pertemuan itu. Pihak Kremlin melihat pertemuan kedua Korea ini sebagai berita yang positif. "Hari ini kita melihat dialog langsung yang berlangsung dan jelas menciptakan peluang," pernyataan Istana Kremlin.
 
Tiongkok yang selama ini dikenal sebagai sekutu terdekat Korut, memperhatikan jabat tangan pertama kali dari Presiden Korsel Moon Jae-in dan Kim Jong-un.
 
"Kami memuji langkah bersejarah dari kedua pemimpin Korea terkait keputusan politik mereka dan keberaniannya," tutur Juru Bicara Kemenlu Tiongkok Hua Chunying.
 
"Bagi Tiongkok, kami berharap bisa mengambil kesempatan ini untuk membuka lembaran baru yang panjang dipenuhi kestabilan di Semenanjung Korea," pungkasnya.
 
Denuklirasi Semenanjung Korea adalah salah satu kesepakatan yang tercapai antara Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in dan pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un hari ini.
 
Sejumlah kesepakatan tertulis bertajuk Deklarasi Panmunjom sudah ditandatangani keduanya, sore hari waktu Seoul.
 
Kedua tokoh sepakat untuk mengurangi ketegangan antarmiliter dan mempromosikan perdamaian permanen di Semenanjung Korea.
 
Selain itu, Moon dan Kim juga sepakat untuk menghentikan setiap tindakan yang menunjukkan permusuhan dari kedua belah pihak sebagai upaya untuk mengakhiri Perang Korea 1950-1953 secara formal.
 




(FJR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id