Demonstran membakar seragam militer dalam unjuk rasa menentang kudeta di Yangon, Myanmar, 1 Juli 2021. (STR / AFP)
Demonstran membakar seragam militer dalam unjuk rasa menentang kudeta di Yangon, Myanmar, 1 Juli 2021. (STR / AFP)

Junta Myanmar Akan Bebaskan 5 Ribu Demonstran Usai Diabaikan ASEAN

Internasional Myanmar asean Min Aung Hlaing Junta Myanmar Myanmar Tak Diundang ASEAN
Willy Haryono • 18 Oktober 2021 19:33
Yangon: Junta Myanmar mengumumkan pembebasan lebih dari 5.000 orang yang telah dijebloskan ke penjara akibat berunjuk rasa menentang kudeta militer Februari lalu. Pengumuman disampaikan Senin ini, 18 Oktober 2021, beberapa hari usai ASEAN memutuskan tidak mengundang junta Myanmar ke Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) bulan ini.
 
Baca:  NUG Siap Rekomendasikan Perwakilan Myanmar untuk KTT ASEAN
 
Kekacauan terjadi di Myanmar sejak kudeta, dengan lebih dari 1.100 warga sipil tewas dalam aksi penumpasan unjuk rasa oleh junta Myanmar. Lebih dari 8.000 orang juga telah ditangkap sejak awal kudeta hingga kini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut keterangan Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), saat ini masih terdapat lebih dari 7.300 orang yang ditahan junta Myanmar atas keterlibatan mereka dalam demonstrasi anti-kudeta.
 
Dilansir dari laman Channel News Asia, Senin, 18 Oktober 2021, pemimpin junta Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing mengumumkan bahwa total 5.636 tahanan akan segera dibebaskan untuk memperingati festival Thadingyut bulan ini.
 
Min Aung Hlain tidak menyebutkan detail mengenai siapa-siapa saja yang akan dibebaskan bulan ini. Otoritas lembaga pemasyarakatan Myanmar juga tidak merespons permohonan komentar dari media AFP.

Bebas Bersyarat

Juni lalu, junta Myanmar telah membebaskan lebih dari 2.000 pedemo anti-kudeta dari sejumlah penjara di seantero negeri. Dari total tersebut, beberapa di antaranya adalah jurnalis yang dikenal kritis terhadap junta Myanmar.
 
Mereka yang masih berada di tahanan Myanmar hingga saat ini meliputi jurnalis asal Amerika Serikat, Danny Fenster, yang sudah ditahan sejak 24 Mei.
 
"Lebih dari 1.300 orang yang akan dibebaskan harus menandatangani sebuah kesepakatan, dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan," tutur Min Aung Hlaing.
 
David Mathieson, seorang analis di Myanmar, mengatakan kepada AFP bahwa kesepakatan semacam itu "dapat diartikan sebagai sebuah pembebasan bersyarat yang meliputi pengawasan ekstra ketat" di ruang publik.
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif