Resepsi Diplomatik Indonesia digelar di New Delhi, India, Jumat 8 November 2019. (Foto: KBRI New Delhi)
Resepsi Diplomatik Indonesia digelar di New Delhi, India, Jumat 8 November 2019. (Foto: KBRI New Delhi)

Batik dan Wastra Warnai Resepsi Diplomatik KBRI New Delhi

Internasional indonesia-india
Willy Haryono • 10 November 2019 19:08
New Delhi: Bertema "Pesta Nusantara," KBRI New Delhi menggelar Resepsi Diplomatik dalam rangka merayakan HUT ke-74 Republik Indonesia di Leela Palace Hotel, New Delhi, Jumat 8 November.
 
Acara berlangsung semarak sejak awal hingga akhir, yang begitu dipadati para tamu undangan. Dekorasi dan warna-warni ornamen yang menghiasi tempat acara semakin menghadirkan nuansa kental Indonesia.
 
Helatan Resepsi Diplomatik kali ini menjadi lebih istimewa, karena Indonesia dan India juga tengah merayakan 70 tahun hubungan diplomatik (1949-2019). Tahun ini merupakan momen bersejarah bagi kedua negara yang layak disyukuri bersama.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kedekatan kedua negara yang terjalin harmonis selama ini telah melahirkan kerja sama progresif di berbagai lini sektor potensial. Indonesia dan India memiliki target besar, yakni proyeksi perdagangan sebesar USD50 miliar (setara Rp700 triliun) pada 2025, dari angka saat ini yang hampir menyentuh USD19 miliar atau Rp266 triliun.
 
Hadir sebagai tamu utama pada malam Resepsi Diplomatik adalah Shri T.S. Trimurti, Sekretaris Bidang Ekonomi Kementerian Luar Negeri India. Bagi Shri, Indonesia bukan negara asing, bahkan dirinya memiliki ikatan emosional secara historis dengan Indonesia. Beliau pernah tinggal di Jakarta saat menjabat sebagai Wakil Duta Besar India untuk Indonesia.
 
Kepada para tamu undangan, Duta Besar Indonesia untuk India Arto Suryodipuro menyampaikan bahwa saat ini Indonesia dan India telah memasuki era baru kerja sama bilateral progresif di berbagai bidang. Meski demikian, masih banyak lagi potensi yang dapat dieksplorasi secara berkelanjutan untuk kepentingan rakyat kedua bangsa.
 
Dalam menghadapi tantangan global yang semakin komplek saat ini, Indonesia dan India harus saling mendukung dan berdiri sejajar dalam memperjuangkan kepentingan bersama di kancah internasional.
 
Sekitar 400 tamu undangan dari berbagai latar belakang hadir dalam acara tersebut, seperti anggota parlemen, pengusaha, akademisi, korps diplomatik dan diaspora Indonesia. Beberapa tamu juga tampak mengenakan baju batik untuk menunjukkan kedekatannya dengan Indonesia, di antaranya adalah Dubes Brunei Darussalam dan Diplomat dari Jepang. Selain itu, ada juga WNA asal Amerika Serikat yang mengenakan pakaian adat Beskap Jawa lengkap dengan blangkonnya.
 
Untuk menghadirkan suasana kedaerahan, Dubes Arto bersama jajaran KBRI New Delhi mengenakan pakaian tradisional nusantara. Pejabat laki-laki mengenakan batik lengan panjang dan kopiah hitam, sementara yang perempuan mengenakan wastra atau kain tradisional Nusantara yang dikombinasikan dengan batik, songket dan berbagai paduan yang mencerminkan nilai-nilai kedaerahan Indonesia.
 
Tak luput dari pusat perhatian, penampilan Dubes Arto dan istrinya, Dewi Ratna Suryodipuro, juga membuat banyak mata memandang. Dubes Arto mengenakan Beskap Solo (hitam) dan songket Palembang berwarna dasar merah dengan goresan motif keemasan, mencerminkan karakteristik kepemimpinan yang kuat.
 
Tak kalah menarik, Ibu Dewi R. Suryodipuro bersanggul nasional mengenakan Kebaya (batik) Kartini panjang berwarna kuning keemasan dengan gradasi warna kemerahan dan berkain songket. Meski tampak sederhana, namun tetap anggun dan elegan.
 
Batik dan Wastra Warnai Resepsi Diplomatik KBRI New Delhi
Dubes Arto beserta istri menyambut kedatangan tamu undangan. (Foto: KBRI New Delhi)
 
Malam diplomatik semakin meriah dengan penampilan live show kolaborasi dua artis dari Indonesia dan India, yaitu harpis tanah air Maya Hasan dan pemain biola terkenal India Sunita Bhuyan. Mereka membawakan lagu-lagu daerah dan kontemporer India maupun Indonesia, seperti Angin Mamiri, Sipatokaan, Sempurna, Cintaku, Love Never Felt So Good, Kopi Dangdut, Last Flower, Save The Last Dance, Sepanjang Jalan Kenangan, dan sebuah lagu India yang digandrungi oleh para pecinta Bollywood Indonesia, yaitu Kuch-kuch Hota Hai.
 
Tabuhan tabla dan dentingan piano juga turut memperkaya musikalitas duet kolaborasi Maya Hasan dan Sunita Bhuyan malam itu. Para tamu turut menikmati suasana kemeriahan. Tak terkecuali, Dubes Filipina yang ikut berdansa terbawa suasana serta ritme lagu yang dinyanyikan oleh Ronald Silitonga, penyanyi jebolan ajang Indonesian Idol.
 
Para tamu juga disuguhkan berbagai ragam menu khas nusantara yang otentik dan lezat dengan tampilan penyajian yang menarik. Menu utama antara lain soto ayam, ayam panggang, rendang, ikan bakar slice, tahu kukus, tumis kangkung dan tentunya tidak ketinggalan menu favorit sate ayam dan gado-gado.
 
Menu tersebut merupakan menu khas Indonesia yang sebelumnya diperkenalkan oleh 4 Chef ternama Indonesia (Yuda Bustara, Kevindra Sumantri, Gupta Sitorus, dan Primo Rizky) pada acara Food Festival 2019 yang diadakan KBRI New Delhi pada Agustus lalu. Saat ini menu tersebut sudah jadi menu tetap untuk Asian Section, restoran the Qube, The Leela Palace Hotel, New Delhi.
 
Untuk melengkapi sajian malam diplomatik, tak lupa beraga menu India ikut disajikan, antara lain paneer spring onion masala, dal jamavar dan beberapa jeni roti khas India seperti butter naan, laccha pudiana parantha dan missi roti.
 
Sementara menu kudapan yang disajikan adalah kolak pisang, dadar gulung dan puding sagu. Terdapat beragam komen positif disampaikan oleh para tamu yang memuji kelezatan kuliner Indonesia.
 
Batik dan Wastra Warnai Resepsi Diplomatik KBRI New Delhi
Penampilan musik di Resepsi Diplomatik Indonesia. (Foto: KBRI New Delhi)

 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif