Aung San Suu Kyi dituntut lakukan pelanggaran impor alat komunikasi dan korupsi. Foto: AFP
Aung San Suu Kyi dituntut lakukan pelanggaran impor alat komunikasi dan korupsi. Foto: AFP

Militer Myanmar Akan Adili Aung San Suu Kyi Terkait Korupsi

Internasional Myanmar aung san suu kyi Kudeta Myanmar Pengadilan Aung San Suu Kyi
Marcheilla Ariesta • 17 September 2021 17:09
Yangon: Junta Myanmar akan mengadili pemimpin yang dikudeta, Aung San Suu Kyi karena korupsi. Kasus ini kembali menambah sejumlah kasus yang sedang berlangsung.
 
Dengan ini, peraih Nobel Perdamaian itu bisa dipenjara selama beberapa dekade jika dinyatakan bersalah.
 
Baca: Aung San Suu Kyi Hadir di Pengadilan Walau Masih Sakit.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dilansir dari AFP, Jumat, 17 September 2021, Suu Kyi berada di bawah tahanan rumah sejak dia dan pemerintah terpilih digulingkan oleh militer dalam kudeta Februari yang memicu pemberontakan massal.
 
Perempuan 76 tahun itu saat ini diadili karena melanggar pembatasan virus korona selama jajak pendapat yang dimenangkan partainya tahun lalu, mengimpor walkie talkie dan beberapa tuduhan lainnya.
 
"Aung San Suu Kyi akan menghadapi persidangan baru atas empat tuduhan korupsi yang dimulai pada 1 Oktober di Ibu Kota Naypyidaw," tutur pengacaranya, Khin Maung Zaw.
 
Setiap dakwaan korupsi diancam hukuman maksimal 15 tahun.
 
Persidangan yang sedang berlangsung ditunda selama dua bulan karena Myanmar bergulat dengan lonjakan virus korona dan baru dilanjutkan minggu ini. Wartawan telah dilarang dari semua proses sejauh ini.
 
Junta juga mendakwanya karena menerima pembayaran emas secara ilegal dan melanggar undang-undang kerahasiaan era kolonial. Namun, ini belum dibawa ke pengadilan.
 
Pemerintah Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) digulingkan oleh militer karena dugaan kecurangan pemilih selama pemilihan 2020. Mereka berhasil mengalahkan partai politik yang bersekutu dengan para jenderal.
 
Pemberontakan nasional dan kerusuhan yang sedang berlangsung telah melumpuhkan perekonomian negara Asia Tenggara.
 
Menurut kelompok pemantau lokal, lebih dari 1.100 orang tewas dan lebih dari 8.000 ditangkap. Namun, militer mengatakan jumlah korban jauh lebih rendah dari itu.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif