Ilustrasi oleh Medcom.id.
Ilustrasi oleh Medcom.id.

Penyakit Mirip SARS Tiongkok Khawatirkan Pakar Kesehatan

Internasional penyakit aneh
Arpan Rahman • 10 Januari 2020 19:12
Beijing: Wabah pneumonia virus di Tiongkok telah menyerang 59 orang mungkin disebabkan oleh coronavirus, famili virus di balik sindrom pernafasan akut yang parah/Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Otoritas kesehatan perlu mengawasi dengan cermat. SARS diketahui menyebar ke 37 negara pada 2003, menyebabkan kepanikan global dan menewaskan lebih dari 750 orang.
 
Tiongkok mengatakan penyakit itu bukan SARS (, atau Mers (sindrom pernafasan Timur Tengah). Kedua penyakit disebabkan oleh coronavirus, dan wabah sejauh ini tampaknya lebih ringan daripada keduanya. Tidak seperti SARS, tidak menyebar dengan mudah di antara manusia dan bukan seperti Mers, yang memiliki tingkat kematian sekitar 35 persen, tanpa korban yang meninggal.
 
Tetapi identifikasi dalam uji laboratorium awal oleh Tiongkok terhadap virus corona baru yang muncul sekali lagi dari hewan menulari manusia mengkhawatirkan para ahli kesehatan global. Ketika SARS muncul di Tiongkok pada 2002, tidak dengan cepat diidentifikasi dan dikendalikan. Ini menyebar ke seluruh dunia -- terutama ke Kanada -- melalui wisatawan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Epidemi penyakit yang diketahui dan tidak dikenal adalah salah satu ancaman kesehatan global terbesar kita -- ancaman yang selalu ada bersama kita,” ujar Direktur Wellcome sekaligus seorang ahli penyakit tropis, Jeremy Farrar.
 
"Sekelompok pasien dengan infeksi pernapasan yang tidak biasa, pasti mengkhawatirkan. Tingkat kekhawatiran meningkat lagi ketika penyakit terkait dengan sumber makanan hewani. Inilah bagaimana virus baru melompati penghalang spesies -- seperti halnya dengan SARS, MERS, flu burung, dan Ebola," tuturnya, dinukil dari Guardian, Kamis 9 Januari 2020.
 
Sumber virus belum diketahui tetapi penyelidikan telah berpusat di pasar di Wuhan yang menjual hewan hidup dan makanan laut. Asal usul SARS akhirnya ditelusuri pada kelelawar di sebuah gua di Provinsi Yunnan di Tiongkok. Unta dromedaris adalah sumber MERS, meskipun diduga mereka juga semula terinfeksi oleh kelelawar.
 
Badan Kesehatan Dunia mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihak berwenang Tiongkok percaya penyakit itu "tidak menular dengan mudah di antara manusia", tetapi itu dapat menyebabkan penyakit parah pada beberapa pasien.
 
Tujuh orang diketahui sakit kritis pada akhir pekan. Otoritas Tiongkok belum memperbarui angka sejak Minggu. Televisi pemerintah melaporkan delapan orang dibawa ke rumah sakit dengan masalah pernapasan telah dipulangkan.
 
"Diperlukan informasi yang lebih komprehensif untuk mengkonfirmasi patogen, serta untuk lebih memahami epidemiologi wabah, gambaran klinis, penyelidikan untuk menentukan sumber, cara penularan, tingkat infeksi dan penanggulangan yang diterapkan," kata WHO.
 
Pengalaman SARS sudah memicu perilaku pencegahan di Hong Kong, di mana orang-orang yang datang dari Wuhan sedang diperiksa atas gejala-gejala seperti flu dari penyakit pernapasan. Beberapa orang telah dirawat di rumah sakit, tetapi tidak ada yang terbukti mengidap pneumonia virus dari jenis yang ditemukan di Tiongkok.
 
Farrar mengatakan salah satu masalah utama adalah apakah infeksi tersebut berpindah dari satu orang ke orang lain. "Apakah dokter dan perawat merawat pasien, atau anggota keluarga, yang belum pernah terpapar sumber yang sama, juga sakit?" tanyanya.
 
"Jika infeksi tidak menular dari satu orang ke orang lain, maka tingkat kekhawatiran agak berkurang -- meskipun itu selalu dapat terjadi kemudian dan infeksi dapat berubah," sambungnya.
 
Tampaknya tidak ada kasus yang baru dikonfirmasi di Wuhan selama sekitar dua pekan, katanya, meyakinkan.
 
"Karena itu, otoritas kesehatan di Tiongkok harus meluangkan waktu yang diperlukan untuk melakukan tes menyeluruh dan memastikan diagnosis yang benar. Ketika respons kesehatan masyarakat tergesa-gesa, masalah menyusul -- seperti yang kita lihat dengan respons awal terhadap wabah Nipah pada 1999," katanya.
 
"Walaupun identifikasi awal dari virus baru ini adalah bukti dari pemantauan yang jauh lebih baik, komunitas kesehatan global masih memiliki banyak hal yang harus dilakukan guna mengatasi kesiapsiagaan epidemi global. Kita masih belum memiliki vaksin atau pengobatan untuk SARS atau MERS, yang telah lama kita kenal sebagai ancaman epidemi," pungkasnya.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif