Salah satu pabrik vaksin mRNA di dunia/AFP
Salah satu pabrik vaksin mRNA di dunia/AFP

Bersaing dengan Korsel dan India, RI Ingin Jadi Hub Vaksin mRNA

Internasional WHO vaksin covid-19 Vaksin mRNA
Marcheilla Ariesta • 13 Oktober 2021 07:02
Jakarta: Indonesia ingin menjadi hub (pusat) vaksin teknologi mRNA di kawasan Asia Pasifik. Di kawasan ini, Indonesia bersaing dengan India dan Korea Selatan untuk mendapatkannya.
 
Direktur Sosial Budaya dan Organisasi Internasional Negara Berkembang Kementerian Luar Negeri, Penny Herasati menuturkan, hub vaksin tersebut diinisiasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ia mengatakan, saat ini, baru Afrika yang sudah ditunjuk hub-nya yakni Afrika Selatan.
 
"Afrika didahulukan karena Afrika itu negara yang memproduksi vaksin sangat sedikit, bisa dibilang hanya satu negara. Karena itu, cepat-cepat ditunjuk kalau Afrika Selatan sebagai hub-nya," kata Penny dalam jumpa pers, Selasa, 12 Oktober 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu, kawasan lainnya masih dalam proses termasuk Asia Pasifik. Ia mengatakan, hub itu sebagai pusat pelatihan dan transfer vaksin mRNA. 
 
Baca juga: Teknologi Pabrik Vaksin di Pulogadung Secanggih Pfizer, Simak Penjelasan Luhut
 
"Jadi belum untuk produksinya, masih untuk pelatuhan dan transfer vaksin mRNA ini," lanjutnya.
 
Ia mengatakan hub ini dibentuk karena teknologi mRNA ini paling cepat untuk memproduksi vaksin. Menurut Penny, semua negara berusaha mengejar teknologi ini.
 
Penny menuturkan, keputusan hub vaksin mRNA untuk Asia akan diumumkan di awal 2022. 
 
Kelebihan Indonesia untuk jadi hub vaksin mRNA
 
Penny menuturkan, harus dilihat industri farmasi Indonesia, apakah mampu untuk menjalankan fungsi sebagai pusat pelatihan dan transfer teknologi vaksin ini atau tidak.
 
Korea Selatan dan India, katanya merupakan negara yang cukup maju di bidang produksi vaksin. Menurut dia, perhatian WHO dan masyarakat internasional lainnya harus diberikan ke negara yang perlu meningkatkan kapasitas untuk pembuatan vaksin.
 
"Tentu capaian Indonesia saat ini akan dinilai juga untuk memastikan apakah Indonesia pantas dan bisa menjadi pusat pelatihan. Tentu saja, posisi menteri luar negeri yang saat ini menjadi co-chair COVAX akan mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan Indonesia," pungkasnya.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif