Ilustrasi oleh Medcom.id.
Ilustrasi oleh Medcom.id.

Warga Malaysia Anggota ISIS Diizinkan Pulang

Internasional malaysia isis
Fajar Nugraha • 13 Maret 2019 18:07
Petaling Jaya: Warga Malaysia yang meninggalkan negara itu untuk bergabung dengan Islamic State (ISIS) di Suriah akan diizinkan kembali. Tetapi Pemerintah Malaysia memberikan syarat.
 
Menurut stasiun televisi berita Qatar, Al Jazeera, pemerintah akan melakukan ‘pemeriksaan dan investigasi menyeluruh pada setiap tahanan sementara ulama dan psikolog akan mengevaluasi ideologi dan susunan psikologis mereka’.
 
Juga dilaporkan bahwa mereka yang ditahan akan diminta untuk menyelesaikan program rehabilitasi pemerintah selama satu bulan. Selain itu eks-simpatisan ISIS akan diinterogasi tetapi tidak ditahan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami akan membandingkan intelijen yang kami terima dari rekan intelijen asing. Jika ada bukti bahwa seorang warga yang kembali terlibat dalam kegiatan militan ISIL, ia akan didakwa di pengadilan," kata Kepala Divisi Counter Terrorism Cabang Khusus Bukit Aman Wakil Komandan Datuk Ayob Khan, kepada Al Jazeera, seperti dikutip The Star, Rabu, 13 Maret 2019.
 
Dilaporkan sebelumnya di The Star bahwa seorang wanita kelahiran Terengganu yang berusia 31 tahun dan putrinya yang berusia lima tahun dan putranya yang berusia dua tahun adalah orang Malaysia pertama yang dipulangkan dari Suriah.
 
DCP Ayob mengatakan 51 warga Malaysia, termasuk 17 anak-anak, tetap berada di Suriah. Dia mengatakan kepada The Star bahwa tindakan terukur akan diambil untuk memastikan bahwa orang-orang yang kembali dari Suriah tidak akan melancarkan serangan di Malaysia.
 
“Evaluasi menyeluruh dari para pengungsi akan dilakukan, termasuk meneliti tingkat keterlibatan mereka dalam ISIS. Termasuk juga memeriksa serta apakah mereka masih menjadi bagian dari jaringan teror di Malaysia,” jelas Ayob.
 
Lebih lanjut Ayob menjelaskan bahwa rehabilitasi gerilyawan dan ekstremis agama diselenggarakan oleh polisi dengan bantuan dari berbagai lembaga pemerintah. Umumnya diawali proses perintah penahanan.
 
Dia mengatakan program itu akan dilakukan oleh para ahli di berbagai bidang, termasuk cendekiawan Muslim, akademisi serta petugas kepolisian.
 
Menurut Ayob dari 2001 hingga 2012, sebuah program rehabilitasi untuk 289 tahanan militan memiliki tingkat keberhasilan 97 persen. Sementara dari tahun 2012 dan seterusnya, hanya dua dari 50 mantan militan ‘kambuh’ meskipun mengikuti program tersebut.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif