Ren Zhiqiang, seorang taipan Tiongkok yang sering mengkritik kebijakan pemerintah pusat di Beijing. (Wikicommons)
Ren Zhiqiang, seorang taipan Tiongkok yang sering mengkritik kebijakan pemerintah pusat di Beijing. (Wikicommons)

Taipan yang Kritik Presiden Tiongkok Divonis 18 Tahun Penjara

Internasional politik tiongkok tiongkok
Willy Haryono • 22 September 2020 12:04
Beijing: Seorang miliarder Tiongkok yang mengkritik Presiden Xi Jinping atas penanganan pandemi virus korona (covid-19), divonis 18 tahun penjara atas tuduhan korupsi. Ren Zhiqiang, taipan real-estate yang memiliki hubungan dekat dengan beberapa pejabat Tiongkok, menghilang pada Maret lalu usai menulis sebuah esai berisi kritikan terhadap Xi.
 
Hari ini, Selasa 22 September 2020, sebuah pengadilan di Beijing menyatakan Ren telah terbukti bersalah atas sejumlah dakwaan, termasuk menggelapkan dana publik senilai USD16,3 juta (Rp240 miliar), menerima suap, dan penyalahgunaan wewenang di salah satu badan usaha milik negara Tiongkok.
 
Jajaran hakim menjatuhkan vonis 18 tahun penjara kepada Ren, dan juga mewajibkan terpidana membayar denda senilai USD620 ribu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ren Zhiqiang secara sukarela telah mengakui semua kejahatannya, dan bersedia menerima vonis pengadilan setelah semua aktivitas ilegalnya diketahui," ujar pihak pengadilan Beijing, dikutip dari laman CNN.
 
Menurut sejumlah pengamat internasional, penjatuhan vonis dalam sistem peradilan di Tiongkok mencapai angka rata-rata 99 persen. Tudingan korupsi disebut-sebut sering digunakan Partai Komunis Tiongkok untuk menghukum individu internal yang mengkritik kepemimpinan di Negeri Tirai Bambu.
 
Penjatuhan vonis terhadap Ren dipandang sebagai pesan bagi kelompok elite di Tiongkok, bahwa siapapun yang berani mengkritik atau menentang Xi, akan mendapat konsekuensi berat.
 
Lahir ke jajaran elite Partai Komunis Tiongkok, pria 69 tahun itu sering menyuarakan pandangannya secara vokal mengenai situasi politik di negaranya. Sikap Ren yang vokal mengkritik pemerintah membuatnya mendapat julukan "Si Meriam" di media sosial Tiongkok.
 
Dalam esai kontroversialnya, Ren menuduh Partai Komunis Tiongkok lebih memprioritaskan kepentingan partai ketimbang keselamatan masyarakat Tiongkok di tengah pandemi covid-19.
 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif