Eiko Kawasaki meninggalkan Jepang ke Korea Utara pada usia 17 tahun karena propaganda surga di bumi. (Foto: AFP).
Eiko Kawasaki meninggalkan Jepang ke Korea Utara pada usia 17 tahun karena propaganda surga di bumi. (Foto: AFP).

‘Surga di Bumi’: Hantu Propaganda Korea Utara Masih Gentayangan

Internasional korea utara
Arpan Rahman • 22 Februari 2019 08:09
Pyongyang: Harunori Kojima masih ingat air mata sukacita yang membasahi wajahnya di bawah hujan es ketika ia menyaksikan dua kapal Uni Soviet berlayar pada Desember 1959 dari pelabuhan Niigata, Jepang.
 
Tujuannya ke Korea Utara, yang memikat hampir 100.000 warga Korea dari Jepang dengan propaganda fantastik yang menjanjikan sebagai ‘Surga di Bumi.’
 
Kini, berusia 88 tahun, Kojima terkenang bagaimana sebuah band menyanyikan lagu-lagu patriotik yang memuji pemimpin Korut saat itu, Kim Il Sung. Saat sekitar 1.000 orang naik kapal untuk mulai kehidupan baru.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mereka adalah bagian dari program repatriasi besar yang terus berlanjut hingga 1984, yang dilakukan oleh Perhimpunan Palang Merah di Jepang dan Korut dan didanai Pyongyang.
 
Secara keseluruhan, 93.340 orang -- terutama orang Korea tetapi juga pasangan Jepang -- dengan antusias pindah ke Korut, dengan bahagia. Tanpa menyadari itu mereka tidak bisa kembali.
 
Awalnya enggan, Pemerintah Jepang juga mendukung skema tersebut. Media menggembar-gemborkannya sebagai kampanye kemanusiaan bagi warga Korea yang berjuang membangun kehidupan di Jepang.
 
Tetapi Kojima, yang adalah seorang komunis saat itu dan membantu mengawasi pemulangan, sekarang melihat kembali skema tersebut dengan kepahitan.
 
"Saya terlibat aktif dalam proyek itu, percaya itu adalah sesuatu yang positif. Tetapi sebagai hasilnya, saya membawa orang ke neraka," katanya, seperti dikutip dari laman AFP, Jumat, 22 Februari 2019.
 
Selama pemerintahan kolonial Tokyo 1910-1945 di Semenanjung Korea, jutaan orang Korea pindah ke Jepang, baik secara sukarela atau bertentangan dengan keinginan mereka.
 
Ketika Jepang menyerah, ratusan ribu etnis Korea tetap tinggal, enggan pulang ke tanah air mereka yang hancur. Dilucuti kewarganegaraan Jepang mereka dan menjadi tanpa kewarganegaraan.
 
Menurut wartawan dan pakar Yoshiaki Kikuchi, negeri Kim di Utara -- secara ekonomi lebih baik daripada Korsel setelah perang Korea 1950-53. Ia ingin menggunakan repatriasi massal untuk menekankan ‘superioritas’ sosialisme atas boneka Selatan Amerika Serikat.
 
Sebagian besar warga Korea di Jepang berasal dari selatan paralel ke-38, tetapi kemudian Presiden Korsel Syngman Rhee memotong kaitan mereka dan mantan penguasa kolonial Jepang tidak menawarkan bantuan mengurangi kemiskinan dan diskriminasi mereka.
 
Karena alasan ini, banyak yang percaya film-film propaganda yang menggambarkan kehidupan sangat indah di Korut dan mendaftar kepada agen Asosiasi Umum Penduduk Korea atau Chongryon -- kedutaan de facto Korut di Jepang -- ketika mereka berkampnye dari rumah ke rumah.
 
‘Surga di Bumi’: Hantu Propaganda Korea Utara Masih Gentayangan
Harunori Kojima masih ingat pertama kali saat ia tinggalkan Jepang demi Korea Utara. (Foto: AFP).
 
Sekarat sampai mati
 
Tetapi kenyataan di ‘Surga’ jauh dari propaganda tersebut. Eiko Kawasaki, yang sekarang 76 tahun, terkejut melihat penduduk setempat berkumpul menyambut mereka di pelabuhan timur laut Chongjin.
 
"Cara orang-orang setempat terlihat memilukan. Baik pria maupun wanita memiliki wajah tak bernyawa dengan kulit kering dan gelap. Semua mengenakan pakaian kerja sederhana yang sama," kenang Kawasaki.
 
Dia berusia 17 dan pulang sendirian, keluarganya akan menyusul, diyakinkan oleh propaganda Chongryon.
 
"Mereka akan mengatakan Korea Utara adalah negara yang luar biasa di mana kami dapat membantu membangun negara sosialis dan kemudian dengan bangga pulang setelah Korea Utara dan Selatan dipersatukan," katanya.
 
"Mereka akan mendorong kami untuk pergi, dengan mengatakan kami dipermalukan dan diintimidasi (di Jepang), tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak," serunya.
 
Agen-agen itu menjanjikannya "setidaknya persediaan beras tiga bulan" dan bahwa "rumah dan tempat tidur yang lengkap" akan menanti di kampung halaman.
 
Kenyataannya hanya kelaparan dan kelaparan. Tetapi meskipun orang-orang lapar, "tidak ada yang memprotes," kata Kawasaki, seraya menambahkan: "Tidak ada yang mempertanyakan mengapa mereka kelaparan."
 
Dia berupaya memberi petunjuk kepada keluarganya agar tidak datang melalui surat, berharap mengelabui sensor dan sering "membersihkan" siapa pun yang mengeluh.
 
Butuh 10 tahun -- dan 18 bulan bersembunyi di Tiongkok -- tetapi Kawasaki akhirnya melarikan diri kembali ke Jepang.
 
Penculikan nasional
 
Manabu Ishikawa, 60, yang dulu dikenal sebagai Lee Jay Hak, teringat hidup dari sisa-sisa gabah di peternakan unggas yang dianggap tidak layak bahkan untuk makanan hewan.
 
Dia tidak pernah bisa menghapus ingatan tentang seorang gadis kecil, mungkin sembilan atau 10, sekarat karena kelaparan di jalan.
 
"Dia benar-benar tersenyum dengan lega, memegang sepotong roti di tangannya," katanya.
 
Ishikawa melarikan diri ke Tiongkok pada 2001 -- istri dan kedua putranya kemudian menyusul -- tetapi lebih banyak lagi yang tidak begitu beruntung. Chongryon tidak menerima kritik terhadap program ini.
 
"Itu adalah kampanye untuk melindungi hak-hak orang Korea di Jepang, kebebasan untuk kembali ke tanah air mereka," kata O Gyu Sang, sejarawan di badan pro-Pyongyang, kepada AFP.
 
"Jika mereka hidup tanpa diskriminasi dan memiliki pekerjaan untuk mencari nafkah, tidak banyak yang akan pulang. Politisi Jepang juga pasti berpikir itu adalah kesempatan yang baik buat menyingkirkan orang Korea yang mengganggu," urainya.
 
Efeknya masih bergema
 
Tahun lalu, lima mantan pengungsi yang kembali, termasuk Kawasaki dan Ishikawa, menuntut Korut dan pemimpin negara itu. Sembari menuduh mereka melakukan ‘penculikan nasional’ dan menuntut kembali mereka yang tersisa di negara itu agar bebas untuk keluar dari sana.
 
Pengadilan Distrik Tokyo diperkirakan akan menangani kasus ini, kata pengacara Atsushi Shiraki.
 
"Saya telah membuang nama Korea saya sejak lama," kata Kawasaki, minta dianonimkan demi melindungi keempat anaknya yang masih tinggal di Utara.
 
"Saya tidak ingin mati tanpa melihat keluarga saya lagi. Tetapi saya tidak dapat melihat mereka kecuali Korut mengakhiri pelanggaran haknya," pungkasnya.
 

 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi