Pasukan Amerika Serikat (AS) yang bertugas di Afghanistan. (Foto: AFP).
Pasukan Amerika Serikat (AS) yang bertugas di Afghanistan. (Foto: AFP).

AS Siap Tarik Pasukan dari Afghanistan

Internasional amerika serikat afghanistan
Fajar Nugraha • 26 Juni 2019 08:46
Kabul: Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo menegaskan pihaknya memulai diskusi untuk menarik pasukan Negeri Paman Sam dari Afghanistan.
 
Keputusan itu bergantung pada negosiasi tahap akhir dengan Taliban, yang mewajibkan Taliban untuk tidak melindungi para teroris jika pasukan Amerika meninggalkan Afghanistan.
 
"Mengingat kemajuan ini, kami telah memulai diskusi dengan Taliban mengenai kehadiran militer asing, yang saat ini tetap berdasarkan kondisi," kata Pompeo, seperti dikutip Washington Examiner, Rabu, 26 Juni 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dan sementara kami telah menjelaskan kepada Taliban bahwa kami siap untuk memindahkan pasukan kami. Saya ingin menjelaskan bahwa kami belum menyetujui jadwal waktu untuk melakukannya,” tuturnya.
 
Pompeo mengumumkan hal itu sambil menekankan perlunya pembicaraan langsung antara Taliban dan pemerintah pusat, yang telah ditolak oleh Taliban. Komentarnya adalah tampilan optimisme yang langka namun disertai kesulitan dengan sikap Taliban.
 
"Mengenai terorisme, kami telah membuat kemajuan nyata dan hampir siap untuk menyimpulkan draft teks yang menguraikan komitmen Taliban untuk bergabung dengan sesama warga Afghanistan dalam memastikan bahwa tanah Afghanistan tidak pernah lagi menjadi surga yang aman bagi para teroris," kata Pompeo.
 
"Semua pihak sepakat bahwa menyelesaikan pemahaman AS-Taliban tentang terorisme dan kehadiran pasukan asing akan membuka pintu bagi dialog dan negosiasi antar-Afghanistan,” paparnya.
 
Proses negosiasi telah berlangsung sejak Januari, ketika tim perunding AS yang dipimpin oleh Perwakilan Khusus Zalmay Khalilzad mengumumkan bahwa Taliban telah menyetujui "kerangka kerja" untuk kesepakatan akhirnya. Namun negosiasi terjadi di tengah gelombang kekerasan oleh Taliban dan afiliasi ISIS, yang dikenal sebagai ISIS-Khorasan.
 
Taliban mengancam akan melancarkan serangan terhadap wartawan Afghanistan jika media tidak berhenti menerbitkan "sentimen anti-jihad dan Taliban. "Dalam kasus seperti itu, wartawan atau karyawan dari organisasi media yang disebut ini tidak akan aman," kata Taliban pada Senin 24 Juni.
 
Di sisi lain, para pejabat AS telah berhenti menerbitkan penilaian tentang seberapa banyak wilayah yang dikuasai Taliban, tetapi kematian warga sipil mencapai rekor tertinggi pada 2018 dan anggota parlemen di kedua belah pihak mengakui bahwa kelompok itu sedang bergerak.
 
Pompeo berharap untuk mencapai kesepakatan sebelum 1 September, ketika para pemilih Afghanistan diperkirakan akan pergi ke tempat pemungutan suara untuk pemilihan yang telah ditunda dua kali. "Tapi mengupayakan perdamaian tidak harus menunggu sampai pemilihan Presiden Afghanistan," tambahnya.
 
"Perencanaan pemilihan harus maju tanpa penundaan saat kita mengejar perdamaian yang layak bagi rakyat Afghanistan,” pungkas Pompeo.
 
Pimpinan Korps Diplomat Amerika itu berharap bahwa "dialog antar-Afghanistan" yang ditengahi oleh Jerman dan Qatar akan membantu mendorong negosiasi penuh antara Pemerintah Afghanistan dan Taliban.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif