COP26 bertujuan agar suhu planet Bumi tidak terus menghangat. (AFP)
COP26 bertujuan agar suhu planet Bumi tidak terus menghangat. (AFP)

Inggris Ajak Pemimpin Dunia Selamatkan Planet Melalui COP26

Internasional perubahan iklim COP26 KTT Perubahan Iklim PBB 2021
Willy Haryono • 16 Oktober 2021 09:30
Jakarta: Pada Desember 2015, dunia bersatu dan menyetujui Perjanjian Paris, sebuah titik penting dalam upaya global untuk mengatasi perubahan iklim. Dalam perjanjian yang mengikat ini, 196 negara – termasuk Inggris dan Indonesia – telah berkomitmen untuk menjaga kenaikan rata-rata suhu global di bawah 2 derajat dan berupaya untuk membatasinya hingga 1,5 derajat Celcius, dibandingkan dengan tingkat sebelum era industri.
 
COP26 di Glasgow, Inggris, bertujuan untuk mengumpulkan dan meninjau komitmen-komitmen tersebut dan mendorong semua negara untuk memenuhi komitmen yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Paris. Kali ini, Inggris menjadi tuan rumah KTT bersama dengan Italia.
 
Dalam pidatonya, Presiden COP26 menyoroti empat elemen COP26 untuk mencapai tingkat ambisi yang diperlukan, yaitu rencana aksi iklim untuk mengurangi emisi secara signifikan pada tahun 2030, mencapai emisi nol bersih pada pertengahan abad, dan mendukung adaptasi dalam mengatasi ancaman iklim; tindakan nyata untuk mewujudkan rencana ini, termasuk kesepakatan dalam mobil listrik, pengurangan penggunaan batu bara, perlindungan pohon, dan pengurangan emisi metana; untuk menepati janji $100 miliar dolar; dan hasil negosiasi yang membuka jalan bagi ambisi yang makin kuat selama satu dekade.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mendukung seruan dari negara-negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim, Alok Sharma mengajak semua negara G20 dan penghasil utama gas rumah kaca untuk maju dengan rencana aksi iklim 2030 yang ambisius (Nationally Determined Contributions). Para pemimpin negara-negara G20 akan bertemu di Roma pada akhir bulan ini. Ia juga akan mendesak para pemimpin dunia untuk mengikuti negara-negara yang rentan terhadap perubahan iklim yang sudah mengambil langkah-langkah nyata untuk melindungi planet dan rakyatnya ditengah situasi yang paling sulit.
 
"COP26 bukanlah tempat untuk berfoto, ataupun tempat untuk hanya sekedar berbicara. Acara ini harus menjadi forum di mana kita menempatkan dunia di jalur yang tepat untuk menyelamatkan iklim. Dan itu tergantung pada para pemimpin yang telah membuat janji kepada dunia di kota besar ini enam tahun lalu. Dan para pemimpinlah yang harus menghormatinya," ucap Alok Sharma, dalam keterangan tertulis Kedubes Inggris di Jakarta, Jumat, 15 Oktober 2021.
 
"Tanggung jawab kita ada di setiap negara, dan kita semua harus berperan. Karena akibat iklim, dunia bisa berhasil bersama, atau gagal bersama," sambungnya.
 
Alok Sharma juga menegaskan bahwa kita harus melihat komitmen baru pada sektor keuangan publik dan swasta untuk mendukung negara-negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim dan bergerak menuju adaptasi terhadap dampak perubahan iklim kita, serta memperhitungkan kerugian dan kerusakan yang dapat ditimbulkannya.
 
Ia juga berbicara tentang aktivitas yang dilakukan menjelang COP26, menjadikannya COP yang paling inklusif hingga saat ini, terlepas dari tantangan global dalam menyelenggarakan acara selama pandemi Covid-19. Alok Sharma telah menetapkan langkah-langkah agar membuat KTT berlangsung secara aman, yakni melalui penawaran vaksin kepada negara-negara berkembang, sistem tes COVID-19 harian dan penjagaan jarak sosial di tempat.
 
"Ini akan menjadi COP yang luar biasa di waktu yang luar biasa. Tetapi secara kolektif, kita harus bekerja sama untuk membuatnya berlangsung dengan lancar. Dari awalnya tidak saling mengenal, menjadi bersatu. Karena kita tidak punya pilihan selain melaksanakannya. Setiap negara harus mengambil langkah. Dan sebagai Presiden COP26 saya akan memastikan bahwa setiap suara akan didengar, dimana negara-negara terkecil akan duduk berhadap-hadapan dengan pemimpin besar dunia, sebagai pihak yang setara dalam prosesnya," ungkap Alok Sharm
 
Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste Owen Jenkins mengatakan, tugas yang dihadapi oleh dunia di COP26 belum pernah terjadi sebelumnya. Baik dalam hal yang dipertaruhkan, maupun tantangan yang ditimbulkan oleh pandemi.
 
"Pidato penting ini akan mengatur arah dari pertemuan puncak yang diharapkan sarat aksi di Glasgow nanti, sesuatu yang dibutuhkan dunia. Seruan ke negara-negara G20 untuk membuat target pengurangan emisi pada 2030 yang ambisius sangatlah penting, karena bersama-sama mereka telah menyumbang 80% dari emisi global. Kita membutuhkan ekonomi terkuat untuk bertindak. Inilah waktu penentuan dalam krisis iklim kita, dan masa depan planet kita bersama bergantung pada kita," ujar Dubes Owen.
 
Baca:  Ratu Inggris Kesal Pemimpin Banyak Omong dan Tak Bertindak Atasi Isu Iklim
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif