Warga menggunakan masker di tengah kualitas udara yang buruk di Seoul, Korsel, 25 Maret 2018. (Foto: AFP/ED JONES)
Warga menggunakan masker di tengah kualitas udara yang buruk di Seoul, Korsel, 25 Maret 2018. (Foto: AFP/ED JONES)

Seoul Diselimuti Debu Halus, Ancam Kesehatan Warga

Internasional korea selatan
Arpan Rahman • 15 Januari 2019 18:05
Seoul: Seoul, ibu kota Korea Selatan, dilanda debu ultrafine yang ukuran partikelnya berada di skala nano, Senin 14 Januari 2019. Debu ini juga dikenal sebagai karsinogen kelas satu, yang merupakan salah satu zat pemicu kanker.
 
Level partikel ultrafine harian di Seoul meningkat dari kategori normal ke angka yang cukup mengkhawatirkan, yakni 118 mikrogram per meter kubik pada Senin pukul 15.00 waktu setempat.
 
Menurut data Institut Nasional Riset Lingkungan Korsel, seperti dikutip dari kantor berita Yonhap, angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak pemerintahan berupaya menanggulanginya sejak 2015.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rekor tertinggi level debu ultrafine di Seoul terjadi pada 25 Maret tahun lalu. Kala itu, angkanya mencapai 99 mikrogram per meter kubik.
 
Otoritas Korsel menyebut level debu ultrafine di atas 35 mikrogram per meter kubik masuk kategori "buruk," dan di atas 75 mikrogram "sangat buruk." Sepanjang akhir pekan kemarin, level ultrafine di Seoul berkisar 80 hingga 90 mikrogram, yang memaksa warga menghindari aktivitas di luar.
 
Gelombang terbaru debu ultrafine di Seoul dimulai pada Jumat pekan lalu, yang terbang tertiup angin dari Tiongkok. Pekan kemarin, Wali Kota Seoul Park Won-soon mengecam pernyataan Tiongkok yang menyatakan bahwa Negeri Tirai Bambu tidak memiliki kaitan apa-apa mengenai debu halus di Semenanjung Korea.
 
Park menyebut dia memegang sejumlah laporan riset dari banyak laboratorium, yang menyebutkan sekitar 50 hingga 60 persen debu ultrafine di Korsel berasal dari Tiongkok.
 
Badan Meteorologi Korea menyebut level debu ultrafine dalam skala nasional akan mulai turun pada Selasa 15 Januari petang, saat angin dingin dari utara menurunkan temperatur dan mengembuskan partikel nano itu keluar dari Negeri Gingseng.
 
Pemerintahan Metropolitan Seoul melarang separuh dari jumlah kendaraan publik untuk turun ke jalan sebagai langkah darurat menghadapi dampak buruk debu ultrafine. Pembatasan ini merupakan kali ketiga usai Januari dan Maret tahun lalu. Kala itu, pemerintah Seoul melarang separuh kendaraan umum selama dua hari.
 
Kementerian Lingkungan Hidup Korsel juga berusaha menekan dampak buruk debu ultrafine dengan memerintahkan sejumlah pembangkit listrik tenaga panas bumi untuk mengurangi produksi hingga 80 persen.
 
Sebagian besar warga Seoul yang bekerja pada Senin 14 Januari menggunakan masker untuk melindungi diri dari partikel berbahaya. "Langit di sini dipenuhi banyak debu. Rasanya seperti melihat televisi berwarna hitam putih. Saya bahkan takut untuk bernapas," tutur seorang warga Seoul bernama Lee.
 
"Meski menggunakan masker, tenggorokan saya terasa sakit dan mata saya berair. Bahkan aroma udara terasa tidak sedap karena tebalnya debu," sebut seorang warga lain bernama Kim.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif