Pedemo Hong Kong di depan Konsulat Inggris meminta dukungan internasional melawan Pemerintah Tiongkok. (Foto: AFP).
Pedemo Hong Kong di depan Konsulat Inggris meminta dukungan internasional melawan Pemerintah Tiongkok. (Foto: AFP).

Pedemo Hong Kong Serukan Dukungan Asing

Internasional hong kong
Arpan Rahman • 26 Juni 2019 19:05
Hong Kong: Para pengunjuk rasa di Hong Kong, Rabu, secara langsung meminta dukungan asing dalam upaya mereka untuk membela kebebasan politik kota itu. Langkah berisiko ini pasti akan memicu kemarahan Beijing.
 
Baca juga: Polisi Hong Kong Kecam Aksi 'Ilegal' Ribuan Demonstran.
 
Ratusan demonstran berkumpul di jantung distrik bisnis bekas jajahan Inggris, mengenakan kaus oblong bertuliskan ‘Bebaskan Hong Kong.’ Mereka kemudian berbaris ke konsulat Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Eropa buat menyerahkan surat yang meminta masalah Hong Kong agar diangkat pada KTT G20 di Osaka pada akhir pekan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Beijing telah menjelaskan bahwa mereka menganggap masa depan enklave semi-otonom, yang diubah menjadi kedaulatan Tiongkok pada 1997, sebagai masalah dalam negeri.
 
Presiden AS Donald Trump mengindikasikan akan berbicara tentang protes di Hong Kong dengan mitranya Xi Jinping di Osaka. Tetapi pihak Tiongkok mengatakan diskusi seperti itu tidak akan ditoleransi.
 
Para pengunjuk rasa menghendaki kekuatan asing menekan pemerintah Hong Kong untuk menarik — bukannya menunda — RUU kontroversial yang akan memungkinkan ekstradisi tahanan ke Tiongkok untuk kali pertama. Pemerintah mengatakan undang-undang itu diperlukan demi mencegah Hong Kong menjadi surga bagi para penjahat. Tetapi para penentangnya menyebutkan Beijing akan menggunakan tindakan itu buat menangkap para pembangkang dan aktivis dengan tuduhan yang dibuat-buat.
 
"Tujuan kami adalah membuat dunia lebih waspada tentang RUU ekstradisi di Hong Kong, dan bagi para pemimpin dunia untuk mengangkat ini sebagai topik diskusi selama KTT G20," kata ibu rumah tangga 44 tahun Teresa Yu, Rabu.
 
Dia mengusung papan bertuliskan gambar Gedung Putih dan kata-kata "Kami butuh bantuan" ketika dia berjalan ke konsulat AS. "Saya tidak tahu apakah akan berhasil, tetapi jika kita benar-benar tidak melakukan apa-apa, maka tidak akan ada peluang perubahan apa pun," ucapnya, dinukil dari TIME, Rabu 26 Juni 2019.
 
Seorang penyelenggara protes, yang bermarga Lau, berkata, "Gerakan ini menuntut banyak perhatian internasional. Kami berharap dapat menggunakan kesempatan ini sebelum KTT G20 guna mendapatkan lebih banyak dukungan internasional."
 

Sementara itu kampanye penggalangan dana sudah mengumpulkan lebih dari USD700.000 untuk memasang iklan terkemuka menentang RUU ekstradisi di Financial Times sebelum para menteri berkumpul di Osaka pada Jumat. Para pengunjuk rasa juga berencana memesan iklan di surat kabar di AS, Prancis, Jerman, dan Jepang, di antara sejumlah negara lain.
 
"Jika kita bisa membuat negara lain mendengar suara kita dan bertindak sesuai dengan itu, itu akan sangat membantu kita," kata seorang mahasiswa berusia 18 tahun, Timothy Li, ketika menyerahkan surat kepada wakil Konsul Jenderal Inggris Esther Blythe.
 
"RUU ekstradisi merupakan tantangan besar bagi hak asasi manusia universal, kemerdekaan, dan kebebasan. Kami berharap G20 akan memperluas suara kami ke tingkat internasional," katanya kepada kerumunan massa.
 
Dia menambahkan bahwa sebagai bekas kekuatan berdaulat Hong Kong, Inggris memiliki "tanggung jawab" menegakkan kebebasan yang dijanjikan kepada Hong Kong.
 
Baca juga: Demo Hong Kong Ricuh, Polisi Menembakkan Gas Air Mata.
 
Oposisi terhadap RUU di Hong Kong telah meluas jadi perjuangan yang menegangkan bagi demokrasi yang lebih besar. Pawai akbar pada 9 Juni dan 16 Juni dipandang sebagai penentangan yang menakjubkan terhadap administrasi pejabat tinggi kota, Carrie Lam didukung Beijing, yang menghadapi mosi tidak percaya di legislatif, Rabu.
 
Para pengunjuk rasa juga menduduki kantor-kantor pemerintah dan mengepung markas polisi dalam upaya membuat suara mereka didengar. Banyak yang marah pada apa yang mereka klaim sebagai penindasan atas protes oleh polisi. Inggris telah mengatakan akan menangguhkan penjualan gas air mata ke kepolisian Hong Kong sampai penyelidikan independen terhadap tuduhan tersebut dilakukan.
 
Para pemrotes Rabu mengatakan berencana pula menyerahkan surat di kedutaan Jepang, Kanada, Prancis, Jerman, dan lainnya. Konsulat Rusia menolak bertemu pengunjuk rasa.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif