Plot diduga diatur kembali untuk melengserkan permaisuri Sineenat Wongvajirapakdi. Foto: Sky News
Plot diduga diatur kembali untuk melengserkan permaisuri Sineenat Wongvajirapakdi. Foto: Sky News

Foto Sensual Tersebar, Selir Raja Thailand Terancam Digulingkan Lagi

Internasional politik thailand thailand raja thailand
Fajar Nugraha • 03 Desember 2020 09:49
Bangkok: Ketika Raja Thailand Maha Vajiralongkorn bulan lalu menyapa ribuan pendukungnya pada unjuk rasa pro-monarki di Bangkok, kamera menyorot ke arahnya dan Ratu Suthida. Keduanya berseri-seri dan melambai ke arah warga yang memegang bendera dan potret pasangan kerajaan.
 
Juga di antara kerumunan itu adalah permaisuri Sineenat Wongvajirapakdi, menandai kembalinya dia ke sorotan setelah hampir setahun diasingkan karena tuduhan ketidaksetiaan.
 
Tapi sejak dia kembali pada September, dia telah berkeliling provinsi-provinsi Thailand dalam tugas hubungan masyarakat di tengah gerakan pro-demokrasi yang berkecamuk di seluruh negeri.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut akademisi ilmu politik Puangchon Unchanam dari Universitas Naresuan, peran publik Sineenat -,dikenal sebagai Koi,- adalah untuk membuat para bangsawan disayangi oleh pemuda Thailand, karena "dia muda, energik, cantik, bugar, ramah dan sporty".
 
Namun, kembalinya permaisuri juga telah memunculkan kembali intrik tentang istana, termasuk spekulasi tentang rencana pendukung Ratu Suthida untuk menggulingkannya. Terutama setelah skandal yang merilis ratusan foto intim yang menampilkan Sineenat November lalu.
 
Pada 1 November, Sineenat terlihat berseri-seri saat dia menyapa pendukung dengan cara yang tidak biasa diadopsi oleh bangsawan. Termasuk berpose untuk foto dan berjabat tangan dengan penggemar.
 
Meskipun kerendahan hatinya yang tampak bisa menjadi anugerah bagi sebuah keluarga  Kerajaan Thailand, statusnya sebagai permaisuri itu sendiri menimbulkan masalah humas. Ini disebabkan karena generasi baru Thailand mempertanyakan penghormatan tanpa syarat dari monarki sebagai bagian dari tuntutan yang lebih luas untuk demokrasi dan kesetaraan yang lebih besar di negara ini.
 
“Statusnya tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial anak-anak muda saat ini. Kalangan muda sekarang yang mempromosikan monogami, kesetaraan gender, dan ideologi feminis dalam masyarakat Thailand,” kata Puangchon, seperti dikutip dari Asia One, Kamis 3 Desember 2020.
 
Dalam sebulan terakhir, setidaknya dua pengamat kerajaan Thailand mengatakan, ada rencana untuk menggulingkan Sineenat dari faksi yang sama yang menyebabkan kejatuhannya tahun lalu.
 
Pavin Chachavalpongpun, seorang sarjana Universitas Kyoto dan pengungsi politik Thailand mengatakan, pada November dia telah menerima koleksi foto pribadi Sineenat, beberapa di antaranya dia bagikan di Facebook.
 
Sementara Andrew McGregor Marshall, seorang jurnalis Skotlandia yang telah meliput istana Thailand selama beberapa dekade dan telah dituduh oleh pemerintah melanggar undang-undang lèse-majesté yang ketat di negara itu mengatakan dia telah menerima kartu SD yang berisi gambar Sineenat “tak lama sebelum Koi dibebaskan dari penjara wanita Lat Yao di Bangkok dan melakukan perjalanan ke Jerman pada 29 Agustus untuk bergabung kembali dengan Vajiralongkorn.”
 
Ketika Sineenat dicopot dari gelarnya pada Oktober 2019, secara luas diduga sebagai pekerjaan orang dalam untuk menyabot reputasinya. Pengumuman itu mengatakan dia telah bertindak dengan arogan dan melakukan "segala upaya untuk mencocokkan dirinya dengan Yang Mulia Ratu".
 
Sineenat dianggap mengikuti nasib tiga mantan istri raja, yang dipermalukan dan diasingkan di depan umum.
 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif