Atase Angkatan Laut AS untuk Indonesia, Gregory R. Adams. Foto: Medcom.id/Marcheilla Ariesta
Atase Angkatan Laut AS untuk Indonesia, Gregory R. Adams. Foto: Medcom.id/Marcheilla Ariesta

Cerita Atase AL Amerika Belajar Main Gamelan

Internasional indonesia-as
Marcheilla Ariesta • 28 November 2019 09:54
Jakarta: Atase Angkatan Laut AS untuk Indonesia, Gregory R. Adams merupakan salah satu pemain kendhang atau yang sering disebut gendang dalam gamelan. Dia merupakan salah satu staf kedutaan yang tergabung dalam kelompok gamelan Kedutaan Besar AS untuk Indonesia, Dutalaras.
 
Dia mengatakan belajar memainkan instrumen tersebut selama enam bulan terakhir.
 
"Waktu kuliah di Singapura, saya mendengar gamelan. Saya mau ikut, namun tidak ada kesempatan," kata Greg kepada awak media usai pentas di @America, Jakarta, Rabu 27 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Greg mengaku ketika dia ditugaskan di Jakarta, teman-temannya di Gereja Kristen Jawa Nehemia Lebak Bulus memintanya untuk ikut bermain gamelan.
 
"Ada kesempatan yang unik dan bagus untuk belajar gamelan. Saya sangat senang dan bahagia belajar salah satu budaya paling penting Indonesia," imbuhnya.
 
Sebagai orang asing yang belajar kebudayaan Indonesia, Greg mengaku cukup kesulitan saat pertama kali belajar gamelan. Bahasa menjadi salah satu kendalanya.
 
"Guru-guru saya berbahasa Jawa, saya tidak bisa. Sedikit berbeda dengan musik Barat, ada tempo yang unik," kata Greg.
 
Meski demikian, ia berhasil mengatasi kesulitan itu. Kini dia sudah belajar tempo musik gamelan dan bisa memamerkan kemampuannya di hadapan publik Indonesia dan AS di @America.
 
Editor Pengembangan dan Informasi USAID Indonesia, Samantha Martin mengatakan Dutalaras terbentuk baru enam bulan. Namun, sudah dua kali tampil di hadapan publik.
 
"Penampilan pertama kami dilakukan pada 17 Agustus untuk perayaan Kemerdekaan Indonesia di gereja. Itu penampilan perdana kami. Dan ini kali kedua kami tampil di hadapan publik," jelasnya.
 
Kelompok gamelan Dutalaras memiliki 11 anggota, yang terdiri dari tujuh warga AS dan empat warga Indonesia. "Semuanya bekerja di Kedubes AS," terang Greg.
 
Baik Greg dan Samantha mengaku ini merupakan kesempatan terbaik untuk mengadakan pertunjukkan, terutama bagi hubungan antarmasyarakat RI-Amerima Serikat.
 
"Kami pikir kesempatan ini paling tepat untuk mengekspresikan hubungan kita dan merayakannya," pungkas mereka.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif