Helikopter Afghanistan menyelamatkan warga di dekat sebuah truk yang terbalik di tengah banjir di Kandahar, 2 Maret 2019. (Foto: AFP/JAVED TANVEER)
Helikopter Afghanistan menyelamatkan warga di dekat sebuah truk yang terbalik di tengah banjir di Kandahar, 2 Maret 2019. (Foto: AFP/JAVED TANVEER)

Afghanistan Dilanda Banjir Terparah dalam Tujuh Tahun

Internasional banjir bandang afghanistan
Arpan Rahman • 06 Maret 2019 15:18
Kabul: Afghanistan dilanda musibah banjir terparah dalam tujuh tahun terakhir. Banjir telah menewaskan 20 orang, merusak ribuan rumah dan membuat banyak keluarga kehilangan tempat tinggal serta kekurangan makanan.
 
Musibah mengejutkan ini, yang melanda delapan provinsi termasuk Kandahar, terjadi saat Wakil Perwakilan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Afghanistan Toby Lanzer mengkritik Komisi Eropa yang dinilai "tidak cukup" bertindak dalam merespons kelaparan dan penderitaan warga Afghanistan.
 
Lanzer mengaku "terkejut" dengan rendahnya bantuan dari para donor global terhadap Afghanistan, yang dilanda konflik bersenjata sejak bertahun-tahun dan kini diterpa musibah banjir. Menurutnya, lebih dari 13 juta warga Afghanistan kesulitan mendapat makanan, dan 3,6 juta lainnya sudah hampir masuk kategori kelaparan berat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Level kelaparan ini belum pernah terjadi sebelumnya, setelah Afghanistan dilanda kekeringan selama sebelas bulan yang terjadi di wilayah utara serta barat," sebut dia.
 
"Afghanistan dilanda tingginya gelombang kekerasan, dan ditambah kekeringan, musim dingin, banjir serta kemiskinan. Ini realitas yang sangat mengerikan," tutur Lanzer, seperti disitat dari laman Guardian, Rabu 6 Maret 2019.
 
PBB telah menetapkan target penggalangan dana USD612 juta (setara Rp8,6 triliun) untuk membantu warga Afghanistan. Namun sejauh ini, per akhir Februari lalu, target dana tersebut baru tercapai tiga persen.
 
Akhir pekan kemarin, Agensi Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB mengatakan banjir telah merendam kota Kandahar dan sejumlah distrik di provinsi. Hujan dengan intensitas 97 milimeter turun di Kandahar selama hampir 30 jam.
 
"Sepuluh orang, termasuk anak-anak, masih dinyatakan hilang," agensi PBB tersebut.
 
"Diestimasi ada sekitar 2.000 rumah yang rusak dalam banjir ini," lanjutnya. Banjir juga diyakini telah merusak banyak bangunan lain di Kandahar.
 
Wakil Gubernur Kandahar Abdul Hanan Moneeb menyebut ini adalah banjir terburuk di wilayahnya dalam tujuh tahun terakhir. Ia khawatir akan ada banyak korban jiwa karena wilayah terdampak banjir dihuni sejumlah peternak nomad.
 
Bencana alam seperti tanah longsor dan banjir bandang sering menghantam area pegunungan dan perbukitan di Afghanistan. Bencana biasanya terjadi saat salju mencair di musim semi dan panas. Risiko bencana alam di Afghanistan juga diperparah deforestasi.
 
Baca:Banjir Bandang di Afghanistan Tewaskan 20 Orang
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif