Pemimpin Hong Kong Carrie Lam dalam konferensi pers di kompleks pemerintahan, Selasa 9 Juli 2019. (Foto: AFP/ANTHONY WALLACE)
Pemimpin Hong Kong Carrie Lam dalam konferensi pers di kompleks pemerintahan, Selasa 9 Juli 2019. (Foto: AFP/ANTHONY WALLACE)

Pemimpin Hong Kong Tegaskan RUU Ekstradisi Sudah 'Mati'

Internasional hong kong
Willy Haryono • 09 Juli 2019 10:46
Hong Kong: Pemimpin Hong Kong Carrie Lam menegaskan bahwa Rancangan Undang-Undang Ekstradisi yang memicu gelombang unjuk rasa berskala masif "telah mati."
 
Hong Kong dilanda krisis terbesar di era modern saat ribuan hingga jutaan berunjuk rasa sejak satu bulan terakhir. Aksi protes kerap berujung bentrok dengan aparat keamanan.
 
Demonstran bahkan pernah merusak kaca gedung parlemen dan menerobos masuk. Unjuk rasa terus berlangsung meski Carrie Lam telah menunda proses pengesahan RUU Ekstradisi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Masih ada keraguan terhadap ketulusan pemerintah, mengenai apakah proses (RUU Ekstradisi) ini akan dimulai kembali di Dewan Legislatif," tutur Carrie Lam dalam konferensi pers, disitat dari laman AFP, Selasa 9 Juli 2019.
 
"Jadi saya menekankan dalam kesempatan ini, bahwa tidak ada rencana seperti itu. RUU (Ekstradisi) sudah mati," ungkapnya.
 
RUU kontroversial itu ditentang keras karena demonstran khawatir Hong Kong akan menjadi seperti kota-kota di Tiongkok. Jika RUU itu disahkan, maka seseorang yang tersangkut kasus hukum di Hong Kong berpotensi diadili di Negeri Tirai Bambu.
 
Gerakan protes tetap berlanjut usai Carrie Lam menarik RUU Ekstradisi, dan meluas menjadi penentangan penuh terhadap pemerintah. Sejumlah pedemo bahkan meminta Carrie Lam agar segera turun dari jabatannya.
 
Dalam konferensi pers terbaru, Carrie Lam mencoba menurunkan ketegangan lewat pernyataan bernada mendamaikan. "Saya menyadari bahwa ada masalah fundamental dan mendalam di tengah masyarakat Hong Kong," sebut dia.
 
"Mungkin saja masalah itu ada di bidang perekonomian, atau mungkin kesejahteraan, atau perpecahan politik," lanjutnya.
 
"Jadi, hal pertama yang harus kita semua lakukan adalah mengidentifikasi masalah-masalah fundamental tersebut, dan berharap solusinya dapat segera ditemukan agar kita dapat melangkah bersama ke depan," pungkas Carrie Lam.
 
Sementara itu pada Senin kemarin, Asosiasi Jurnalis Hong Kong menuding polisi telah menyerang awak media dan menghalangi kegiatan peliputan selama bentrokan di Kowloon, Tsim Sha Tsui. Dalam bentrokan di Kowloon, petugas keamanan telah menangkap enam pedemo yang dianggap sebagai provokator.
 
Baca:Akibat Protes Hong Kong, Inggris-Tiongkok Perang Kata
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif