Bos Media Rappler Dituduh Gelapkan Pajak
Media Rappler yang dibredel pemerintah. (Foto; AFP)
Manila: Usai dibredel Pemerintah Filipina, kini media Rappler dijerat dengan tuduhan penggelapan pajak. Direktur Operasional dan Editor Ekskekutif Rappler, Maria Ressa, disebut-sebut telah menyerahkan diri ke polisi.

Sebelumnya, surat perintah penangkapan Ressa telah terbit pada pekan lalu. Ressa akhirnya menyerahkan diri ke pihak berwenang di pengadilan wilayah Kota Pasig, Manila.

Namun, pengadilan memutuskan mengabulkan penangguhan penahanannya setelah Ressa membayar jaminan sebesar PHP60 ribu atau setara Rp16,3 juta.


Dilansir dari Channel News Asia, Selasa 4 Desember 2018, Ressa dituding telah menggelapkan pajak atas nama pribadi dan Rappler. 

Baca: Duterte Tuding Media Rappler Disokong AS

Ressa menegaskan, dirinya akan menghadapi tuduhan pengadilan karena ia menganggap tuduhan itu adalah upaya Presiden Rodrigo Duterte dalam mengintimidasi kebebasan pers di Manila.

"Saya bukan seorang kriminal, tetapi saya telah diperlakukan seperti seorang kriminal. Kami merasa tak mendapatkan proses hukum yang selayaknya," kata Ressa. 

Berdiri pada 2012, Rappler memang dikenal sebagai media yang kerap mengkritik pemerintahan Filipina, termasuk kampanye perang narkoba Duterte.

Sejak 11 Januari lalu, Pemerintah Filipina pun meminta Rappler agar ditutup. Duterte memang sudah lama mengancam akan membuka adanya kepemilikan Amerika Serikat dalam perusahaan Rappler.

Kasus ini mencuat ketika Rappler memutuskan untuk menerbitkan saham milik Filipina dalam perusahaan tersebut ke pihak yang disebut pemerintah sebagai perusahaan asing.




(DRI)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id