Penyerahan empat WNI korban pengantin pesanan ke Bareskrim Polri, Jumat 13 September 2019. (Foto: Kemenlu RI)
Penyerahan empat WNI korban pengantin pesanan ke Bareskrim Polri, Jumat 13 September 2019. (Foto: Kemenlu RI)

Kemenlu Kembali Pulangkan WNI Korban Pengantin Pesanan

Internasional wni indonesia-tiongkok
Willy Haryono • 15 September 2019 17:02
?Jakarta: Kementerian Luar Negeri kembali memulangkan empat warga negara Indonesia korban pengantin pesanan dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Empat WNI asal Kalimantan Barat dan Jawa Barat itu telah diserahterimakan ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri pada Jumat 13 September.
 
Serah terima di Gedung Direktorat Perlindungan WNI dan BHI, Kemenlu RI, dipimpin oleh Pelaksana Harian Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler, Winanto Adi. Acara juga dihadiri Pejabat dari Direktorat Jenderal Imigrasi, Rumah Perlindungan/Trauma Center (RPTC) dan KBRI Beijing.
 
Sejak 2 September, Kemenlu RI dan KBRI Beijing berhasil memulangkan 18 WNI perempuan yang menjadi korban pengantin pesanan dari wilayah RRT. Dari total WNI tersebut, sebagian diantaranya terindikasi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kasus pengantin pesanan telah ditangani oleh KBRI Beijing sejak tahun 2016. Dalam periode 2018-2019, terjadi peningkatan jumlah kasus secara signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," ujar Ichsan Firdaus selaku perwakilan dari KBRI Beijing, dalam keterangan di situs Kemenlu RI, Sabtu 14 September 2019.
 
Kemenlu RI akan terus berkoordinasi dengan pihak Ditjen Dukcapil Kemendagri, Ditjen Imigrasi Kemenkumham, Kemensos dan Polri dalam meningkatkan upaya penanganan dan pencegahan kasus pengantin pesanan.
 
Dalam hal pencegahan, beberapa hal yang akan ditingkatkan antara lain pengetatan prosedur pemberian izin pernikahan campuran, legalisasi pernikahan campuran, serta melakukan kegiatan Public Awareness Campaign (PAC) terkait bahaya dan modus dari pengantin pesanan untuk mencegah bertambahnya korban.
 
"Upaya preventif akan lebih mudah dilakukan dibandingkan menangani kasus yang sudah terjadi, karena apabila korban telah berada di RRT, proses penyelesaian kasus akan membutuhkan waktu yang cukup lama," tegas Winanto.

 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif