Sejumlah pejabat tinggi di Korea Utara diganti. (Foto: AFP).
Sejumlah pejabat tinggi di Korea Utara diganti. (Foto: AFP).

Korut Ganti Sejumlah Pejabat di Bawah Tekanan Sanksi AS

Internasional korea utara
Marcheilla Ariesta • 12 April 2019 09:44
Pyongyang: Korea Utara mengganti sejumlah pejabat tingginya, termasuk pejabat negara yang mewakili Pyongyang dalam berbagai keterlibatan internasional.Penggantian para pejabat inidilakukan di bawah sanksi Amerika Serikat (AS) atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia.
 
Presiden Majelis Rakyat Tertinggi, Kim Yong-nam digantikan oleh Choe Ryong Hae pada Kamis 11 April 2019. Kim Yong-nam merupakan salah satu pejabat terlama Korut. Pria 91 tahun itu muncul dalam sejumlah pertemuan internasional tahun lalu, termasuk Pertemuan Tingkat Tinggi dengan para pemimpin AS, Tiongkok dan Korea Selatan.
 
Yong-nam juga hadir dalam Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang yang menjadi awal terbangunnya kembali hubungan Korut dan Korsel.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Gelar resmi Yong-nam adalah presiden presidium Majelis Rakyat Tertinggi. Dia telah 20 tahun memegang jabatan itu.
 
Penggantinya, Choe, dianggap sebagai tangan kanan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un. Dia lahir pada 1950 dan menunjukkan perubahan generasi dalam kepemimpinan Korea Utara.
 
"Dia merupakan salah satu dari tiga pejabat Pyongyang yang disanksi AS tahun lalu karena tuduhan pelanggaran hak asasi manusia," demikian diberitakan kantor berita Korut (KCNA).
 
Dilansir dari laman AFP, Jumat 12 April 2019, tak hanya posisi Kim Yong-nam yang mendapat perubahan. Negosiator nuklir Kim Yong Chol dan lainnya yang terlibat dalam KTT Korut-AS di Hanoi terpilih sebagai anggota Komisi Urusan Negara.
 
Menteri Luar Negeri Ri Yong-ho dan Wakil Menlu Choe Son Hui juga dipromosikan menjadi badan pembuat keputusan Korea Utara. Sementara Perdana Menteri Pyongyang Pak Pong Ju digantikan dengan Kim Jae Ryong, anggota senior Partai Buruh Korea yang berkuasa.
 
Mantan PM Pak dilaporkan membantu mengatur 'reformasi radikal' ekonomi Pyongyang yang terisolasi. Ini memungkinkan negara komunis itu bertahan dari sanksi.
 
Sementara itu, Kim Jong-un awal pekan ini bersikeras mengatakan Pyongyang akan mengatasi dampak sanksi itu. Ini pertama kalinya dia berkomentar resmi usai pembicaraan denuklirisasi yang gagal dengan Washington di Vietnam, Februari lalu.

 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif