Pasukan keamanan Afghanistan menggiring terduga militan Taliban di Jalalabad, 23 Januari 2019. (Foto: AFP/NOORULLAH SHIRZADA)
Pasukan keamanan Afghanistan menggiring terduga militan Taliban di Jalalabad, 23 Januari 2019. (Foto: AFP/NOORULLAH SHIRZADA)

Ledakan Guncang Jalalabad Afghanistan, Tiga Orang Tewas

Internasional taliban afghanistan
Willy Haryono • 06 Maret 2019 14:26
Jalalabad: Serangkaian ledakan mengguncang Jalalabad, Afghanistan, Rabu 6 Maret 2019. Ledakan yang terjadi di pagi hari waktu setempat ini menewaskan sedikitnya tiga orang.
 
"Dua pelaku meledakkan rompi mereka, dan dua lainnya ditembak mati pasukan keamanan," kata juru bicara provinsi Jalalabad, Attaullah Khogyani, kepada kantor berita AFP.
 
"Sekelompok pelaku bom bunuh diri menyerang dan sempat masuk ke bangunan milik sebuah perusahaan konstruksi swasta pagi ini," tutur anggota Dewan Provinsi Nangarhar, Zabihullah Zmarai.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Beberapa pekerja sipil di perusahaan tersebut tewas," lanjut dia.
 
Hingga sejauh ini, belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Serangan bom terjadi saat negosiasi antara Amerika Serikat dan kelompok militan Taliban berlanjut di Qatar. Tujuan dari pertemuan adalah mengakhiri konflik Afghanistan yang sudah berlangsung hampir 18 tahun.
 
Meski sempat berhenti selama dua hari, negosiasi AS dan Taliban berlanjut "saat ini dan beberapa kemajuan juga sudah tercapai," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Robert Palladino.
 
"Negosiasi ini masih berlangsung, dan empat isu menjadi fokus pembahasan yang akan menjadi inti dari perjanjian di masa mendatang," tambahnya. Empat isu itu adalah terorisme, penarikan pasukan, dialog antar-Afghanistan dan gencatan senjata.
 
Menlu AS Mike Pompeo, dalam acara pertukaran pelajar di Iowa, mengatakan dirinya berharap dialog di Qatar akan mengalami kemajuan berarti. Jika terjadi seperti itu, maka Pompeo berniat ikut serta untuk membantu kelancaran negosiasi.
 
Sejumlah analis telah mengingatkan bahwa Taliban mungkin akan meningkatkan serangan setelah berakhirnya musim dingin di Afghanistan. Taliban diyakini hendak menjaga momentum di medan perang, agar dapat dijadikan posisi tawar dalam negosiasi.
 
Presiden AS Donald Trump telah berkali-kali menyuarakan keinginannya untuk mengakhiri keterlibatan Washington di Afghanistan. Saat ini, masih ada sekitar 14 ribu personel militer AS di negara tersebut.
 
Afghanistan dilanda konflik yang hampir berlangsung secara konstan sejak invasi Uni Soviet pada 1979, yang kemudian diikuti perang sipil, rezim Taliban serta kedatangan pasukan AS.
 
Baca:Taliban Inginkan Konstitusi Islami di Afghanistan
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif