Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern perkenalkan aturan ketat peredaran senjata. Foto: AFP
Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern perkenalkan aturan ketat peredaran senjata. Foto: AFP

Selandia Baru Makin Memperketat Peredaran Senjata

Internasional selandia baru
Medcom • 13 September 2019 19:10
Wellington: Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern memperkenalkan rancangan undang-undang (RUU) baru ke parlemen. RUU ini bertujuan untuk memperketat undang-undang senjata api.
 
RUU itu dikeluarkan enam bulan sejak penembakan massal di Christchurch yang menewaskan 51 jamaah Muslim.
 
Ini adalah rangkaian reformasi senjata kedua Selandia Baru setelah Undang-Undang senjata api yang lemah diidentifikasi sebagai alasan utama mengapa tersangka supremasi kulit putih, dapat memiliki senjata semi-otomatis. Senjata itu digunakan untuk membunuh orang-orang yang berkumpul di dua masjid untuk pada 15 Maret.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Brenton Tarrant Australia telah didakwa atas serangan tersebut dan mengaku tidak bersalah. Pemerintah medapat dukungan hampir bulat di parlemen ketika sebelumnya mengesahkan Undang-Undang yang melarang senjata semi-otomatis (MSSAs) gaya militer dalam putaran pertama reformasi dalam beberapa minggu setelah serangan. Adapun penembakan yang terjadi di Negeri Kiwi merupakan yang terburuk di waktu damai.
 
“Memiliki senjata api adalah hak istimewa. Serangan tersebut mengungkap kelemahan dalam undang-undang yang kita punya. Pemerintah memilki kekuatan untuk memperbaikinya,” ucap Jacinda Arden, seperti dikutip AFP, Jumat, 13 September 2019.
 
RUU baru, rinciannya telah dipublikasikan dan yang akan dibaca pertama pada 24 September. Aturan itu akan mencangkup pembuatan registri untuk memantau dan melacak setiap senjata api yang secara hukum diadakan di Selandia Baru.
 
RUU ini juga memperketat aturan lain bagi para penjual senjata dan bagi individu untuk mendapatkan dan menjaga lisensi senjata api. Perpanjangan lisensi untuk perorangan juga dikurangi menjadi lima tahun dari sepuluh tahun.
 
Upaya Selandia Baru pada pengendalian senjata telah mendapat pujian global. Namun Ardern juga menghadapi perlawanan dari partai oposisi dan kelompok lobi kelompok oposisi federal, yang mengindikasikan mereka tidak akan mendukung Undang-Undang senjata yang lebih ketat karena mereka menargetkan pemilik senjata api yang patuh pada hukum.
 
Pemerintah juga dikecam baru-baru ini oleh kritikus atas skema pembelian kembali senjata api yang telah memberi pemilik senjata hingga 20 Desember untuk menyerahkan senjata yang telah dilarang.
 
Lebih dari 19.100 senjata api dan sekitar 70.800 aksesoris senjata telah diserahkan sejauh ini, yang menurut sejumlah kritikus lebih sedikit dari yang perkirakan.
 
Dengan populasi hanya di bawah 5 juta diperkirakan 1,5 juta senjata api, Selandia Baru berada diurutan 17 di dunia dalam hal kepemilikan senjata api sipil, menurut survei Small Arms.
 
Ardern, yang berada di Christchurch untuk menadai enam bulan sejak serangan Maret, juga mengumumkan lebih banyak dana untuk memenuhi kebutuhan kesehatan mental orang-orang yang terkena dampak penembakan itu.
 
“Sangat penting bagi para penyitas, keluarga, komunitas Muslim, dan masyarakat Christchurch tahu bahwa kita akan berada di sana untuk mendukung mereka dalam jangka panjang,” katanya.
 
Pemimpin berusia 39 tahun ini telah dielukan secara global atas dukungannya yang penuh belas kasihan dan sepenuh hati untuk para korban penembakan massal, menjadikannya sebagai ikon internasional untuk perdamaian.
 
Namun, berbulan-bulan setelah serangan tersebut, kritik semakin meningkat setelahnya, termasuk proses hukum yang berkepanjangan dan penanganan penyelidikan pemerintah terhadap penembakan.
 
Ardern juga berada di bawah tekanan dari skandal seks yang merusak partainya.
 

 
Penulis: Fitri Nur Rizkyani
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif