Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. Foto: AFP.
Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. Foto: AFP.

WHO: Empat Prioritas Hadapi Covid-19 Perlu Diterapkan Semua Negara

Internasional Virus Korona
Marcheilla Ariesta • 18 September 2020 19:01
Jenewa: Keputusan untuk memberlakukan penguncian yang mengekang penyebaran virus korona (covid-19) atau membuka kembali ekonomi disebut sebagai dikotomi palsu. Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus.
 
"Itu adalah pilihan yang salah," kata Tedros, dilansir dari Channel News Asia, Jumat, 18 September 2020.
 
"WHO mendesak negara-negara untuk fokus pada empat prioritas penting," imbuhnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Prioritas pertama, kata dia, adalah mencegah adanya acara pertemuan besar, seperti di stadion dan kelab malam. Kedua yakni melindungi yang rentan, menyelamatkan nyawa dan mengurangi beban sistem kesehatan.
 
Prioritas ketiga, mendidik masyarakat mengenai jarak fisik, kebersihan tangan, hingga penggunaan masker untuk mengekang penularan virus. Dan yang terakhir, menemukan, mengisolasi, menguji, dan merawat, serta melacak dan mengkarantina kontak mereka.
 
"Sudah ada banyak contoh negara yang secara efektif mencegah atau mengendalikan wabah mereka dengan melakukan empat hal ini dan melakukannya dengan baik," kata Tedros sembari menyebutkan Selandia Baru, Islandia, Senegal, Mongolia, dan Singapura sebagai contohnya.
 
"Tema umum di semua negara ini adalah komitmen terhadap persatuan nasional dan solidaritas global," tutur dia.
 
Ia menambahkan lebih dari 170 negara telah bergabung dalam rencana global untuk mendistribusikan vaksin secara adil ke seluruh dunia. Prioritas utama WHO untuk vaksin adalah keamanan.
 
"Vaksin pertama yang disetujui mungkin bukan yang terbaik. Semakin banyak tembakan ke gawang yang kita miliki, semakin tinggi kemungkinan mendapatkan vaksin yang sangat aman dan manjur," katanya.
 
Dia mengatakan tidak akan mengambil risiko memiliki vaksin covid-19 yang ditolak orang karena dianggap tidak aman.
 
"Tapi ujian terbesar yang kita hadapi sekarang bukanlah ilmiah atau teknis. Ini adalah ujian karakter," tegasnya.
 
Ia memperingatkan covid-19 mungkin bukan pandemi terakhir. Menurutnya, dunia harus siap ketika wabah berikutnya melanda.
 
Berdasarkan data John Hopkins University hari ini, covid-19 sudah menginfeksi lebih dari 30,1 juta orang. Amerika Serikat merupakan negara dengan kasus terbanyak, yakni hingga 6.675.053 orang.
 
Sementara itu, angka kematian secara global juga terus bertambah menjadi 946.140 kasus.
 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif