Menlu Malaysia Dato Saifuddin Abdullah dalam kuliah umum di Universitas Paramadina di Jakarta, Sabtu 20 Juli 2019. (Foto: Medcom.id/Marcheilla Ariesta)
Menlu Malaysia Dato Saifuddin Abdullah dalam kuliah umum di Universitas Paramadina di Jakarta, Sabtu 20 Juli 2019. (Foto: Medcom.id/Marcheilla Ariesta)

Menlu Malaysia: Terorisme Tidak Lahir di Tanah Melayu

Internasional isis indonesia-malaysia
Marcheilla Ariesta • 20 Juli 2019 17:01
Jakarta: Menteri Luar Negeri Malaysia Dato' Saifuddin Abdullah mengatakan terorisme bukan berasal dari Indonesia atau Malaysia. Meski demikian, ia mengakui ada sejumlah warga dari dua negara tersebut yang terlibat terorisme dan bahkan pergi ke beberapa zona konflik di benua lain.
 
"Islamic State (ISIS) tidak lahir di tanah Melayu, tapi di tanah lain. Sebaliknya, Melayu melahirkan perdamaian, dan ini yang harus dijelaskan kepada dunia," kata Saifuddin dalam Kuliah Umum: Landasan Luar Negeri Malaysia Baru, di Jakarta, Sabtu, 20 Juli 2019. Ia merujuk pada kelompok militan ISIS yang sempat mendirikan kekhilafahan di Irak dan Suriah.
 
Indonesia dan Malaysia sama-sama dianggap memiliki permasalahan yang hampir sama mengenai terorisme. Salah satu permasalahan itu adalah kembalinya para militan yang pernah bergabung dengan ISIS dan kelompok-kelompok teror lainnya di Timur Tengah. Saifuddin mengatakan Malaysia memiliki sebuah lembaga dalam mengatasi masalah seperti itu, yakni South East Asia Centre for Counter Terrorism.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Insitusi ini, kata Saifuddin, sudah menjalankan tugas mereka dalam penanganan terorisme di Malaysia, dan kini tengah membahas masalah ini dengan mitra di Indonesia dan juga Singapura.
 
"Kita melihat apa upaya yang paling tepat untuk menghindarkan anak-anak dan masyarakat dari pengaruh teroris. Kedua, cara terbaik apa untuk menangani mereka yang pulang (dari zona konflik)," imbuh Saifuddin.
 
Saifuddin menjelaskan, saat ini Negeri Jiran memakai pendekatan lunak untuk mengatasi kasus kembalinya para militan. Segala aspek diperhatikan, mulai dari pendidikan, kegiatan anti-terorisme, hingga penanganan propaganda terorisme secara daring.
 
"Dan kita perlu kerja sama yang lebih dekat lagi untuk mengatasi kasus ini. Karena ini bukan kasus mudah," terangnya.
 
Beberapa waktu lalu, Malaysia menangkap beberapa orang warga negara Indonesia yang diduga terlibat terorisme. Setidaknya ada tiga WNI yang ditangkap terkait kasus ini dalam waktu dua bulan terakhir.
 
Sementara itu, banyak WNI simpatisan ISIS yang juga minta untuk dipulangkan kembali ke Indonesia setelah kekhilafahan ISIS runtuh. Menurut Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, para simpatisan tersebut harus berjanji setia kepada Pancasila secara tertulis dan lisan terlebih dahulu sebelum dapat dipulangkan.
 
Hingga saat ini, pemerintah masih terus menggelar rapat terpadu perihal pemulangan sejumlah WNI simpatisan ISIS.
 
Baca:Syarat Eks Pengikut ISIS Kembali ke Indonesia

 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif