Sembilan Negara Berkomitmen Perangi Terorisme via Medsos

Marcheilla Ariesta 06 November 2018 16:46 WIB
terorisme
Sembilan Negara Berkomitmen Perangi Terorisme via Medsos
Pertemuan Sub-Regional Pemberantasan Terorisme di Hotel Fairmon Jakarta, Selasa, 6 November 2018. (Foto: Marcheilla Ariesta)
Jakarta: Sembilan negara Sub-Regional Asia Tenggara dan Pasifik sepakat memerangi terorisme dengan berbagai cara, salah satunya via media sosial. Kerja sama juga dilakukan dengan perusahaan medsos, seperti Twitter.

"Kita (sembilan negara) melakukan pembicaraan bagaimana swasta yang mengelola media sosial dengan pemerintah bisa bekerja sama untuk memblokade penggunaan media sosial untuk kepentingan-kepentingan kejahatan," kata Menteri Politik Hukum dan Keamanan RI Wiranto dalam jumpa pers usai Pertemuan Sub-Regional Pemberantasan Terorisme di Hotel Fairmon Jakarta, Selasa, 6 November 2018.

Baca: Wiranto: Tak Satu pun Negara Bisa Hadapi Ancaman Teroris Sendirian


Wiranto menambahkan dalam kesepakatan bersama, kelompok kerja pertemuan ini akan mengembangkan aksi efektif untuk mengatasi isu tersebut. "Kita akan lihat aksi bersama apa yang bisa dilakukan secara efektif menanggulangi penggunaan media sosial untuk kejahatan terorisme," tutur dia.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Australia Peter Dutton yang juga sebagai co-chair pertemuan ini mengatakan sangat senang bisa bekerja sama dengan delapan negara lainnya dalam memerangi terorisme. Terlebih dengan semakin meningkatnya aktivitas di media sosial.

Menurut Dutton, perusahaan media sosial memiliki tanggung jawab atas pesan-pesan yang beredar di platform mereka. "Semua negara demokrasi dan masyarakat harus bisa merangkul media sosial karena sangat penting bagi kita semua. Namun, perusahaan-perusahaan itu memiliki kewajiban spesifik untuk melakukan penegakan hukum atas kasus ini," tegas dia.

Dalam pertemuan tersebut, hadir perwakilan dari Twitter Indonesia yang memberikan pemaparan kerja sama dengan pemerintah dalam penanggulangan terorisme. "Isu ini sangat penting dan serius, jadi kita butuh penanganan yang lebih baik dengan perusahaan media sosial," pungkas Dutton.




(WIL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id