Menlu Retno Marsudi dalam pidato sambutan ASEAN Regional Conference on the 40th Anniversary of The 1982 UNCLOS, Selasa, 29 November 2022. (Medcom.id / Marcheilla Ariesta)
Menlu Retno Marsudi dalam pidato sambutan ASEAN Regional Conference on the 40th Anniversary of The 1982 UNCLOS, Selasa, 29 November 2022. (Medcom.id / Marcheilla Ariesta)

4 Dekade Berlalu, Apakah UNCLOS Masih Sesuai Tujuannya?

Marcheilla Ariesta • 29 November 2022 13:08
Jakarta: Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia harus menjadikan laut sebagai faktor yang mempersatukan. Hal ini senada dengan dasar United Nations Conventions on the Law of the Sea (UNCLOS) pada 1982 silam.
 
Menurut Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, mengadopsi cara pandang yang tepat terhadap laut sangat penting.
 
"Pola pikir kerja sama di luar harus mengalahkan kompetisi dan persaingan," ujarnya dalam pidato sambutan ASEAN Regional Conference on the 40th Anniversary of The 1982 UNCLOS.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dan empat dekade lalu, UNCLOS meletakkan dasar untuk memperkuat paradigma ini," lanjut Retno di Jakarta, Selasa, 29 November 2022.
 
Retno menuturkan, UNCLOS memberikan kerangka kerja bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara untuk bekerja sama dalam berbagai masalah. "Mulai dari perlindungan hukum laut hingga pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan," ungkapnya.
 
UNCLOS, kata Retno, juga memungkinkan negara-negara di kawasan itu secara damai mengakhiri sengketa maritim yang telah berlangsung lama. Retno menegaskan, klaim hak maritim dan hak berdaulat sekarang diatur dengan jelas oleh UNCLOS.
 
Retno mengamini banyak yang bertanya apakah UNCLOS masih tetap sesuai dengan tujuannya empat dekade lalu. Ia mengakui ada celah yang tampak dalam UNCLOS, terlebih untuk mengatasi berbagai masalah di perairan internasional.
 
"Memang, ada celah yang tampak dalam UNCLOS untuk mengatasi, evolusi kejahatan transnasional di laut, kemajuan teknologi dalam eksplorasi dasar laut, perlindungan hak asasi manusia dan tenaga kerja bagi pekerja di laut, perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut serta dampaknya terhadap garis dasar maritim," ungkap Retno.
 
Sementara itu, sambung dia, lautan menjadi ajang persaingan kekuatan besar saat ini. Penumpukan angkatan laut dan persaingan militer malah dapat meningkatkan risiko kecelakaan. "Bahkan eskalasi menjadi konflik terbuka," sambungnya.
 
Ketegangan geopolitik inilah yang meningkat di ranah maritim, membuat pergerakan aturan UNCLOS menjadi lebih menantang. Meski demikian, menurutnya, UNCLOS masih tetap sesuai dengan tujuannya.
 
"Inilah tantangan yang harus kita hadapi bersama untuk memastikan laut kita tetap menjadi 'Lautan Damai dan Sejahtera'," pungkasnya.
 
Baca:  UNCLOS Penting untuk Atur Sengketa Laut China Selatan
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Medcom.id
 
(WIL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif