Lima Hal Krusial dalam Pertemuan Korsel dan Korut
Warga menyaksikan pertemuan antara Presiden Moon Jae-in dan Kim Jong-un. (Foto: AFP)
Tokyo:  Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un akan melakukan pertemuan dengan Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in di Panmunjom, wilayah Zona Demiliterisasi (DMZ). Pertemuan Jumat 27 April 2018 ini merupakan yang pertama setelah 11 tahun.

Sebelum pertemuan, Korut mengambil beberapa inisiatif termasuk janji untuk mengakhiri uji coba nuklir dan rudal. Tidak hanya itu, kedua negara juga membuka sambungan telepon langsung.  Pemerintahan Kim Jong-un juga bersiap kehadiran pasukan Amerika Serikat (AS) di Semenanjung Korea dan menandatangani pakta non agresi.

Tetapi Korut sudah kerap menggunakan taktik serupa dalam negosiasi sebelumnya. Selain itu banyak yang mempertanyakan apa niat Jong-un sebenarnya. Menarik menelaah lima hal terkait pertemuan ini, yang disitir dari Daily Beast, Jumat 27 April 2018, seperti diantaranya:


Mengapa baru sekarang?
Korsel dan Korut secara teknis masih dalam status gencatan senjata usai Perang Korea 1950-1953. Tetapi kini memiliki pandangan sama yaitu mencegah intervensi militer AS di Semenanjung Korea.

Beragam sanksi ekonomi yang diterapkan oleh AS kepada Korut juga membuat Pyongyang sepakat lakukan negosiasi. Untuk pihak Korut waktunya jelas sangat tepat.

Perbedaan dengan pertemuan lalu?
Pertemuan. Antara Korea pertama dilakukan pada 2000 dan melibatkan ayah dari Jong-un, Kim Jong-il dengan Presiden Korsel saat itu Kim Dae-yung. Korut saat itu dalam kondisi krisis ekonomi dan kelaparan banyak terjadi. Hal ini yang memaksa Kim Jong-il untuk melakukan fitnah.

Pertemuan kedua terjdi pada 2007 saat Kim Jong-il diminta bernegosiasi dengan Presiden Korsel saat itu, Roh Moo-hyun. Pertemuan berakhir dengan kesepakatan untuk mengembangkan kawasan industri Kaesong. Saat itu AS khawatir bahwa bantuan ekonomi untuk Korut akan melemahkan upaya multiteral atas program nuklir Korut. 

Tetapi dalam pertemuan beberapa kali antara AS dan Korsel untuk pertemuan ini, Korsel memegang peran sebagai mediator pembicaraan damai Korut dan AS. Trump pun mencari kesepakatan dengan Kim, jelang pemilu.

Apa yang diinginkan pihak selatan?
Presiden Moon pada dasarnya sudah mengatasi permasalahan hubungan dengan Trump, dengan mengajukan diri sebagai mediator pertemuan Korut dan AS. Moon memiliki misi sebagai penengah agar Trump dan Kim Jong-un meraih kesepakatan.

Pertemuan AS-Korut akan berlangsung pada Mei atau Juni sudah menjadi tugas pihak Moon untuk melakukan percepatan proses denuklirisasi Korea.

Moon menegaskan bahwa Korsel harus menjadi penentu saat negosiasi denuklirisasi dengan Korut. Terbukti kebijakan dari Moon mengundang dukungan dari banyak warga.

Cara damai ini berbeda dengan pendahulu Moon yakni Park Geun-hye dan mengundang simpati rakyat. Kim Dae-jung memenangkan Nobel Perdamaian ketika membuka negosiasi dengan Korut pada 2000. Beberapa pihak menyebutkn Moon ingin meraih penghargaan serupa.

Apa harapan Korut?
Kim Jong-un menjadi pemimpin Korut pada 2011, sebelum dirinya mencapai usia 30. Tentunya dia memilki tujuan dalam negosiasi ini.

Tujuan utama adalah pencabutan sanksi yang diterima Korut. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melarang ekspor Korut berupa batu bara, bijih besi, tekstil dan barang-barang lainnya. Selain itu pasokan minyak Korut pun dipotong.

Utamanya Korut menginginkan jaminan keamanan bagi pemerintah dalam bentuk normalisasi diplomatik dengan AS. Sebagai gantinya Korut diharuskan hentikan program senjata nuklir. Kim Jong-un bisa saja menggunakan pertemuan itu untuk memperlihatkan dirinya sebagai pemimpin yang praktis yang mencari koeksistensi bukan konfrontasi.

Apa yang diraih pertemuan ini?
Korut dan Korsel ini menetapkan langkah bagi pertemuan Donald Trump dan Kim Jong-un yang sukses. Kedua belah pihak diperkirakan akan mengungkapkan perkembangan terakhir dari denuklirisasi.

Mereka juga bisa mengumumkan secara resmi diakhirinya Perang Korea 1953. Tetapi kedua pemimpin sepertinya tidak akan membahas hal spesifik.

Kedua Korea sepertinya juga akan memberikan konfirmasi untuk pembicaraan di masa mendatang seperti, denuklirisasi, perdamaian, isu kemanusian dan meningkatkan hubungan bilateral.




(FJR)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id