Ketua Partai Kongres, Rahul Gandhi kalah telak dalam pemilu India. (Foto: AFP).
Ketua Partai Kongres, Rahul Gandhi kalah telak dalam pemilu India. (Foto: AFP).

Kalah Telak, Rahul Gandhi Kehilangan Jabatan di Partai Kongres

Internasional india
Arpan Rahman • 24 Mei 2019 19:08
New Delhi: Tatkala partai oposisi India, Partai Kongres, mengalami kekalahan telak pada Kamis, pemimpinnya, Rahul Gandhi, juga secara meyakinkan terjungkal dari kursi parlementer. Padahal konstituensi India utara mengirim tiga anggota keluarganya ke parlemen dalam setengah abad terakhir.
 
Baca juga: Partai PM Narendra Modi Menang Pemilu India.
 
Hilangnya kursi bagi benteng keluarga Amethi menggarisbawahi relevansi yang semakin merosot dari dinasti politik paling terkenal di Asia Selatan dalam "India baru" naungan Narendra Modi. Dibarengi penurunan visi pluralistik India yang identik dengan keluarga Nehru-Gandhi selama tujuh dekade terakhir.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Publik adalah tuan dan tuan telah membuat keputusan," Gandhi, 48, berkata pada konferensi pers di Delhi. Di sana, ia mengakui kekalahan dari kandidat partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa, Smriti Irani. Gandhi akan terus duduk di parlemen India tingkat kedua, Wayanad di negara bagian Kerala, yang ia menangkan dengan mudah pada Kamis.
 
Kongres kalah oleh partai Modi pada 2014 dan berkurang menjadi yang terburuk dari 44 kursi. Hasil Kamis lebih meningkat, tetapi hilangnya Amethi dan penetrasi BJP di timur, timur laut, dan selatan negara itu menegaskan bahwa partai Gandhi tersingkirkan sebagai satu-satunya
kekuatan politik nasional India.
 
Kekalahan itu akan mengumbar kembali pertanyaan tentang apakah Gandhi dan keluarganya harus menyerahkan kendali Kongres kepada sejumlah wajah baru, tepat seabad sejak kakek buyutnya, Motilal Nehru, mengambil alih pimpinan partai yang menuju gerakan kemerdekaan India.
 
Jawaharlal Nehru, kakek buyut Gandhi, sangat menentang nasionalisme Hindu dan berusaha membangun India sebagai negara sekuler, sebuah visi yang terus ditegakkan oleh partai modern.
 
Di bawah Modi, nasionalis Hindu paling setia yang pernah menduduki jabatan itu, tradisi tersebut menjadi mimpi buruk nasional yang panjang, bahkan disalahkan atas perpecahan di negeri anak benua.
 
"Dalam karaktermu itulah pembelahan India terjadi," kata Modi kepada Gandhi di parlemen, Februari lalu.
 
"Negara ini telah hancur berkeping-keping dan Anda menabur racun. Setelah 70 tahun merdeka, tidak satu hari pun berlalu ketika 125 crore (1,25 miliar) orang India tidak dihukum karena dosa-dosa Anda," tegasnya.
 
Kendati dinasti berlanjut merupakan hal biasa di media, bisnis, dan politik India, Modi sudah berhasil menarik kontras antara biografinya sebagai putra seorang penjual teh miskin dengan masa lalu Gandhi yang lebih cemerlang.
 
"Gandhi adalah keluarga yang kaya-raya," kata juru bicara BJP, Charu Pragya, yang menggemakan tuntutan umum.
 
"Mereka menyukai tempat mereka tinggal, mereka menyukai hidup mereka, liburan mereka. Mereka tidak mau melakukan perubahan. Bagi Modi perubahan datang dari dalam,” tegas Pragya.
 
Pendukung partai Kongres seperti Sam Pitroda berpendapat bahwa sejarah panjang keluarga Gandhi dalam politik harus dilihat sebagai aset.
 
"Mereka bukan anak-anak yang tumbuh di jalanan," katanya kepada Guardian bulan lalu. "Mereka membawa silsilah tertentu."
 
Baca juga: Jokowi Ucapkan Selamat ke Narendra Modi.
 
Dia ingat baru-baru ini bepergian ke negara Teluk bersama Gandhi, di mana mereka bertemu dengan seorang pemimpin yang lebih tua.
 
"(Penguasa) berkata kepadanya: 'Ketika saya pergi ke India, Anda berusia tiga tahun, dan Anda mengambil tutup kepala saya dan menaruhnya di kepala Anda.' Dia mengatakan kepada Gandhi bahwa dia seperti cucunya. Nah, itu aset," kata Pitroda, dikutip dari laman Guardian, Kamis 23 Mei 2019.
 
Priyanka Churvedi, mantan juru bicara Kongres yang bertikai dengan partai awal tahun ini dan bergabung dengan seteru, mengatakan partai perlu memahami bahwa India telah berubah.
 
"Negara ini sangat aspiratif," katanya. "Memiliki populasi mayoritas (lebih muda) dari 35. Mereka berterima kasih kepada pejuang kemerdekaan tetapi mereka tidak ingin dibawa kembali ke sana. Mereka ingin tahu apa yang tersedia bagi mereka di masa depan," pungkasnya.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif