Presiden Filipina Rodrigo Duterte. (AFP)
Presiden Filipina Rodrigo Duterte. (AFP)

Penggerebekan Narkoba di Filipina Tewaskan 13 Orang

Internasional narkoba narkotika filipina Rodrigo Duterte
Willy Haryono • 24 Januari 2021 10:03
Manila: Dua belas orang tewas dalam penggerebekan narkotika di Filipina selatan pada S kemarin. Seorang polisi juga tewas dalam baku tembak, yang berlangsung di kota Sultan Kudarat di provinsi Maguindanao.
 
Ini merupakan kelanjutan dari perang melawan narkoba yang dideklarasikan Presiden Filipina Rodrigo Duterte beberapa tahun lalu.
 
Kepolisian Nasional Filipina mengklaim telah berusaha menyerahkan surat penggeledahan ke sebuah kompleks perumahan milik Pendatun Adsis Talusan, mantan kepala desa yang diduga terlibat perdagangan narkoba.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami hendak memberikan surat penggeledahan. Tapi para tersangka menembaki petugas yang baru tiba di lokasi," kata Mayor Esmael Madin dari Kepolisian Nasional Filipina, dilansir dari laman The Straits Times pada Minggu, 24 Januari 2021.
 
Baca:  Duterte Siap Dipenjara atas Perang Narkoba di Filipina
 
Baku tembak di Sultan Kudarat berlangsung selama berjam-jam. Warga sekitar pun panik dan mencoba melarikan diri ke tempat aman. Otoritas Filipin mengatakan, Talusan termasuk dari belasan orang yang tewas dalam penyerbuan.
 
Ini merupakan penyerbuan operasi narkoba paling mematikan oleh Kepolisian Filipina sejak 2017. Empat tahun lalu, seorang wali kota di wilayah selatan Filipina juga tewas dalam penggerebekan narkoba. Duterte menuduh wali kota tersebut terlibat perdagangan obat-obatan terlarang.
 
Menurut data Kepolisian Filipina, hampir 8.000 orang tewas sejak Duterte memulai perang melawan narkoba pada 2016. Kepolisian Filipina mengklaim, sebagian besar kematian merupakan aksi polisi yang hanya membela diri dari ancaman. Namun menurut beberapa grup hak asasi manusia, polisi di Filipina secara rutin melakukan pembunuhan di luar jalur hukum.
 
Bulan lalu, Pengadilan Kriminal Internasional di (ICC) Den Haag mengatakan adanya "basis yang dapat diterima" untuk meyakini bahwa pasukan keamanan Filipina mungkin telah melakukan kejahatan kemanusiaan dalam perang narkoba Duterte. ICC mengatakan dalam beberapa bulan ke depan pihaknya akan menentukan apakah dugaan ini layak diinvestigasi secara menyeluruh.
 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif