Ilustrasi oleh Medcom.id.
Ilustrasi oleh Medcom.id.

Eksploitasi di Kapal Taiwan, Pelaut WNI Selamatkan Diri

Internasional nelayan taiwan perlindungan wni
Sonya Michaella • 06 September 2019 07:08
Jakarta: Penipuan pelaut atau nelayan Indonesia oleh pihak asing masih kerap terjadi. Salah satunya yang dialami warga negara Indonesia berinisial 'SP' yang bekerja sebagai kapten darikapal berbendera Taiwan.
 
Setelah satu tahun bekerja, SP dan lima WNI lainnya merasa ada yang tidak beres dengan kapal tersebut. Ponsel SP juga sempat disita sehingga ia tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga di Tanah Air.
 
“SP berhasil kabur ketika kapal sandar di Penang dan ditahan oleh otoritas Malaysia. Dari situ ia membeli kartu selular Malaysia dan menginstal aplikasi Safe Travel,” kata pelaksana harian (Plh) Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI Judha Nugraha kepadaMedcom.id, di Jakarta, Kamis 5 September 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ketika ia membuka aplikasi Safe Travel, lanjutnya, SP langsung memencet tombol bantuan dan terhubung ke KJRI Penang. Kemudian, tim KJRI Penang langsung mendatangi lokasi ditahannya kapal dan memeriksa isi kapal.
 
“Awalnya ia menghubungi istrinya ketika dia berhasil membelisimcardMalaysia. Lalu istrinya menghubungi Pusat Sumber Daya Buruh Migran (PSD BM), Infest Yogyakarta,” ungkap Judha.
 
Sebelum mendatangi lokasi kapal, KJRI Penang melaporkan kasus SP pada kepolisian maritim Malaysia. Kepolisian Maritim Malaysia bersama dengan otoritas lain kembali menggeledah kapal dan menginterogasi satu per satu orang-orang yang berada di atas kapal.
 
“Otoritas Malaysia meminta orang Taiwan untuk menyerahkan orang-orang Indonesia yang berada di atas kapal pada KJRI Penang,” ujarnya lagi.
 
SP bersama dengan orang-orang Indonesia lain akhirnya dibawa ke KJRI Penang. Selama beberapa hari SP dan teman-temannya tinggal di KJRI Penang. Dibantu oleh KJRI Penang, negosiasi dengan agensi perusahaan mengenai gaji dan biaya pemulangan dilaksanakan.
 
Awalnya, SP menerima tawaran kerja sebagai kapten kapal perusahaan Taiwan dari adik kelasnya sewaktu sekolah di pelayaran. SP menerima pekerjaan sebagai kapten kapal kargo dengan gaji USD2.500 per bulan.
 
Pada 25 Juni 2019, SP berangkat ke Jakarta untuk melakukanmedical check up.Di Jakarta, ia mendapatkanLetter of Guaranteedan langsung diberangkatkan ke Singapura pada 27 Juni 2019.


Alasan selamatkan diri


Jumlah penghasilan yang diterima oleh SP cukup menggiurkan. Tetapi hal itu harus dibayar mahal ketika dirinya mulai bekerja di atas kapal.
 
Berangkat dari Jakarta kemudian ke Singapura di mana agensinya berada, SP kemudian diantar ke kapal. Seperti dikutip dari laman buruhmigran.or.id pada 4 September 2019, SP bekerja bersama sembilan pelaut, termasuk lima dari Indonesia, tiga dari Thailand dan satu asal Taiwan.
 
Selama bekerja sebagai kapten kapal dirinya harus mengikuti arahan dari orang Taiwan yang tidak jelas jabatannya. Muncul kecurigaan mengenai mengenai muatan kapal, namun dari pihak Taiwan tidak bisa memberikan jawaban konkret.
 
“Sayatidaktahusecara pastibarangapayangdiangkut oleh kapal. Padahal, kapal berbobot 1.800-an GT (gross tonnage). Terlihat kapal selalu kosong, tapi melakukan bongkar muat di tengah laut. Saya curiga, ada yang tidak beres.Apalagi sayabersama denganteman-temandiminta untuk masuk kamar dan dikunci dari luar ketika bongkar muat barang,”ujar SP kepada Buruh Migran.
 
Ketika naik ke atas kapal,dokumen-dokumen milik SP ditahan oleh orang Taiwan. Tidak hanya menahan dokumen, pihak dari Taiwan juga mengambil paksa telepon genggam SP dan me-resetnyasehingga tidakdapatterhubung dengan internet. SP hanya dapat berkomunikasi dengan istrinya melalui SMS ketika mendapatkan sinyal dari perairan Indonesia.
 
Tidak hanya itu perjalanan kapal yang dikemudikan SP selalu berubah-ubah atas perintah pihak Taiwan, padahal SP adalah kapten kapal yang seharusnya berhak menentukan kendali kapal. Satu hal yang penting adalah, setelah satu bulan bekerja, SPjugatidak mendapatkan gajinya, hak komunikasi SP juga masih tetap dibatasi oleh pihak Taiwan. Mereka juga mengancam SP dan teman-teman lain agar tidak berbuat macam-macam.
 
“Keluarga saya di Indonesia juga terancam tidak selamat jika saya melakukan hal yang membahayakan kapal atau orang Taiwan,” kata SP.
 
SP dan beberapa orang Indonesia mengutarakan niatnya untuk berhentibekerjadari kapal. Atas niatan itu, pihak Taiwan menyanggupi danakan menganti awak Indonesia yang berniat untuk pulangketika mereka mendapatkan ganti orang-orang baru. Namun, janji tersebut tak kunjung ditepati oleh pihak Taiwan tersebut.
 
Hingga saat ini, jumlah pekerja migran di Taiwan sekitar 710 ribu orang, 270.000 diantaranya berasal dari Indonesia. Jumlah ini terbanyak dibanding negara-negara lain.
 
Keberhasilan program Safe Travel merupakan tonggak sejarah kerja sama di bidang ketenagakerjaan antara Taiwan dan Indonesia.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif