Presiden Filipina Rodrigo Duterte dalam acara di Istana Malacanang, Manila, 19 November 2019. (Foto: AFP/TED ALJIBE)
Presiden Filipina Rodrigo Duterte dalam acara di Istana Malacanang, Manila, 19 November 2019. (Foto: AFP/TED ALJIBE)

Duterte akan Cabut Darurat Militer di Filipina Selatan

Internasional isis filipina
Willy Haryono • 10 Desember 2019 15:08
Manila: Presiden Rodrigo Duterte berencana mencabut status darurat militer di Filipina selatan pada akhir 2019. Darurat militer diterapkan di Filipina selatan selama lebih dari dua tahun dalam upaya menghentikan sepak terjang kelompok militan Islamic State (ISIS).
 
Duterte menetapkan darurat militer di Mindanao pada Mei 2017, beberapa jam usai sekelompok orang mengibarkan bendera hitam ISIS di kota Marawi. Pertempuran sengit pun berlangsung selama lebih kurang lima bulan, yang menewaskan sekitar 1.200 orang.
 
"Istana (kepresidenan) memercayai kemampuan pasukan keamanan dalam menjaga perdamaian dan stabilitas di Mindanao tanpa perlu memperpanjang darurat militer," ujar juru bicara Duterte, Salvador Panelo, dikutip dari AFP, Selasa 10 Desember 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Panelo menambahkan, Duterte berencana mencabut darurat militer usai mendapat laporan dari sejumlah penasihat keamanan. Disebutkan bahwa saat ini kondisi di Filipina selatan berangsur membaik, dan pengaruh kelompok ekstremis juga sudah melemah.
 
Darurat militer memberikan kekuasaan kepada prajurit untuk menjalankan aturan jam malam, pemeriksaan senjata dan lainnya. Di Filipina, banyak orang mempunyai senjata api, baik itu berstatus resmi atau tidak.
 
Dalam status darurat militer, tentara dapat menahan seseorang tanpa perlu melalui proses peradilan.
 
Isu darurat militer sempat menjadi kontroversi, karena Filipina pernah 20 tahun dipimpin seoarang diktator. Namun Duterte pernah berkata bahwa darurat militer diperlukan demi membasmi pergerakan ISIS di Filipina selatan.
 
Mindanao dilanda sejumlah bom bunuh diri sejak darurat militer diterapkan dua tahun lalu. Salah satu serangan itu adalah pengeboman di sebuah gereja di pulau Jolo pada Januari 2019.
 
Meski terbukti efektif meredam gelombang serangan di Mindanao, darurat militer berimbas pada menurunnya sektor pariwisata. Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana sebelumnya pernah mengatakan kepada awak media bahwa dirinya menyarankan Duterte untuk tidak memperpanjang darurat militer.
 
"Sudah saatnya kembali ke kehidupan normal, sehingga kita dapat menarik lebih banyak investor," tutur Lorenzana pekan kemarin.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif