Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Zainal Abidin Bakar pastikan komitmen untuk jaga perairan. Foto: Medcom.id/Marcheilla Ariesta.
Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Zainal Abidin Bakar pastikan komitmen untuk jaga perairan. Foto: Medcom.id/Marcheilla Ariesta.

Militer Malaysia Tegaskan Perkuat Komitmen Patroli di Sabah

Internasional indonesia-malaysia wni disandera abu sayyaf
Marcheilla Ariesta • 24 Januari 2020 13:07
Kuala Lumpur: Angkatan Tentera Malaysia (ATM) mengatakan sangat serius menanggapi penculikan lima warga negara Indonesia (WNI) di perairan Sabah. Inisiden ini sudah berulang kali terjadi di wilayah yang sama, dan paling teranyar terjadi pada 16 Januari 2020 lalu.
 
"ATM senantiasa mengimplementasikan kesepakatan patroli bersama antara Malaysia, Indonesia dan Filipina. Ini ditegaskan ke semua pemangku kepentingan kesepakatan tiga negara itu untuk memperkuat keselamatan maritim secara terpadu di perairan Laut Sulu," kata ATM dalam pernyataan yang diterima Medcom.id, Jumat 24 Januari 2020.
 
Mereka menambahkan selama ini sudah bekerja sama dengan pihak keamanan laut dalam negeri untuk patroli di perairan Sabah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"ATM senantiasa berkomitmen untuk memastikan kesepakatan patroli secara bersama antara Malaysia, Indonesia dan Filipina dilaksanakan sepenuhnya, termasuk meneruskan kerja sama dengan berbagai agensi keselamatan lain dari Malaysia untuk memperkuat keselamatan kawasan maritim di Laut Sulu dan Pantai Timur Sabah," imbuhnya.
 
Pada 16 Januari 2020, lima WNI kembali diculik Kelompok Abu Sayyaf di perairan Sabah, Malaysia. Insiden ini terjadi hanya berselang sehari setelah pembebasan Muhammad Farhan yang sebelumnya disandera pada 23 September 2020.
 
Saat penyerahan Farhan kepada keluarga kemarin, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan telah memanggi Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Zainal Abidin Bakar untuk membahas masalah penculikan ini. Retno mengatakan Indonesia meminta komitmen kembali Pemerintah Malaysia sesuai dengan kesepakatan trilateral antara Indonesia, Malaysia dan Filipina, terkait keamanan di perairan rawan tersebut.
 
Menlu juga meminta agar perusahaan pemilik kapal dapat mematuhi aturan yang sudah ditetapkan Pemerintah Malaysia. Negeri Jiran sudah mengatur adanya curfew (jam malam) untuk para nelayan agar tidak melaut di perairan Sabah yang rawan penculikan tersebut.
 
Dubes Malaysia saat ditemui awak media membenarkan perihal pemanggilan dirinya ke Kemenlu. Dia menegaskan negaranya tetap memegang komitmen perjanjian trilateral untuk berpatroli dan menjaga keamanan.
 
Dari data Kemenlu RI, sebanyak 44 WNI disandera kelompok Abu Sayyaf dalam kurun waktu 2016 hingga 2020. Jumlah tersebut ditotal dari 13 penculikan, yang mayoritas terjadi di perairan Sabah, Malaysia.
 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif