Myanmar Tidak Perlu Penghargaan Amnesty International
Pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi. (Foto: AFP)
Yangon: Wakil Menteri Informasi Myanmar Aung Hla Tun mengatakan penarikan gelar milik pemimpin de facto Aung San Suu Kyi tidak adil. Reputasi internasional Suu Kyi sebagai ikon hak dicabut oleh Amnesty International.

"Penarikan (gelar) ini cukup kekanak-kanakan. Ini seperti ketika anak-anak tidak bergaul satu sama lain dan mengambil kembali mainan mereka," katanya, dilansir dari laman Channel News Asia, Selasa 13 November 2018.

Menurut dia, langkah tersebut hanya membuat warga Myanmar semakin mencintai dia. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya orang-orang yang turun ke jalan di Yangon.


"Kami tidak membutuhkan hadiah mereka," kata salah seorang partisipan, Htay Htay, 60.

Amnesty International mencabut penghargaan HAM tertinggi yang pernah diberikan ke pemimpin Myanmar tersebut. Gelar tersebut adalah Ambassador of Conscience.

Sekretaris Jenderal Amnesty International Kumi Naidoo telah mengirimkan surat terkait pencabutan penghargaan ini. Dia mengekspresikan kekecewaan kepada Suu Kyi karena tidak menjaga HAM, menegakkan keadilan dan kesetaraan etnis Rohingya.

"Suu Kyi justru menutup mata terhadap kekejaman militer Myanmar dan meningkatnya serangan terhadap kebebasan berekspresi di negara tersebut," sebut pernyataan dari Amnesty International.

"Hari ini kami sangat kecewa bahwa Anda tidak lagi mewakili simbol harapan, keberanian, dan pembela HAM. Amnesty Internasional tak mempunyai alasan untuk tetap mempertahankan penghargaan ini," lanjut pernyataan itu. 

Penghargaan untuk Suu Kyi diberikan pada 2009. Kala itu, dia dianggap sebagai pahlawan HAM untuk warga yang tertindas di negaranya.



(WIL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id