Presiden Afghanistan Ashraf Ghani. (Foto: AFP)
Presiden Afghanistan Ashraf Ghani. (Foto: AFP)

Presiden Afghanistan akan Sepakati Pembagian Kekuasaan

Internasional taliban afghanistan
Willy Haryono • 17 Mei 2020 17:03
Kabul: Presiden Afghansitan Ashraf Ghani dan rivalnya, Abdullah Abdullah, selangkah lagi menuju tercapainya kesepakatan pembagian kekuasaan. Kesepakatan ini diharapkan dapat mengakhiri kebuntuan politik di Afghanistan.
 
Dilansir dari Voice of America, perjanjian berbagi kekuasaan antara Ghani dan Abdullah dijadwalkan ditandatangani keduanya pada hari ini, Minggu 17 Mei 2020, antara waktu hingga malam waktu setempat.
 
Menurut keterangan sejumlah sumber, beberapa isu kunci masih dibicarakan, namun kedua kubu hampir dapat dipastikan segera mencapai kata sepakat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Secara keseluruhan, kedua tim telah sepakat berbagi masing-masing 50 persen porsi kekuasaan. Hal yang masih diperdebatkan saat ini adalah menentukan pos-pos di kementerian," ujar seorang sumber.
 
Abdullah mempermasalahkan hasil pemilihan umum Afghanistan pada September 2019. Ia menilai ada kecurangan dalam proses pemungutan dan penghitungan suara.
 
Merasa kesal, Abdullah pun mendeklarasikan pembentukan pemerintahan paralel di Afghanistan tahun ini. Deklarasi tersebut mengganggu jalannya pemerintahan Ghani di tengah implementasi perjanjian damai antara Amerika Serikat dan kelompok Taliban.
 
Awal Maret lalu, Ghani dan Abdullah sama-sama mendeklarasikan sebagai pemenang pemilihan umum presiden. Keduanya juga sama-sama menggelar pelantikan presiden.
 
Komisi Elektoral Afghanistan mengumumkan hasil pilpres, dan menyatakan petahana Ashraf Ghani sebagai pemenang. Namun rival Ghani, Abdullah Abdullah, menuduh hasil pilpres Afghanistan tidak sah.
 
Ghani dan Abdullah sama-sama memegang jabatan dalam pemerintahan terdahulu di Afghanistan. Pelantikan 'dua presiden' ini terjadi saat Afghanistan hendak memulai dialog damai dengan Taliban.
 
Sejumlah pakar memperingatkan bahwa rivalitas politik semacam ini dapat berdampak buruk terhadap stabilitas negara, di saat Afghanistan tengah menghadapi isu Taliban dan juga pandemi virus korona (covid-19).
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif