Turini kembali ke Tanah Air, setelah 21 tahun menghilang di Arab Saudi dan putus komunikasi dengan keluarga. Foto: Dok.KBRI Riyadh.
Turini kembali ke Tanah Air, setelah 21 tahun menghilang di Arab Saudi dan putus komunikasi dengan keluarga. Foto: Dok.KBRI Riyadh.

21 Tahun Hilang di Arab Saudi, Turini Tiba di Indonesia

Internasional arab saudi wni
Fajar Nugraha • 22 Juli 2019 04:56
Riyadh: Turini binti Mashari Tarsina, WNI yang hilang dan overstay selama 21 tahun di Arab Saudi, pada 21 Juli 2019 pulang ke Indonesia dan dijadwalkan mendarat di Bandara Soekarno Hatta, 22 Juli 2019.
 
Baca juga: 21 Tahun Hilang, Turini Ditemukan Bekerja di Arab Saudi.
 
Seperti diketahui Turini yang berasal dari Kedawung, Cirebon, berangkat ke Arab Saudi sejak 24 Oktober 1998.Turini diketahui bekerja untuk keluarga Aun Niyaf Aun Alotaibi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Laporan mengenai Turini mulai muncul sejak pertengahan tahun 2013. Namun karena data-data yang minim menyulitkan KBRI Riyadh melakukan pencarian.
 
Selama bekerja dalam kurun waktu 21 tahun, Turini belum pernah menerima gaji, dan tidak memiliki akses komunikasi dengan keluarga di Indonesia. KBRI kemudian melakukan negosiasi dengan majikan.
 
Pada 2 April 2019, dengan bantuan Kantor Polisi Dawadmi, Tim KBRI Riyadh dapat bertemu dengan Turini dan bernegosiasi langsung dengan Feihan Mamduh Al-Otaibi di rumah majikan, di Kampung di pedalaman Arab Saudi atau sekitar 387 Kilometer dari Riyadh.
 
Didampingi staff KBRI Muhammad al-Qarni, Turini dipulangkan ke Indonesia bersama dengan delapan WNI kurang beruntung yang sudah menyelesaikan proses izin keluar di Imigrasi Saudi. Mereka diberangkatkan dari RUHAMA (Rumah Harapan Mandiri) KBRI Riyadh.
 
“KBRI Riyadh lebih memilih idiom ‘WNI belum beruntung’ daripada label ‘WNI Bermasalah’ dengan alasan kemanusiaan,” ujar Dubes Republik Indonesia untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel, dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Senin 22 Juli 2019.
 
21 Tahun Hilang di Arab Saudi, Turini Tiba di Indonesia
Turini kembali ke Indonesia setelah 21 tahun putus komunikasi dengan keluarga. Foto: Dok.KBRI Riyadh.
 
Acara perpisahan di RUHAMA KBRI Riyadh berlangsung haru. RUHAMA adalah tempat menampung para WNI yang sedang menghadapi permasalahan ketenagakerjaan dan juga permasalahan hukum di Arab Saudi sebelum dipulangkan oleh KBRI ke Indonesia.
 
“Saat ini rumah singgah KBRI Riyadh dihuni oleh 170 WNI yang menghadapi berbagai masalah di Arab Saudi. Mayoritas mereka adalah disebabkan masuk ke Arab Saudi dengan visa kunjungan yang sebenarnya tidak diperuntukkan untuk bekerja,” jelas Dubes Agus.
 
“Faktor inilah yang menyebabkan mereka tidak terdata di KBRI, sehingga KBRI kesulitan untuk memberikan perlindungan dan monitor keberadaan mereka. Dan seringkali KBRI Riyadh mengetahui data mereka justru ketika para pekerja migran tersebut mengalami masalah,” tutur Dubes Agus.
 
Banjir WNI dengan dokumen non prosedural ini merupakan pemandangan sehari-hari dan justru terjadi setelah adanya moratorium pengiriman tenaga kerja Indonesia ke Saudi Arabia. Bagi Dubes Agus, dirinya berharap ada ‘langkah luar biasa’ untuk menertibkan pemberangkatan tenaga kerja Indonesia ke Arab Saudi. Meski demikian, KBRI dalam melayani tidak pernah melakukan diskriminasi dan melayani semua WNI yang datang dengan visa apapun.
 
Terkait dengan denda overstay para WNI yang belum beruntung ini, KBRI Riyadh berusaha melakukan komunikasi dengan Kerajaan Arab Saudi untuk membebankan ke para majikan. Pada sisi lain Saudi juga membantu lewat Kantor Dinas Sosial Pemerintah Saudi Arabia.
 
“KBRI Riyadh akan selalu konsisten menghadirkan Negara untuk membantu para WNI di Saudi dan akan selalu melakukan terobosan untuk memecahkan segala kebuntuan dalam diplomasi kemanusiaan ini,” pungkas Dubes Agus Maftuh Abegebriel.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif