Warga Wuhan menikmati suasana usai lockdown resmi dicabut. Foto: AFP
Warga Wuhan menikmati suasana usai lockdown resmi dicabut. Foto: AFP

Ragam Cerita Usai Wuhan Resmi Cabut Lockdown

Internasional Virus Korona tiongkok Coronavirus virus corona
Arpan Rahman • 08 April 2020 20:07
Wuhan: Kali pertama dalam beberapa bulan, orang-orang diizinkan meninggalkan kota Wuhan di Tiongkok, tempat virus korona muncul sebelum menyebar ke seluruh dunia. Pihak berwenang memuji momen ini sebagai sebuah keberhasilan, tetapi penduduk memiliki pengalaman yang sangat berbeda tentang apa yang bisa dibilang merupakan lockdown terbesar dalam sejarah manusia.
 
Baca: Wuhan Rayakan Pencabutan Lockdown.
 
Butuh 76 hari, tetapi lockdown Wuhan sekarang sudah berakhir. Jalan tol telah dibuka kembali, begitu pula penerbangan serta layanan kereta. Warga yang dianggap bebas virus akhirnya dapat melakukan perjalanan ke bagian lain di Tiongkok.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Selama dua bulan terakhir, hampir tidak ada seorang pun di jalanan," kata pengemudi pengiriman, Jia Shengzhi.
 
"Itu membuatku merasa sedih," keluhnya, dikutip dari BBC, Rabu 8 April 2020.
 
Wuhan telah mengalami salah satu pembatasan karantina yang paling luas dan terberat di planet ini. Awalnya, orang-orang diizinkan berbelanja makanan, tetapi pada pertengahan Februari, tidak ada yang diizinkan meninggalkan tempat tinggal mereka.
 
Pengemudi pengiriman menjadi jalur vital. "Kami kadang-kadang menerima panggilan telepon dari pelanggan yang meminta bantuan seperti mengirim obat ke orang tua mereka yang sudah lanjut usia," kata Jia.
 
Sebagai kepala kurir di salah satu stasiun pengiriman Wuhan JD.com,-sebuah perusahaan e-commerce,- ia khawatir bahwa pesanan seperti itu tidak akan sampai ke pelanggan tepat waktu jika dikirim melalui metode normal.
 
"Jadi, saya naik skuter, pergi ke apotek, mengambil obat dan membawanya ke ayahnya," cetusnya.
 
Ini adalah kisah tentang krisis yang akan berdendang bagi telinga otoritas Tiongkok. "Lockdown oleh sekelompok kecil pejabat Wuhan menyebabkan kematian ayah saya. Saya perlu permintaan maaf," kata Zhang Hai, sebelum menambahkan: "Dan saya perlu kompensasi."
 
Ayahnya berusia 76 tahun, Zhang Lifa, meninggal karena covid-19 pada 1 Februari, setelah tertular virus di rumah sakit Wuhan selama operasi rutin karena patah kaki.
 
Pada hari-hari awal wabah, para pejabat membungkam para dokter di kota itu menyuarakan keprihatinan tentang penyebaran virus.
 
Tetapi Zhang sangat marah karena pihak berwenang masih tampak berusaha membungkam kritik atas tindakan mereka. Sebelum dia bisa mengambil abu ayahnya, dia bilang dia diberitahu bahwa para pejabat harus menemaninya di seluruh prosedur.
 
Zhang menolak untuk mengambil abu ayahnya dan mengatakan dia akan melakukannya sendiri di kemudian hari.
 
Berbeda dengan Jia, dia mengatakan tidak ada keluarga atau teman-temannya yang terinfeksi oleh virus. Ini bukti keefektifan dari lockdown yang, meskipun ketepatan angka-angka resmi meragukan, telah memperlambat tingkat infeksi secara dramatis.
 
Selama beberapa pekan terakhir, sejumlah pembatasan di dalam Wuhan perlahan-lahan dikurangi. Beberapa orang diizinkan keluar dari kompleks perumahan dan bisnis mereka mulai dibuka kembali.
 
Langkah terakhir telah diambil dan jaringan transportasi Wuhan ke Tiongkok sudah dipulihkan. Dalam keseimbangan antara menahan epidemi dan memulai kembali ekonomi, risiko lonjakan lain infeksi tetap ada.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif