Farid Ahmad mengaku tidak membenci Brenton Tarrant, pelaku aksi teror yang terjadi di Christchurch, Selandia Baru, pada 15 Maret 2019. (Foto: AFP/DAVID MOIR)
Farid Ahmad mengaku tidak membenci Brenton Tarrant, pelaku aksi teror yang terjadi di Christchurch, Selandia Baru, pada 15 Maret 2019. (Foto: AFP/DAVID MOIR)

Suami Korban Penembakan di Selandia Baru Maafkan Pelaku

Internasional Penembakan Selandia Baru
Arpan Rahman • 17 Maret 2019 20:04
Christchurch: Seorang pria yang istrinya tewas dalam penembakan di Christchurch, Selandia Baru, mengaku tidak membenci pelaku aksi teror. Ia berkukuh bahwa memberi maaf adalah jalan terbaik untuk melanjutkan hidup.
 
Pelaku penembakan adalah Brenton Tarrant, pria 28 tahun asal Australia. Dengan menggunakan senjata semi-otomatis, Tarrant membunuh 50 orang dan melukai puluhan lainnya.
 
"Saya akan berkata kepadanya (Tarrant), 'Saya menghormati Anda sebagai seorang manusia," tutur Farid Ahmad kepada kantor berita AFP, Minggu 17 Maret 2019. "Saya tidak dapat menerima perbuatannya. Apa yang telah dia lakukan itu salah," lanjutnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saat ditanya apakah akan memaafkan Tarrant, Farid menjawab: "Tentu saja. Hal terbaik adalah memaafkan, bermurah hati, mencintai, peduli dan selalu positif."
 
Husna Ahmed adalah satu dari empat perempuan yang menjadi bagian dari korban tewas penembakan di dua masjid di Christchurch. Penembakan brutal tersebut terjadi saat para Muslim sedang menunaikan ibadah salat Jumat pada 15 Maret.
 
Saat penembakan terjadi, Husna mencoba menolong beberapa orang untuk melarikan diri dari area khusus wanita dan anak-anak. "Istri saya berteriak, 'ayo lewat sini, cepat.' Dia menggiring banyak perempuan dan anak-anak ke wilayah taman," kata Farid.
 
"Lalu dia kembali ke masjid untuk menolong saya, karena saya berada di kursi roda. Dan saat mendekati gerbang masjid, istri saya tertembak. Dia sibuk menolong orang hingga melupakan dirinya sendiri," ungkap Farid.
 
Farid, 59, lumpuh dan harus selalu duduk di kursi roda sejak ditabrak kendaraan pada 1998. Dia menyebut dirinya berhasil selamat karena Tarrant lebih fokus menembaki target lain di sekitar masjid.
 
"Pelaku melepaskan dua hingga tiga tembakan ke satu orang. Hal tersebut memberi kami waktu untuk melarikan diri. Pelaku bahkan menembak kembali beberapa korban yang sudah meninggal," ujar Farid.
 
Kematian Husna baru diketahui Farid lewat foto seseorang di lokasi kejadian. "Foto istri saya muncul di media sosial. Seseorang menunjukkannya kepada saya, dan saya mengidentifikasinya dengan mudah," sebut Farid.
 
Tarrant merekam aksinya saat menembaki puluhan orang tak berdosa di Christchurch. Dia sudah didakwa pasal pembunuhan dalam persidangan di gedung pengadilan distrik Christchurch pada Sabtu 16 Maret.
 
Sebelum beraksi, Tarrant sempat merilis sebuah manifesto berisi pandangan ekstrem sayap kanan. Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengaku menerima manifesto itu di kantornya beberapa menit sebelum kejadian.
 
Baca:Pria Pemberani Sempat Tantang Teroris di Christchurch
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif