Sekolah anak pengungsi Rohingya di Bangladesh terbakar pada 18 Januari 2021. Foto: AFP
Sekolah anak pengungsi Rohingya di Bangladesh terbakar pada 18 Januari 2021. Foto: AFP

Empat Sekolah Anak Rohingya Hancur Terbakar di Bangladesh

Internasional rohingya pengungsi rohingya
Fajar Nugraha • 19 Januari 2021 17:07
Cox’s Bazar: Sebanyak empat sekolah UNICEF untuk anak-anak Rohingya di kamp-kamp pengungsi di Bangladesh hancur dalam kebakaran. Namun UNHCR curiga tempat penampungan pengungsi itu disengaja.
 
Tidak jelas siapa yang mungkin menyerang sekolah, yang saat itu kosong. Tetapi situasi keamanan di kamp-kamp yang menampung sekitar satu juta orang telah memburuk dalam beberapa bulan terakhir.
 
Pekan lalu, kobaran api yang diperkirakan dimulai oleh kompor gas,  membakar ratusan gubuk bambu di salah satu kamp. Insiden tersebut menyebabkan ribuan pengungsi yang berasal dari Myanmar kehilangan tempat tinggal.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Razwan Hayat, komisaris pengungsi Bangladesh, mengatakan kepada AFP, Selasa 19 Januari 2021 bahwa dia yakin kebakaran terakhir tidak disulut dengan sengaja dan mengatakan bahwa sekolah-sekolah itu terbuat dari bahan yang mudah terbakar.
 
"Kami sedang menyelidiki. Tapi kami pikir itu kecelakaan. Tempat penampungan ini bukan bangunan permanen," katanya.
 
Namun, UNICEF mengatakan di Twitter bahwa insiden itu adalah pembakaran dan "bekerja dengan mitra untuk menilai kerusakan dari serangan itu dan mempercepat proses pembangunan kembali Pusat pembelajaran ini".
 
UNICEF mengatur sekitar 2.500 pusat pembelajaran di 34 kamp pengungsi di distrik perbatasan tenggara Bangladesh di Cox's Bazar. Sekitar 240.000 anak Rohingya belajar di dalamnya sebelum pandemi.
 
Mereka telah ditutup selama berbulan-bulan karena langkah-langkah untuk memerangi penyebaran virus korona tetapi diperkirakan akan dibuka lagi mulai bulan depan, kata pekerja bantuan.
 
Sebagian besar Rohingya yang konservatif, banyak yang menentang pendidikan anak perempuan. Adapun mereka yang tinggal di kamp-kamp itu termasuk sekitar 750.000 warga Rohingya yang melarikan diri dari tindakan keras militer yang brutal di Myanmar pada 2017 yang oleh PBB disamakan dengan pembersihan etnis.
 
Kemungkinan kecil dari mereka kembali ke Myanmar, menyebabkan ketegangan dengan penduduk lokal dan mendorong banyak orang untuk melakukan perjalanan laut yang berbahaya ke Malaysia dan Indonesia.
 
Beberapa bulan terakhir telah terjadi bentrokan antara kelompok-kelompok termasuk militan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), menewaskan tujuh orang dan banyak rumah dibakar.
 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif