Parti Liyani, WNI yang dituduh mencuri di Singapura. Foto: AFP.
Parti Liyani, WNI yang dituduh mencuri di Singapura. Foto: AFP.

Permohonan Kompensasi Parti Liyani Ditolak Pengadilan Singapura

Internasional wni Singapura
Marcheilla Ariesta • 21 Juni 2021 20:56
Singapura: Permohonan kompensasi Parti Liyani sebesar Rp107,3 juta ditolak Pengadilan Tinggi Singapura pada Senin, 21 Juni 2021. Parti Liyani adalah pekerja migran Indonesia yang sempat dituduh mencuri barang mantan majikannya.
 
Perempuan asal Indonesia ini dibebaskan tahun lalu dari pencurian. Ia dinyatakan bersalah pada Maret 2019 karena mencuri barang berharga milik mantan ketua Grup Bandara Changi, Liew Mun Leong ketika ia bekerja untuknya. Namun tuduhan itu dibatalkan dan Parti dinyatakan tidak bersalah.
 
Hakim Chan menolak permohonan kompensasinya. "Parti Liyani tidak dapat membuktikan bahwa penuntutan terhadapnya sembrono atau menjengkelkan," kata Hakim Chan, dilansir dari Channel News Asia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di bawah KUHAP, jika seorang terdakwa dibebaskan dari tuduhan apa pun atas pelanggaran apa pun, terbukti penuntutan terhadapnya sembrono atau menjengkelkan, pengadilan dapat memerintahkan penuntutan atau pengadu dilembagakan untuk membayar kompensasi kepada terdakwa.
 
Berdasarkan hukum tersebut, jumlah kompensasinya tidak melebihi 10 ribu dolar Singapura. Hakim Chan mengatakan pernyataan yang dibuat Parti dapat dikategorikan ke dalam tiga kelompok, yaitu tindakan jaksa dalam persidangan, pernyataan terhadap cukupnya bukti yang mendukung dimulainya dan berlanjutnya penuntutannya, dan pernyataan kedengkian atau ketidakjujuran.
 
Baca juga: Bebas dari Tuduhan Pencurian, Parti Liyani Kembali ke Indonesia
 
"Pada dasarnya, pengadilan menyatakan bahwa pernyataan yang dibuat gagal memenuhi ambang batas tinggi untuk menetapkan bahwa penuntutan terhadap Parti sembrono atau menjengkelkan," katanya.
 
Hakim Chan mengatakan, penuntutan terhadap Parti adalah tindakan serius. "Terutama di mana kedengkian, ketidakjujuran atau motif yang tidak pantas dituduhkan terhadap penuntutan, beratnya tuduhan ini harus menjadi bagian dari seluruh rangkaian keadaan yang harus ditimbang oleh pengadilan ketika memutuskan keseimbangan probabilitas," imbuhnya.
 
Menurut pengadilan, pernyataan tersebut tidak menunjukkan ketidakjujuran, kedengkian atau motif yang tidak pantas lainnya dari pihak penuntut untuk mempermalukannya.
 
Hakim Chan menambahkan bahwa pernyataan tersebut terutama terkait dengan "ketidakpuasan Parti dengan cara wakil jaksa penuntut umum melakukan persidangan".
 
"Namun, pengadilan ini bukanlah forum yang tepat untuk menyampaikan keluhan tentang perilaku wakil jaksa penuntut umum. Hanya ketidakpuasan dengan berbagai aspek mengenai cara jaksa melakukan proses, bahkan jika jumlahnya banyak, tidak akan bisa membuat penuntutan itu 'sembrono atau menjengkelkan'," katanya.
 
"Setelah mempertimbangkan efek kumulatif dari semua pernyataan Parti, pengadilan menemukan bahwa Parti tidak membuktikan pada kemungkinan penuntutannya sembrono atau menjengkelkan," pungkas Hakim Chan.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif