Pemandangan salah satu sudut kota Tokyo, Jepang. (AFP)
Pemandangan salah satu sudut kota Tokyo, Jepang. (AFP)

Jepang Sambut Turis dari 4 Negara Bulan Ini

Medcom • 18 Mei 2022 16:03
Tokyo: Badan Pariwisata Jepang (JTA) akan menyambut wisatawan luar negeri bulan ini, sebagai bagian dari uji coba untuk melihat apakah agen-agen perjalanan mampu mengelolanya.
 
Pelancong dari Amerika Serikat (AS), Australia, Thailand, dan Singapura yang telah menerima tiga dosis vaksin covid-19 bisa masuk Jepang untuk tujuan pariwisata.
 
Sekitar 50 orang dari keempat negara tersebut akan diperbolehkan masuk selama masa uji coba, sebagaimana dilaporkan media Yomiuri. Diperkirakan para turis tersebut akan terdiri dari 10 hingga 15 kelompok wisata.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penyambutan turis ditetapkan menjelang pelonggaran lebih lanjut terkait perbatasan negara Jepang bulan depan, yang tergantung dari jumlah kasus covid-19 di dalam negeri dan global.
 
Tidak sekadar boleh datang, para pelancong harus membayar asuransi kesehatannya sendiri dan ikut serta dalam paket wisata dengan rencana perjalanan yang telah disetujui pemerintah.
 
"Dalam rangka mengumpulkan informasi untuk benar-benar mengembalikan pariwisata Jepang, kami akan mengadakan proyek uji coba dalam bentuk paket-paket wisata kecil di bulan Mei, di mana agen perjalanan akan mengendalikan pergerakan," kata JTA, dikutip dari The Straits Times, Rabu, 18 Mei 2022.
 
"Kami akan memverifikasi bagaimana cara memastikan bahwa turis akan mengikuti langkah-langkah pengendalian infeksi dan prosedur tanggap darurat, sambil merumuskan pedoman untuk agen perjalanan dan fasilitas akomodasi."
 
Keempat negara tersebut diketahui memiliki risiko covid-19 rendah dan merupakan pasar prioritas utama bagi Jepang.
 
Rincian lebih lanjut akan diputuskan bersama dengan Asosiasi Agen Perjalanan Jepang (JATA).
 
"Arus orang antara Jepang dan negara-negara lain, termasuk wisatawan, sangat penting bagi aktivitas ekonomi dan revitalisasi regional Jepang," ujar Menteri Pariwisata Tetsuo Saito.
 
Wisatawan perorangan sejauh ini belum diperkenankan.
 
Baca:  Jepang Cabut Larangan Masuk untuk 106 Negara, Termasuk Indonesia
 
 

Sepanjang pandemi covid-19, sebagian besar turis asing dilarang masuk Jepang. Kini, pendatang hanya diizinkan masuk untuk tujuan pekerjaan dan pendidikan, juga alasan kemanusiaan tertentu.
 
Survei menunjukkan kebanyakan masyarakat mendukung peraturan perbatasan yang ketat, namun sentimen cenderung bergeser ke arah menerima orang asing.
 
Jajak pendapat koran Yomiuri pada akhir pekan lalu menunjukkan bahwa 51 persen responden mendukung pelonggaran peraturan terkait perbatasan, sementara 41 persen memandang regulasi ketat perlu dipertahankan.
 
Survei lain oleh Japan News Network bulan ini memperlihatkan 48 persen setuju melonggarkan pembatasan, dan 38 persen tidak setuju.
 
Tetapi belum lama ini pada bulan Maret, sebuah survei NHK menunjukkan bahwa 65 persen merasa pembatasan itu sudah tepat, atau harus diperketat.
 
Alih-alih melakukan pembukaan kembali secara besar-besaran, Perdana Menteri Fumio Kishida berhati-hati dengan memperhatikan sentimen publik yang mengarah pada pemilihan umum (Pemilu) Majelis Tinggi yang dijadwalkan untuk 10 Juli.
 
Dua pendahulunya, Yoshihide Suga dan Shinzo Abe, menerapkan penanganan pandemi covid-19 yang cenderung dianggap menyedihkan.
 
Angka kasus covid-19 di Jepang berangsur stabil di Jepang, dengan rata-rata kasus dalam kurun 7 hari sejumlah 37.954 pada hari Senin. Jumlah kasus di Tokyo, yang memiliki populasi 14 juta orang, berada pada 3.866 kasus.
 
Saat ramai perdebatan di Jepang seputar perlunya pemakaian masker, pemerintah pekan lalu mengumumkan bahwa masker dapat dilepas di luar ruangan tetapi hanya dalam keadaan jaga jarak sosial.
 
Liputan media menyampaikan Jepang bersiap-siap untuk terus melonggarkan peraturan perbatasan terkait covid-19 bulan lalu, sebelum penerimaan lebih banyak pendatang pada musim panas setelah Pemilu.
 
Jepang berencana menambahkan jumlah kedatangan per hari sebanyak dua kali lipat menjadi 20.000, dan mencabut kewajiban tes PCR (polymerase chain reaction) bagi pendatang jika mereka memiliki hasil tes negatif sebelum keberangkatan.
 
Saat ini, Jepang memberlakukan batas 10.000 orang yang masuk ke negaranya, termasuk warga lokal yang pulang. Setiap orang yang tiba di Jepang harus memiliki hasil tes PCR negatif dalam 72 jam sebelum keberangkatan dan kembali tes PCR saat kedatangan.
 
Pelaku perjalanan luar negeri yang tiba di Jepang dapat bebas dari karantina dengan syarat hasil tes negatif saat kedatangan, datang dari negara yang dianggap memiliki risiko covid-19 rendah, dan divaksinasi tiga kali dengan vaksin yang diakui oleh Jepang.  
 
Jepang mengakui vaksin covid-19 Pfizer, Moderna, AstraZeneca dan Novavax.
 
Sebelum pandemi, Jepang menerima 31,9 juta pendatang asing tahun 2019, yang menghabiskan total 4,81 triliun yen (sekitar Rp547 triliun).
 
Negara tersebut berniat menyambut 60 juta orang setiap tahunnya hingga 2030 yang akan menghabiskan 15 triliun yen (Rp1.700 triliun). (Kaylina Ivani)
 
(WIL)
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif