Wamenlu RI Mahendra Siregar pada penutupan ASEAN Creative Economy Business Forum (ACEBF). Foto: Dok.Kemenlu RI
Wamenlu RI Mahendra Siregar pada penutupan ASEAN Creative Economy Business Forum (ACEBF). Foto: Dok.Kemenlu RI

Kemajuan Ekonomi Kreatif di Kawasan ASEAN Perlu Diperkuat Digitalisasi dan Kolaborasi

Internasional kemenlu Ekonomi Kreatif asean
Fajar Nugraha • 25 November 2021 19:36
Bali: Rangkaian ASEAN Creative Economy Business Forum (ACEBF) yang diselenggarakan Kemenlu RI sejak 16 November lalu telah berakhir melalui penutupan oleh Wamenlu RI Mahendra Siregar pada 23 November 2021.
 
Penutupan ACEBF dilakukan pada kesempatan ASEAN Final Pitch Startup Challenge 2021 yang diselenggarakan oleh ASEAN Business Advisory Council (ABAC) Indonesia bekerja sama dengan Kemenlu RI dan menjadi bagian dari rangkaian ACEBF.
 
Dalam pidatonya, Wamenlu Mahendra Siregar menekankan tentang pentingnya digitalisasi yang inklusif guna mendukung inovasi dan entrepreneurship, investasi pada human capital, dan membentuk lingkungan yang mendukung khususnya untuk kolaborasi antar startup dan public-private partnership.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penyelenggaraan ACEBF merupakan wujud kontribusi Indonesia terhadap strategi pemulihan ekonomi komprehensif ASEAN. Dengan mengusung tema “Enhancing Digital Creative Economy: A Step Towards Regional Economic Recovery”. ACEBF meliputi berbagai program kegiatan yaitu ASEAN Virtual Showcase of Products and Services, Diskusi Panel, ASEAN Regional Workshop on Creative Economy (ARWCE), Creative Economy Excursion, Virtual Business Matching, Workshop bagi pelaku UMKM ASEAN melalui kerja sama dengan US-ASEAN Business Council, dan ASEAN Startup Challenge 2021.
 
Diskusi Panel ACEBF secara hybrid diikuti oleh kurang lebih 300 peserta dan menghadirkan pembicara kunci Menparekraf RI serta narasumber para pakar ekonomi kreatif (ekraf) dan ekonomi digital dari ASEAN, negara mitra, organisasi internasional dan sektor swasta seperti Netflix, WIPO, Malaysia Digital Economy Corporation, Korea Institute for International Economic Policy (KIEP), dan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA).
 
Diskusi Panel mengupas topik tentang potensi ekraf digital, dukungan kebijakan bagi pertumbuhan ekraf, pembangunan ekosistem ekraf yang berkelanjutan di ASEAN, kontribusi ekraf bagi SDGs, dan pemanfaatan inovasi digital bagi pemajuan ekraf. 
 
Sementara itu ASEAN Virtual Showcase diikuti oleh 38 peserta dan Business Matching oleh 26 startups dari enam negara ASEAN (Brunei Darussalam, Indonesia, Laos, Malaysia, Thailand, dan Viet Nam) dan negara mitra dialog ASEAN (Tiongkok) yang bergerak di sektor ekraf antara lain kriya, animation dan games, multimedia, film, fesyen, dan pengembangan aplikasi. Business Matching berhasil menjembatani terjalinnya jejaring bisnis, potensi kemitraan dan co-creation antar startups di bidang produksi bersama film berbasis animasi; pembuatan komik anak-anak berbasis digital; serta kerja sama di bidang riset, inkubasi dan inovasi konten digital.
 
Adapun lima startup pemenang ASEAN Final Pitch Startup Challenge 2021 adalah Tumbasin, GlobalTrack, Logisly, Flux, Alga Aqutech. Mereka bergerak pada sektor Agri Tech, Logistic Provider, dan AI Tech Provider. 
 
Sebagai bagian dari rangkaian ACBEF, telah terselenggara pula 2nd ASEAN Regional Workshop on Creative Economy (ARWCE) pada 19 November 2021. Workshop yang diselenggarakan secara hybrid ini dihadiri oleh sekitar 140 orang perwakilan dari negara-negara anggota ASEAN dari kalangan pemerintah, asosiasi bisnis dan entitas ekonomi kreatif dari Brunei Darussalam, Kamboja, Filipina, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, dan Thailand. Pertemuan ini telah menghasilkan rekomendasi dan potensi kolaborasi di kawasan ASEAN baik jangka pendek maupun jangka panjang untuk pemajuan ekonomi kreatif di kawasan.
 
Secara keseluruhan, ACEBF sukses menjadi wadah dalam mengarusutamakan ekraf sebagai sektor yang berperan penting bagi pertumbuhan dan ketahanan ekonomi kawasan di masa dan pasca pandemi.
 
ACEBF menggarisbawahi lima elemen pokok sebagai kunci bagi pemajuan sektor ekraf di ASEAN, yaitu: kolaborasi yang melibatkan pemangku kepentingan ekraf secara luas mulai dari kreator, pemerintah, akademisi, industri, hingga konsumen; kemudian pemanfaatan digitalisasi yang inklusif guna mendukung inovasi dan entrepreneurship; Disertai dengandukungan kebijakan bagi pembangunan ekosistem ekraf yang berkelanjutan di ASEAN.
 
Termasuk juga dengan pemahaman yang baik terhadap keamanan data dan perlindungan HAKI; dan co-creation dan kemitraan antar pelaku startup ekraf ASEAN guna menghasilkan karya yang kompetitif di kancah global. 
 
Hasil ACEBF akan diusung Indonesia dalam keketuaannya di G20 tahun 2022 dan ASEAN tahun 2023.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif