Australia Buat Undang-Undang Cegah Perbudakan Panti Asuhan
Ilustrasi oleh Medcom.id.
Canberra: Pemerintah Australia akan menindak panti asuhan yang menjadikan anak sebagai budak. Hal terkait ekploitasi anak yang berada di panti asuhan.

Hal ini dianggap sebagai yang pertama kali di dunia. Terutama di tengah peringatan bahwa anak-anak di negara-negara miskin sedang dikirim ke lembaga-lembaga untuk memenuhi permintaan yang menguntungkan untuk lembaga relawan barat.

RUU Perbudakan Modern disahkan oleh kedua majelis parlemen pada Kamis dan termasuk referensi eksplisit untuk ‘perdagangan dan atau eksploitasi anak-anak di panti asuhan'.


Di bawah undang-undang baru, apa yang disebut ‘perdagangan anak yatim piatu’ akan diperlakukan sebagai pelanggaran perbudakan dan perdagangan.

"Australia adalah negara pertama di dunia yang mengakui perdagangan anak-anak yatim sebagai bentuk perbudakan modern," kata Paul Ronalds dari Save the Children Australia, seperti dikutip AFP, Jumat, 30 November 2018.

Diperkirakan sekitar 80 persen dari delapan juta anak di panti asuhan di seluruh dunia memiliki orangtua atau keluarga yang dapat merawat mereka. Terkadang anak-anak diusir, dengan orangtua mereka percaya bahwa mereka akan mendapatkan pendidikan yang baik.

Menurut Save the Children, lebih dari 50 persen universitas di Australia mengiklankan penempatan anak-anak yatim piatu sebagai peluang kerja sukarela di luar negeri. Para aktivis berharap perubahan hukum akan menyebabkan warga Australia lebih berhati-hati ketika mereka menjadi sukarelawan di luar negeri.



(FJR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id