Brenton Tarrant, pelaku penembakan di Masjid di Christchurch, Selandia Baru. (Foto: AFP).
Brenton Tarrant, pelaku penembakan di Masjid di Christchurch, Selandia Baru. (Foto: AFP).

Vonis Pembunuh Jemaah Masjid Selandia Baru Dibacakan Agustus

Internasional Penembakan Selandia Baru
Fajar Nugraha • 03 Juli 2020 06:58
Wellington: Pelaku penembakan di masjid Selandia Baru akan dihukum pada Agustus mendatang. Vonis hukuman terhadap pembunuh 51 jemaah di Christchurch itu, terpaksa ditunda akibat wabah virus korona.
 
Berdasarkan pernyataan pengadilan Jumat 3 Juli 2020, ekstremis sayap kanan Brenton Tarrant dihukum pada Maret atas 51 tuduhan pembunuhan, 40 percobaan pembunuhan dan satu terorisme, setelah menjatuhkan permohonan sebelumnya yang tidak bersalah.
 
Pada saat itu, Selandia Baru dalam lockdown akibat covid-19 dan membuat para korban dan keluarga korban yang selamat tidak dapat menghadiri pengadilan untuk melihatnya dijatuhi vonis hukuman.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Setelah Negeri di Pasifik Selatan itu melonggarkan aturan jarak sosial, Hakim Pengadilan Tinggi Cameron Mander mengatakan membuka jalan bagi Tarrant untuk dihukum pada 24 Agustus.
 
"Sekarang, dengan tidak adanya penularan di masyarakat akibat virus covid-19 di Selandia Baru, pengadilan kami telah kembali ke operasi normal," kata Mander dalam laporan peradilan yang dirilis Jumat, seperti dikutip AFP, Jumat 3 Juli 2020.
 
"Publik dan, yang terpenting, para korban dan keluarga mereka yang tinggal di Selandia Baru dapat menghadiri pengadilan,” imbuhnya.
 
Baca: Brenton Tarrant dan Manifesto Mengincar Muslim Selandia Baru.
 
Dia mengatakan tiga hari telah disisihkan untuk hukuman tetapi menambahkan ‘sidang akan berlangsung selama diperlukan’. Selandia Baru tidak memiliki hukuman mati tetapi Tarrant menghadapi prospek menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi.
 
Mantan instruktur olahraga dari Grafton, Australia menghadapi tuduhan teror dan pembunuhan serta semua dijatuhi hukuman seumur hidup. Tapi Tarrant masih terbuka meraih pembebasan bersyarat setelah dihukum minimal 17 tahu, namun hakim berkuasa untuk memenjarakan tanpa kemungkinan pembebasan.
 
Mander mengakui bahwa beberapa korban dan orang-orang pendukung yang berada di luar negeri ingin pembacaan hukuman ditunda agar mereka dapat hadir secara langsung. Tetapi perbatasan kemungkinan akan tetap ditutup untuk jangka waktu yang lama.
 
"Sementara prosesnya akan terus berjalan. Itu adalah situasi yang tidak memuaskan," imbuh Mander.
 
Hakim mengatakan tautan langsung dapat dibuat untuk mereka yang berbasis di luar negeri untuk memberikan pernyataan dampak kepada korban. Dia mengatakan banyak korban lain yang menemukan bahwa kasus pengadilan yang panjang "melelahkan dan membuat frustrasi" dan ingin kasus ini berakhir.
 
"Mereka berharap hukuman akan terjadi sesegera mungkin secara realistis. Finalisasi dan penutupan dianggap oleh beberapa orang sebagai cara terbaik untuk membawa bantuan kepada komunitas Muslim,” sebut Mander.
 
Tarrant mempersenjatai diri dengan gudang senjata semi-otomatis dan menyerang Masjid Al Noor terlebih dahulu, sebelum pindah ke Masjid Linwood. Korbannya semua Muslim dan termasuk anak-anak, wanita dan orang tua.
 
Dalam sebuah manifesto bertele-tele yang diposting online sebelum pembunuhan, Tarrant mengatakan dia telah pindah ke Selandia Baru dengan tujuan khusus melakukan kekejaman terhadap Muslim.
 
Tindakannya mendorong Selandia Baru untuk memperketat undang-undang senjata dan meningkatkan upaya untuk mengekang ekstremisme online.
 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif