Petugas menangkap seorang demonstran di Tuen Mun, Hong Kong, Sabtu 21 September 2019. (Foto: AFP/Nicolas ASFOURI)
Petugas menangkap seorang demonstran di Tuen Mun, Hong Kong, Sabtu 21 September 2019. (Foto: AFP/Nicolas ASFOURI)

Pedemo Hong Kong Bentrok dengan Aparat di Perbatasan

Internasional hong kong
Willy Haryono • 21 September 2019 18:27
Hong Kong: Demonstran Hong Kong terlibat bentrok singkat dengan aparat keamanan di dekat perbatasan Tiongkok pada Sabtu 21 September 2019. Bentrokan ini merupakan bagian dari gelombang aksi protes massa pro-demokrasi di Hong Kong yang telah memasuki pekan ke-16.
 
Disitat dari kantor berita AFP, polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet ke arah sekelompok pengunjuk rasa yang membangun barikade di pinggiran kota Tuen Mun dekat perbatasan Tiongkok.
 
Beberapa demonstran melemparkan batu bata, bahkan bom molotov ke arah petugas. Sejumlah orang ditangkap dalam bentrokan tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berlangsung selama belasan pekan, unjuk rasa di Hong Kong memiliki pola yang hampir sama. Aksi protes hampir selalu berlangsung pada akhir pekan, dan dimulai dengan damai pada pagi hari, namun berujung bentrok memasuki petang hingga malam.
 
Dalam aksi di pekan ke-16, demonstran bergerak bersama-sama dalam damai melewati jalanan kota Tuen Mun. Namun di tengah aksi, sekelompok pengunjuk rasa menurunkan bendera Tiongkok di luar sebuah kantor pemerintah. Bendera itu kemudian dibakar.
 
Ketegangan meningkat saat polisi bergerak menuju sebuah taman dan melakukan menangkap sejumlah pedemo. Ratusan aktivis yang melihat penangkapan tersebut kemudian mendirikan barikade dan mempersenjatai diri mereka dengan tongkat kayu.
 
Saat gas air mata dan peluru karet dilepaskan petugas, sebagian besar demonstran di Tuen Mun membubarkan diri. Namun sekelompok kecil pedemo tetap bertahan.
 
Calvin Tan, 22, adalah salah satu dari demonstran yang bertahan. Ia mengklaim banyak pedemo yang sudah mempersiapkan diri untuk "berjuang dalam waktu lama."
 
"Setiap aksi protes itu berguna, tak peduli seberapa kecil atau besar skalanya. Anggap saja seperti langkah kecil dalam perlombaan lari maraton," kata Tan.
 
Gelombang protes di Hong Kong awalnya dipicu Rancangan Undang-Undang Ekstradisi. Unjuk rasa tetap berlanjut meski pemimpin Hong Kong Carrie Lam telah menarik sepenuhnya RUU Ekstradisi. Demonstran kini menyerukan penegakan demokrasi, yang dinilai sudah semakin terkikis oleh intervensi Tiongkok.
 
Hong Kong adalah bekas koloni Inggris, yang sudah dikembalikan ke Tiongkok pada 1997 di bawah sistem "Satu Negara, Dua Sistem." Sistem tersebut menjamin otonomi Hong Kong.

 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif