Polisi Inggris awasi pelaksanaan lockdown mencegah virus covid-19. Foto: AFP
Polisi Inggris awasi pelaksanaan lockdown mencegah virus covid-19. Foto: AFP

Media Tiongkok Sebut Penanganan Covid-19 di Inggris Kacau

Internasional Virus Korona tiongkok Coronavirus virus corona
Arpan Rahman • 15 Mei 2020 15:05
Beijing: Surat kabar Tiongkok mengkritik Perdana Menteri Inggris Boris Johnson karena mengatakan kepada warganya untuk kembali bekerja. Global Times juga menyebut penanganan virus korona di Inggris ‘kacau’.
 
Global Times mengklaim Inggris telah menghabiskan berminggu-minggu pada strategi ‘sembrono dan tidak siap’. Sementara Tiongkok ‘berjuang keras melawan virus’.
 
Kritik itu datang ketika pemerintah Inggris mengumumkan jumlah korban tewas di negara itu meningkat pada 33.693, menjadi negara kedua secara global setelah Amerika Serikat (AS).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jumlah korban di Tiongkok, tempat virus pertama kali pecah akhir tahun lalu, hanya 4.637 meskipun pemerintahan Presiden Xi Jinping telah menghadapi tuduhan menutup-nutupi jumlah sebenarnya.
 
Dalam artikelnya Global Times mengatakan: "Hampir setiap negara berupaya mengekang penyebaran virus melalui praktik standar kesehatan masyarakat, menguji orang dan melacak kontak, dan melalui tindakan pembatasan seperti melembagakan karantina dan menjaga jarak sosial.
 
"Pemerintah Inggris yang dipimpin oleh Boris Johnson mengadopsi strategi yang sama sekali berbeda, ‘kekebalan komunitas’, kebijakan yang sama dengan tidak melakukan apa-apa."
 
Ditambahkan bahwa "analisis ilmiah semuanya menyatakan bahwa respons pemerintah Inggris terhadap krisis sama tidak jelasnya dan tidak siap" meskipun memiliki "waktu yang cukup, banyak peringatan ilmiah, dan contoh dari negara lain".
 
Dikutip dari The Sun, Kamis 14 Mei 2020, kritik itu muncul ketika Boris Johnson menghadapi tekanan yang semakin besar buat mendukung penyelidikan independen terhadap wabah tersebut dan penanganan pemerintah Tiongkok terhadap itu di tahap paling awal.
 
Global Times juga mengkritik saran terbaru pemerintah, yang diumumkan oleh Boris Johnson, Minggu, bahwa warga Inggris yang tidak dapat bekerja dari rumah harus kembali bekerja.
 
Dikatakan fakta bahwa pengumuman telah dibuat sebelum sistem "tes, jejak, isolasi" telah diberlakukan berarti PM Inggris "tampaknya memprioritaskan kekhawatiran tentang kerusakan ekonomi daripada pengendalian virus".
 
Pemerintah Inggris saat ini sedang mengembangkan aplikasi "tes, lacak, dan lacak" yang akan memberi tahu orang-orang jika mereka telah melakukan kontak dengan seseorang yang kemudian didiagnosis dengan virus korona.
 
"Inggris tidak seharusnya berakhir seperti ini. Bagaimanapun, di sana Revolusi Industri dimulai. Ia memiliki modal dan sumber daya medis yang melimpah. Tapi dalam peribahasa Tiongkok, negara itu ‘tidak bermain baik meskipun memiliki kartu yang bagus di tangan’,” komentar Global Times.
 

 
Informasi lengkap tentang perkembangan penanganan pandemi covid-19 bisa langsung diakses di sini (https://www.medcom.id/corona).
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif