Forum Region Training on Women, Peace and Security' di Jakarta, Selasa 9 April 2019. (Foto: Marcheilla Ariesta/Medcom.id).
Forum Region Training on Women, Peace and Security' di Jakarta, Selasa 9 April 2019. (Foto: Marcheilla Ariesta/Medcom.id).

Kepemimpinan Perempuan di Masyarakat Bantu Cegah Konflik

Internasional hari perempuan internasional kemenlu
Marcheilla Ariesta • 09 April 2019 16:21
Jakarta: Perempuan berperan penting dalam rekonsiliasi konflik sosial. Banyak contoh perempuan yang berhasil membawa perdamaian agar konflik segera berakhir.
 
Koordinator Gerakan Perempuan Peduli, Suster Brigitta Renyaan mengatakan peran perempuan dalam rekonsiliasi konflik sangat dibutuhkan. Ini yang dialaminya saat konflik Maluku pada 1999.
 
"Kami semua korban dari konflik tersebut. Perempuan menjadi korban dari kekejaman konflik itu, namun kami juga bergerak untuk mencapai perdamaian," kata Suster Brigitta dalam 'Region Training on Women, Peace and Security' di Jakarta, Selasa 9 April 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Brigitta menuturkan, saat konflik terjadi para perempuan Maluku melakukan negosiasi dengan militer. Dia mengatakan, di tengah dentuman senjata, para perempuan bekerja.
 
"Usai perdamaian tercapai, kerja kami tak berhenti di situ. Kami memberikan trauma healing, kami juga memberikan pelatihan bagi perempuan, anak-anak, jurnalis, bahkan para pria yang kehilangan pekerjaan mereka," ungkapnya.
 
Hal yang sama juga disampaikan Founder of Mosintuwu Institute, Nerlian Gogali. Dia menuturkan sebagai agen perdamaian, perempuan harus maju, bersuara, dan bergerak.
 
Tak hanya itu, Komisioner Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan) Adriana Venny Aryani mengatakan perempuan juga harus bisa memimpin untuk membantu masyarakat mencapai perdamaian.
 
"Membangun kepemimpinan perempuan sebagai agen perdamaian akan membantu masyarakat mencegah konflik dan jika Anda dapat meminimalkan konflik, Anda dapat mengurangi dampaknya," tegas dia.
 
Region Training on Women, Peace and Security ini merupakan inisiatif dari Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi. Retno, yang merupakan Menlu perempuan pertama RI, mengatakan perempuan tak hanya sebagai bagian dari solusi perdamaian, namun juga sumber dari perdamaian itu sendiri.
 
Kegiatan ini dilakukan tiga hari, 8 hingga 10 April 2019, di Hotel Fairmont, Jakarta. Sebanyak 60 diplomat perempuan dari negara ASEAN, Timor Leste dan Papua Nugini, ikut berpartisipasi dalam agenda ini.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif